RADAR PALU - Pesawat ATR 42-500 yang dilaporkan hilang kontak saat menjalani penerbangan domestik merupakan salah satu pesawat turboprop regional yang banyak digunakan di Indonesia.
Tipe pesawat ini dikenal andal untuk melayani rute jarak pendek hingga menengah, khususnya di wilayah kepulauan dan bandara dengan landasan terbatas.
ATR 42 diproduksi oleh ATR (Avions de Transport Regional), perusahaan patungan antara Airbus asal Prancis dan Leonardo dari Italia.
Pabrikan Eropa ini telah memproduksi ratusan unit pesawat ATR yang kini dioperasikan di berbagai negara untuk penerbangan sipil, charter, hingga misi khusus.
Secara spesifikasi, ATR 42-500 dirancang untuk mengangkut sekitar 40 sampai 50 penumpang, tergantung konfigurasi kabin.
Pesawat ini menggunakan dua mesin turboprop Pratt & Whitney Canada PW127E, yang dikenal efisien dalam konsumsi bahan bakar dan cocok untuk rute jarak pendek.
Dari sisi performa, ATR 42-500 memiliki kecepatan jelajah sekitar 270 knot atau setara 500 kilometer per jam, dengan jangkauan terbang hingga sekitar 1.500 kilometer.
Keunggulan lainnya, pesawat ini mampu lepas landas dan mendarat di landasan pacu yang relatif pendek, sehingga banyak dioperasikan di bandara-bandara daerah.
ATR 42-500 juga telah memenuhi standar keselamatan internasional dan mengantongi sertifikasi dari European Union Aviation Safety Agency (EASA) serta Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat.
Sistem avionik dan instrumen penerbangannya dirancang dengan prinsip redundansi, sehingga tetap aman dalam berbagai kondisi operasional.
Terkait laporan hilang kontak, pesawat yang memiliki registrasi PK-THT dan dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT).
Berdasarkan data pelacakan Flightradar24, pesawat tersebut tercatat melakukan penerbangan rute Yogyakarta (YIA) menuju Makassar (UPG). Pesawat lepas landas dari Yogyakarta pada pukul 08.08 WIB.
Dalam pemantauan radar, pesawat terakhir terpantau berada di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, sekitar Boeloekempa-Soreang, pada ketinggian sekitar 5.150 kaki, dengan kecepatan darat 221 knot. Setelah titik tersebut, sinyal pesawat tidak lagi terdeteksi di Flightradar24 dan waktu kedatangan tercatat N/A.
Di Indonesia, pesawat tipe ATR kerap digunakan untuk penerbangan perintis, logistik, dan penerbangan non-reguler, selain melayani rute penumpang. Karakteristiknya yang stabil dan efisien membuat ATR 42 menjadi salah satu tulang punggung transportasi udara di wilayah kepulauan.
Meski berukuran lebih kecil dibanding pesawat jet komersial, ATR 42-500 tetap dirancang dengan standar keselamatan tinggi dan hingga kini masih menjadi pilihan banyak operator penerbangan regional.(acm)
Editor : Mugni Supardi