Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Sosialisasi 4 Pilar MPR RI Bersama Penata Busana Kota Palu: Menjahit Pancasila dalam Ekonomi Kreatif

Muchsin Siradjudin • Selasa, 17 Februari 2026 | 11:37 WIB
MEMBLUDAK: Peserta sosialisasi empat pilar H. Muhidin Said, dari elemen penata busana Kota Palu membludak.(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).
MEMBLUDAK: Peserta sosialisasi empat pilar H. Muhidin Said, dari elemen penata busana Kota Palu membludak.(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).

RADAR PALU - Kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI yang dilaksanakan oleh Anggota MPR/DPR RI, H. Muhidin M. Said, berlangsung hangat dan penuh antusiasme di Gedung Putih Tanaris, Kota Palu, Senin (16/02/2026).

Kegiatan ini diikuti oleh para penata busana dan penjahit se-Kota Palu yang selama ini menjadi bagian penting dari denyut ekonomi kreatif daerah.

Dalam pemaparannya, H. Muhidin M. Said menegaskan bahwa Pancasila tidak boleh berhenti sebagai simbol yang terpajang di dinding kelas atau gedung pemerintahan. Pancasila, menurutnya, harus hidup dalam perilaku sehari-hari masyarakat.

“Pancasila bukan sekadar hafalan. Ia harus menjadi tindakan. Ia hadir dalam cara kita bekerja, berdagang, berinteraksi, bahkan dalam cara kita bermedia sosial,” tegasnya di hadapan para peserta.

Muhidin menjelaskan bahwa esensi lima sila Pancasila terletak pada praktik nyata dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Pada dimensi Ketuhanan, ia menekankan pentingnya integritas dan kejujuran dalam bekerja.

Pada dimensi Kemanusiaan, ia mengingatkan agar masyarakat tetap menjunjung empati dan menolak segala bentuk diskriminasi. Pada dimensi Persatuan, ia mengajak peserta untuk tidak mudah terprovokasi hoaks yang dapat memecah belah.

Lebih jauh, ia menyampaikan bahwa di era kecerdasan buatan dan globalisasi tanpa batas, Pancasila harus menjadi filter nilai agar bangsa Indonesia tidak kehilangan jati diri. Gotong royong dan musyawarah, menurutnya, harus tetap menjadi ruh demokrasi dan ekonomi nasional.

“Jika setiap kebijakan berlandaskan keadilan sosial dan setiap perilaku masyarakat berlandaskan kemanusiaan, maka Indonesia bukan hanya maju secara ekonomi, tetapi juga mulia secara peradaban,” ujarnya.

Pada sesi dialog, sejumlah peserta menyampaikan persoalan riil yang mereka hadapi, antara lain mahalnya harga gas serta kesulitan mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR). Aspirasi tersebut menjadi catatan penting untuk ditindaklanjuti dalam fungsi pengawasan dan legislasi.

Sementara itu, Salihudin selaku Tenaga Ahli Anggota DPR RI memaparkan materi bertajuk “Menjahit Pancasila dalam Ekonomi Kreatif Penata Busana Kota Palu.” Dalam paparannya, ia menekankan bahwa 4 Pilar bukan hanya konsep kenegaraan di tingkat pusat, melainkan menyentuh langsung praktik ekonomi sehari-hari para penjahit.

Menurutnya, setiap potongan kain dan setiap transaksi adalah bagian dari praktik bernegara. Ia menguraikan bagaimana setiap sila Pancasila dapat diterapkan dalam usaha jahit: mulai dari kejujuran dalam kualitas bahan, perlakuan adil terhadap karyawan, pentingnya persatuan sesama penjahit agar tidak saling menjatuhkan harga, hingga musyawarah dalam menentukan standar bersama.

Salihudin juga menekankan relevansi Pasal 33 UUD 1945 tentang asas kekeluargaan dalam ekonomi. Ia mendorong pembentukan koperasi bahan baku, koperasi simpan pinjam, hingga platform pemasaran bersama agar para penjahit memiliki daya tawar yang lebih kuat.

“Bersama lebih kuat daripada berjalan sendiri. Ekonomi Pancasila bukan soal teori, tapi soal kolaborasi konkret,” jelasnya.

Dalam konteks Bhinneka Tunggal Ika, ia mengajak penata busana menjadikan kekayaan motif dan budaya Sulawesi Tengah sebagai identitas fashion lokal.

Menurutnya, dari kain dan desain, penjahit dapat bercerita tentang jati diri daerah sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.

Kegiatan berlangsung dinamis dan interaktif. Sebagai penutup, H. Muhidin M. Said memberikan kuis kepada peserta yang disambut meriah dan penuh semangat.

Suasana hangat tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai kebangsaan dapat disampaikan secara dialogis, membumi, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.(***)

 

 

Editor : Muchsin Siradjudin
#Denyut ekonomi kreatif #Fungsi pengawasan dan legislasi #Masyarakat cinta NKRI #Anggota MPR RI memaparkan materi empat pilar