Awalnya Suka Manjat Meja, Diundang Khusus CIO ke Jakarta
Di sebuah ruangan mewah, di bawah sorot lampu, beraroma kapur, denting bola biliar saling beradu dan menggelinding deras. Masuk…hole. Sontak, sorak khalayak dunia fokus tertuju pada seorang bocah mungil, berjinjit di atas kursi merah. Ya…, itulah Fajar Alamri (5).
Ahmad Hamdani, Tolitoli
Ajang Carabao International Open (CIO) 2026, turnamen biliar yang digelar di PIK 2, Jakarta, pada 4-8 Februari 2026 lalu, bukanlah ajang sembarangan.
Diikuti 341 peserta dari 31 negara, ajang ini mencatatkan rekor MURI sebagai turnamen biliar multikategori terbesar. Nah, Fajar salah satu bocah yang mampu mencatatkan namanya sebagai salah seorang peserta favorit di ajang tersebut.
Pebiliar cilik Tolitoli ini baru saja tampil memukau di atas meja biliar pentas dunia. Tubuhnya yang mungil nyaris tenggelam di balik meja hijau yang lebar. Namun, begitu jemari kecilnya mengunci stik biliar, suasana seketika berubah.
Tak ada lagi tawa receh untuk bocah TK yang manja itu, yang ada hanyalah tatapan tajam, napas yang teratur, sedikit nervous, dan sebuah bidikan yang presisi.
Terakhir, hore, gemuruh tepuk tangan atas hasilnya. “Luar biasa,” puji para penonton.
Di usianya yang baru menginjak 5 tahun, Fajar telah melakukan apa yang bagi banyak orang dewasa hanyalah mimpi, menembus panggung biliar internasional. Bakat Fajar memang tidak lahir dari akademi mahal, hanya lahir dari rasa penasaran yang tumbuh secara organik di rumahnya.
Jafar Alamri, sang ayah, mengenang masa-masa saat Fajar baru berusia tiga tahun. Saat anak-anak seusianya sibuk dengan gawai atau mainan plastik, Fajar justru tertarik pada bola-bola keras di atas meja biliar.
"Awalnya saya hanya melihat dia suka manjat-manjat meja biliar gitu. Yah naik ke atas, lalu mulai bidik-bidik bola sendiri, keterusan sampai sekarang," kenang Jafar.
Baca Juga: Setahun Anwar–Reny: Antara Tekanan Anggaran dan Target Besar Sulteng
Namun, yang membuat Jafar tertegun bukan sekadar hobi sang anak, melainkan akurasinya. "Saya perhatikan, meskipun dia masih sangat kecil, bidikannya sudah lurus. Dia punya insting yang tidak biasa," pujinya.
Meski begitu, latihan yang terstruktur baru dimulai sekitar pertengahan tahun 2025. Hanya dalam waktu 5 hingga 6 bulan fokus berlatih, Fajar menunjukkan progres yang melampaui usianya.
Keajaiban kecil dari Tolitoli ini akhirnya terdengar hingga ke telinga penyelenggara Carabao International Open (CIO) 2026.
Menariknya, Fajar hadir bukan melalui pendaftaran umum. Penyelenggara mengundangnya secara khusus setelah melihat video ketangkasannya yang viral. Di sana, Fajar menjadi peserta termuda, bersaing di tengah batas usia maksimal 17 tahun untuk kategori junior.
"Begitu main, dia langsung masuk ke stage 2 atau babak utama," ujar Jafar.
Walaupun perjalanannya terhenti karena sistem single elimination (gugur langsung), kehadiran Fajar tetap menjadi magnet. Ia membuktikan bahwa ukuran tubuh bukanlah penghalang untuk bersaing di meja hijau yang sama dengan pemain-pemain mancanegara.
Selain gemilang di Jakarta, Fajar juga menuai pujian para pebiliar Sulteng, di Palu. Bahkan tokoh penting Andi Raharja Limbunan, ketua umum POBSI Sulteng juga Direktur Marketing CV Akai Jaya Motor, harus mengakui performa gemilang Fajar saat beraksi di ajang ekshibisi Club Biliar Breakshoot, Senin (16/2) malam.
Penonton yang memadati lokasi dibuat terpukau. Fajar bergerak lincah di sekeliling meja, menghitung cepat sudut shoot, dan mengeksekusi bola dengan tenang. Tak lama, hanya sekitar 15 menit, Fajar menyudahi perlawanan sang Ketua Umum dengan skor telak 2-0.
"Pertama-tama saya berikan apresiasi kepada Fajar. Ini luar biasa. Di usia 5 tahun, ia sudah memiliki talenta hebat dan dikenal luas di klub-klub biliar tanah air," puji Andi Raharja Limbunan usai laga.
Andi juga mengucapkan terima kasih kepada Carabao Pro Team yang telah mewadahi dan membina Fajar secara profesional.
Meski anaknya kini menjadi bintang baru, Jafar Alamri tetap memijakkan kaki di bumi. Baginya, Fajar tetaplah seorang anak kecil yang sedang belajar. Target utamanya saat ini bukanlah tumpukan piala, melainkan pembentukan karakter.
"Ke depan, saya berencana terus mengikutkan Fajar dalam berbagai kejuaraan. Tapi fokus utamanya bukan semata prestasi, melainkan pembentukan mental. Buat saya, melatih mental itu paling penting. Mental itu mahal," tegas Jafar dengan nada filosofis.
Baca Juga: Dari 115 Peserta, 72 Dinyatakan Lulus Seleksi Caba PK TNI AD 2026
Untuk diketahui, munculnya bibit unggul seperti Fajar memberikan angin segar bagi POBSI Sulawesi Tengah. Andi Raharja Limbunan menegaskan bahwa pihaknya sedang mempersiapkan atlet-atlet berstandar nasional untuk menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 mendatang.(***)
Editor : Muchsin Siradjudin