RADAR PALU - Retret Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) se-Indonesia digelar di Bogor, Jawa Barat, dengan menghadirkan sejumlah pejabat lintas kementerian untuk memperkuat kapasitas wartawan menghadapi disrupsi informasi.
Kegiatan ini diikuti wartawan dari berbagai daerah, termasuk Sulawesi Tengah (Central Sulawesi), sebagai bagian dari penguatan profesionalisme pers dan ketahanan informasi nasional.
Retret PWI digelar di Pusat Pendidikan Kompetensi Bela Negara, Desa Cibodas, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jumat (30/1/2026).
Kegiatan ini difasilitasi Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan menghadirkan pejabat lintas kementerian sebagai pemateri.
Sejumlah narasumber hadir, di antaranya Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, perwakilan Kementerian Dalam Negeri Akbar Ali, serta Menteri Pertanian Andi Amran Sulaeman.
Retret ini menjadi bagian dari penguatan kapasitas wartawan di tengah tantangan kebangsaan, termasuk maraknya hoaks, banjir informasi, dan polarisasi opini publik.
Selain materi kebijakan, peserta juga mendapat pelatihan bela negara dari pelatih senior militer berpangkat Kolonel dan Letnan Kolonel.
Pelatihan mencakup pembinaan fisik, mental, serta kemampuan bertahan dalam tekanan, yang relevan dengan dinamika kerja jurnalistik di lapangan.
Sesuai agenda Menteri Pertahanan Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin, peserta retret dijadwalkan menerima penghargaan khusus di Markas Komando Kopassus, Serang, Banten.
Dalam paparannya, Wamen Komdigi Nezar Patria menekankan transformasi digital membawa tantangan serius bagi dunia jurnalistik.
Ia menyoroti banjir informasi, manipulasi data, hingga penyebaran berita palsu yang dapat merusak kepercayaan publik.
“Persatuan dan profesionalisme menjadi kunci utama menghadapi disrupsi informasi. Wartawan harus berdiri di atas integritas dan etika,” ujar Nezar.
Nezar juga menegaskan posisi strategis PWI sebagai organisasi pers tertua di Indonesia dalam memperkuat ekosistem pers nasional.
Menurutnya, kredibilitas wartawan menjadi pembeda utama antara berita faktual dan berita palsu. Penguatan kapasitas wartawan menjadi agenda nasional seiring meningkatnya tantangan disinformasi di era digital, yang menuntut pers tetap profesional, independen, dan berwawasan kebangsaan.***
Editor : Muhammad Awaludin