Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Mengapa Ekoteologi Penting? Menag Ungkap Alasan Alam Harus Kembali Disakralkan

Muhammad Awaludin • Rabu, 28 Januari 2026 | 07:00 WIB
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan pandangan tentang pentingnya ekoteologi dalam Muzakarah di Masjid Istiqlal.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan pandangan tentang pentingnya ekoteologi dalam Muzakarah di Masjid Istiqlal.

RADAR PALU– Bencana alam yang semakin sering terjadi bukan sekadar persoalan cuaca ekstrem atau perubahan iklim semata. Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai, ada persoalan yang lebih mendasar: cara manusia memandang alam yang kian kehilangan nilai kesuciannya.

Pandangan tersebut disampaikan Menag dalam Muzakarah bertema “Resolusi Umat: Penanggulangan Bencana dengan Ekoteologi” di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (27/1/2026). Dalam forum itu, Menag menjelaskan mengapa ekoteologi menjadi penting di tengah krisis lingkungan yang terus memburuk. 

 

 

 

Menurut Menag, selama ini alam kerap diposisikan hanya sebagai objek eksploitasi ekonomi. Cara pandang ini lahir dari pemahaman teologi yang terlalu menempatkan manusia sebagai pusat segalanya, sementara alam diperlakukan sekadar sebagai alat pemuas kebutuhan.

“Ketika alam tidak lagi dipandang suci, manusia merasa bebas merusaknya. Dari situlah bencana mulai menjadi siklus,” ujar Menag. 

Ekoteologi, lanjut Menag, hadir untuk mengembalikan kesadaran spiritual manusia terhadap alam. Dalam perspektif ini, alam bukan benda mati, melainkan bagian dari tanda-tanda kebesaran Tuhan yang memiliki nilai sakral.

“Air, hutan, gunung, dan laut bukan hanya sumber daya, tetapi amanah. Jika amanah ini dikhianati, dampaknya kembali kepada manusia sendiri,” tegasnya. 

Menag menjelaskan, bahasa agama memiliki kekuatan yang tidak dimiliki pendekatan lain. Regulasi, sanksi hukum, dan kebijakan teknis sering kali gagal mengubah perilaku jika tidak dibarengi kesadaran batin.

“Bahasa agama menyentuh nurani. Ia menumbuhkan rasa malu dan tanggung jawab spiritual ketika manusia merusak alam,” katanya.

Karena itu, Menag mendorong konsep re-sacralisation of nature, atau penyucian kembali alam dalam kesadaran umat beragama. Dengan menyakralkan alam, manusia diharapkan lebih berhati-hati, beretika, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi dengan lingkungan.

Menurut Menag, meningkatnya bencana alam sejatinya dapat dibaca sebagai peringatan moral. Alam yang rusak bukan hanya memicu kerugian ekologis, tetapi juga krisis kemanusiaan, mulai dari korban jiwa, kemiskinan baru, hingga konflik sosial.

“Bencana bukan semata hukuman, tapi alarm. Alarm agar manusia berhenti bersikap arogan terhadap alam,” ujarnya dalam kegiatan yang dihadiri perwakilan BNPB, BMKG, akademisi, hingga pegiat lingkungan. 

Dalam konteks ini, tempat ibadah seperti masjid dinilai memiliki peran strategis. Menag menegaskan, masjid tidak hanya menjadi ruang ritual, tetapi juga pusat edukasi dan kesadaran ekologis umat.

“Pada masa Rasulullah, masjid adalah pusat kehidupan. Dari sanalah nilai-nilai kepedulian sosial dan lingkungan ditanamkan,” ungkapnya.

Melalui ekoteologi, Menag berharap tumbuh gerakan kolektif umat beragama yang menjadikan merawat alam sebagai bagian dari iman, bukan sekadar kampanye lingkungan sesaat.

“Jika alam kembali disakralkan, manusia akan lebih bijak. Dari situ, perubahan perilaku, kebijakan, dan budaya akan mengikuti,” pungkasnya.

Muzakarah ini menegaskan bahwa menghadapi krisis lingkungan dan bencana alam tidak cukup dengan teknologi dan kebijakan semata. Transformasi cara pandang spiritual manusia terhadap alam menjadi kunci utama keberlanjutan kehidupan di masa depan.***

Editor : Muhammad Awaludin
#Menag Nasaruddin Umar #Radar Palu #krisis lingkungan #kesadaran ekologis #Ekoteologi #Bencana Alam