Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Gunung Bulusaraung yang Sunyi, Kini Jadi Pusat Perhatian dan Saksi Tragedi Pesawat ATR 42-500

Talib • Minggu, 18 Januari 2026 | 20:28 WIB

Gunung Bulusaraung di Pangkep, Sulawesi Selatan, yang selama ini sunyi dan sakral, kini menjadi lokasi pencarian pesawat ATR rute Yogyakarta–Makassar.
Gunung Bulusaraung di Pangkep, Sulawesi Selatan, yang selama ini sunyi dan sakral, kini menjadi lokasi pencarian pesawat ATR rute Yogyakarta–Makassar.

RADAR PALU - Gunung Bulusaraung Kabupaten Pangkep (bukan Gowa-red), Sulawesi Selatan, selama ini dikenal masyarakat setempat sebagai gunung sunyi yang sarat makna.

Ia bukan destinasi wisata massal, bukan pula jalur pendakian populer. Gunung ini lebih sering hadir sebagai latar kehidupan—diam, jauh, dan jarang disinggahi.
Namun dalam beberapa hari terakhir, nama Gunung Bulusaraung mendadak menjadi perhatian nasional.

Hal itu terjadi setelah ditemukannya serpihan pesawat ATR rute Yogyakarta–Makassar yang sebelumnya dilaporkan hilang kontak dengan Air Traffic Control (ATC) pada Sabtu (17/1).

Baca Juga: Bupati Delis Buka Raker POUK VIII Sulawesi Selatan dan Tenggara

Pada Minggu pagi (18/2), tim gabungan TNI, Polri, Basarnas, serta relawan lokal mengonfirmasi temuan serpihan pesawat di lereng dan area hutan Gunung Bulusaraung.

Sejak saat itu, gunung yang selama puluhan tahun hanya dikenal nelayan dan warga adat ini berubah menjadi pusat pemberitaan, pencarian, dan doa dari berbagai penjuru negeri.

Bagi masyarakat Pangkep, Bulusaraung bukan sekadar bentang alam. Dalam bahasa Makassar, bulu berarti gunung, sementara saraung bermakna sarung atau penutup. Nama tersebut dimaknai sebagai simbol perlindungan—gunung yang menjaga keseimbangan alam dan kehidupan di sekitarnya.

Baca Juga: Pasar Ramadan 2026 Dipusatkan di Lapangan Mirqan Bukit Halimun

“Sejak dulu orang tua kami bilang, gunung ini tidak boleh diperlakukan sembarangan,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.

Dalam kepercayaan lokal, Bulusaraung diyakini sebagai tempat bersemayamnya roh leluhur dan penjaga alam. Pada masa lalu, beberapa bagian gunung kerap dijadikan lokasi ritual adat, persembahan alam, serta doa keselamatan, terutama menjelang musim berlayar.

Kini, keyakinan itu kembali diingat. Bukan melalui upacara adat, melainkan lewat keheningan panjang dan rasa duka yang menyelimuti kawasan gunung.

Baca Juga: Polsek Lore Utara Layani Pengobatan dan Sembako Gratis Pada Warga Kurang Mampu

Selama bertahun-tahun, puncak Gunung Bulusaraung berfungsi sebagai penanda navigasi alami bagi nelayan tradisional Pangkep. Dari laut, siluetnya membantu menentukan arah pulang.

Ironisnya, gunung yang selama ini menjadi penunjuk jalan itu kini justru menjadi titik koordinat terakhir sebuah penerbangan. Jalur yang dulu hanya dilewati petani dan pemburu lokal kini dipenuhi langkah tim SAR yang harus menembus hutan lebat, medan terjal, serta cuaca yang sulit diprediksi.

Viral di Media Sosial, Sunyi di Lereng Gunung

Sejak kabar penemuan serpihan pesawat menyebar, Gunung Bulusaraung menjadi perbincangan luas di media sosial. Foto kabut tebal, helikopter SAR, serta medan berbatu beredar luas. Namun di lereng dan puncaknya, suasana tetap sunyi—dipenuhi kehati-hatian dan doa.

Baca Juga: Isra Miraj Jadi Momentum Rekonstruksi, Perisai Syarikat Islam Sulteng Resmi Dilantik

Warga sekitar turut membantu sebagai penunjuk jalan dan penyedia logistik. Sebagian dari mereka meyakini, alam di Bulusaraung “menerima” peristiwa ini dengan caranya sendiri—tanpa bencana lanjutan, tanpa gejolak, hanya keheningan yang panjang.

Peristiwa ini bukan hanya tragedi penerbangan, tetapi juga pengingat bahwa hubungan antara manusia, teknologi, dan alam selalu berada dalam kondisi yang rapuh. Gunung Bulusaraung, yang selama ini dijaga melalui mitos dan kepercayaan, kini menjadi saksi bisu duka nasional.

Bagi masyarakat setempat, gunung ini kelak akan kembali sunyi setelah operasi pencarian berakhir. Namun namanya tak lagi sama. Gunung Bulusaraung kini tercatat dalam sejarah modern Indonesia—sebagai titik temu antara kepercayaan lama dan kenyataan hari ini, lokasi jatuhnya pesawat ATR-500 bersama 11 penumpangnya.
Gunung itu tidak berubah bentuk.

Baca Juga: Komisi IV DPRD Sulteng Gelar RDP Bahas Program 2026

Yang berubah adalah cara manusia memandangnya.
Dari gunung sakral, penunjuk arah nelayan, hingga lokasi pencarian nasional, Bulusaraung mengingatkan bahwa alam selalu menyimpan cerita—dari tahun ke tahun. ***

Editor : Talib
#Pesawat ATR jatuh #Pangkep #Bulusaraung #Sulawesi Selatan #Tragedi penerbangan Indonesia