Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Dorong Keadilan Gender di Indonesia, GAC dan Solidaritas Perempuan Luncurkan Proyek SWOP

Mugni Supardi • Kamis, 5 Februari 2026 | 18:50 WIB
DORONG KEADILAN GENDER : Peluncuran proyek Strengthening Women’s Political Agenda for Gender Justice (SWOP) oleh Global Affairs Canada (GAC) dan Solidaritas Perempuan (SP).
DORONG KEADILAN GENDER : Peluncuran proyek Strengthening Women’s Political Agenda for Gender Justice (SWOP) oleh Global Affairs Canada (GAC) dan Solidaritas Perempuan (SP).

RADAR PALU - Proyek Strengthening Women’s Political Agenda for Gender Justice (SWOP) resmi diluncurkan dengan melibatkan dua organisasi lintas negara untuk saling berkolaborasi, yakni Global Affairs Canada (GAC) dan Solidaritas Perempuan (SP).

SWOP adalah sebuah inisiatif dan kolaborasi jangka panjang periode 2025–2030 untuk memperkuat kepemimpinan, partisipasi politik, dan pengaruh perempuan akar rumput dalam mendorong keadilan gender di Indonesia.

Proyek ini diluncurkan di tengah masih kuatnya ketimpangan gender dan marjinalisasi perempuan. Hal ini terjadi meskipun Indonesia telah memiliki berbagai kerangka hukum dan kebijakan yang secara formal mengakui hak-hak perempuan, seperti Undang-Undang tentang CEDAW, Undang-Undang Desa, dan Instruksi Presiden tentang Pengarusutamaan Gender.

Ketua Badan Eksekutif Nasional Solidaritas Perempuan Armayanti Sanusi mengatakan, dalam praktiknya keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan di tingkat desa, daerah, hingga nasional masih bersifat simbolik dan belum bermakna. 

Pengalaman, pengetahuan, serta rekomendasi perempuan—khususnya perempuan akar rumput—kerap diabaikan dalam proses pembangunan. 

Di tengah kondisi tersebut kata Armayanti, perempuan sesungguhnya memegang peran penting dalam menjaga keberlanjutan penghidupan dan lingkungan.

Perempuan petani, nelayan, perempuan adat, buruh, dan perempuan migran berkontribusi besar dalam produksi pangan, pengelolaan sumber daya alam, serta upaya mitigasi dan adaptasi krisis iklim.

Namun, kontribusi ini masih belum diakui dan dilindungi secara adil oleh kebijakan negara maupun praktik pembangunan. 

“SWOP hadir sebagai respons atas ketidakadilan struktural tersebut, dengan tujuan memastikan perempuan tidak hanya hadir dalam ruang pengambilan keputusan, tetapi memiliki ruang, suara, dan pengaruh nyata dalam menentukan kebijakan yang berdampak langsung pada hidup, tubuh, dan ruang hidup mereka,” ujar Armayanti.

Pemerintah Kanada juga sebelumnya telah memberikan kontribusi kuat dalam memajukan keadilan gender di Indonesia.

SWOP melanjutkan capaian proyek sebelumnya Be at the Forefront for Women’s Empowerment (BFEM), serta selaras dengan Inisiatif Women’s Voice and Leadership (WVL) Kanada, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025–2045, dan SDGs Tujuan 5 tentang Kesetaraan Gender. 

Melalui SWOP, Pemerintah Kanada dan Solidaritas Perempuan telah membangun komitmen kuat untuk memperkuat perempuan pemimpin dan mendorong perubahan struktural menuju masyarakat yang adil, setara, dan bebas dari kekerasan serta diskriminasi. 

“SWOP akan menjadi jembatan bagi perempuan akar rumput untuk membangun kolaborasi dan aliansi dengan organisasi perempuan dan gerakan sosial yang lebih luas, baik di tingkat lokal, regional, nasional, maupun internasional, guna memperkuat suara kolektif perempuan dalam mendorong perubahan kebijakan sosial, ekonomi, politik, dan budaya,” tegas Y.M. Jess Dutton selaku Duta Besar Kanada untuk Indonesia dan Timor-Leste. 

Proyek SWOP sendiri akan dijalankan melalui 12 komunitas Solidaritas Perempuan di 105 desa di 10 provinsi. Diantaranya Aceh, Sumatera Selatan, Lampung, DI Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. 

Selama periode pelaksanaan, proyek ini akan menjangkau secara langsung lebih dari 3.900 perempuan, termasuk perempuan pemimpin komunitas, perempuan dan anak perempuan di 105 desa, serta anggota dan aktivis Solidaritas Perempuan di tingkat komunitas dan nasional. 

Selain itu, sekitar 20.000 penerima manfaat tidak langsung dari unsur negara dan non-negara—seperti organisasi masyarakat sipil, media, akademisi, tokoh publik, influencer, dan kelompok muda—akan terlibat dalam penguatan agenda politik perempuan dan advokasi kebijakan keadilan gender. 

Penerima manfaat utama proyek ini meliputi perempuan petani, perempuan nelayan, perempuan adat, buruh dan pekerja informal, perempuan migran, penyintas kekerasan, penyandang disabilitas, serta kelompok masyarakat rentan lainnya yang selama ini mengalami diskriminasi berlapis dan keterpinggiran struktural.(*)

Editor : Mugni Supardi
#partisipasi politik perempuan #Solidaritas Perempuan #Keadilan gender #keadilan gender di Indonesia #agenda politik perempuan #perempuan adat dan migran #kesetaraan gender Indonesia #SDGs tujuan 5 #perempuan petani dan nelayan #kepemimpinan perempuan akar rumput #Global Affairs Canada #Proyek SWOP #pemberdayaan perempuan