RADAR PALU– Indonesia kembali kehilangan tokoh nasional. Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Try Sutrisno, meninggal dunia pada Senin (2/3/2026) pukul 06.58 WIB di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.
Kabar wafatnya mantan orang nomor dua di Indonesia itu dikonfirmasi oleh mantan Kepala RSPAD, Letjen TNI (Purn) Albertus Budi Sulistya.
“Benar,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi awak media, Senin pagi.
Disemayamkan di Menteng
Berdasarkan informasi yang dihimpun, jenazah almarhum akan dimandikan terlebih dahulu di rumah duka RSPAD sebelum dibawa ke kediaman keluarga di Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng, Jakarta Pusat.
Di rumah duka, keluarga, kerabat, hingga para tokoh nasional dijadwalkan memberikan penghormatan terakhir. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi terkait lokasi pemakaman. Namun sejumlah pejabat negara disebut akan hadir untuk memberikan penghormatan.
Dari Prajurit hingga Wakil Presiden
Lahir pada 15 November 1935, Try Sutrisno dikenal sebagai sosok militer dengan karier panjang di tubuh TNI. Ia pernah menjabat Panglima ABRI dan Kepala Staf Angkatan Darat sebelum dipercaya menjadi Wakil Presiden RI periode 1993–1998.
Saat itu, ia mendampingi Presiden Soeharto dalam pemerintahan era Orde Baru. Di masa tersebut, Try dikenal sebagai figur tegas dan disiplin, dengan fokus pada isu pertahanan serta stabilitas nasional.
Jejak pengabdiannya tak lepas dari dinamika politik Indonesia pada dekade 1990-an. Perannya dalam lingkar kekuasaan Orde Baru menempatkannya sebagai salah satu tokoh sentral dalam sejarah politik modern Indonesia.
Ucapan Duka Mengalir
Sejumlah tokoh nasional, pejabat pemerintah, hingga kalangan purnawirawan TNI menyampaikan belasungkawa. Media sosial dipenuhi doa dan ungkapan penghormatan atas wafatnya Try Sutrisno.
Kepergian mantan Wakil Presiden ini menambah daftar tokoh bangsa yang berpulang pada 2026, sekaligus menjadi momen refleksi atas perjalanan panjang kepemimpinan nasional.
Warisan Sejarah
Sebagai Wakil Presiden ke-6 RI, Try Sutrisno meninggalkan warisan sejarah yang erat dengan dinamika politik dan keamanan nasional pada masanya. Kiprahnya di militer dan pemerintahan menjadi bagian penting dalam catatan perjalanan bangsa.
Indonesia berduka. Selamat jalan, Jenderal. Pengabdian dan jasa-jasamu akan tercatat dalam sejarah negeri ini.***
Editor : Muhammad Awaludin