RADAR PALU – Konsentrasi partikulat di udara Kota Palu meningkat hingga 179 mikrogram per meter kubik pada 12 Oktober 2026 dan masuk kategori sangat tidak sehat. Kondisi ini berkaitan dengan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah dan provinsi sekitarnya.
Ketua Tim Layanan Publik dan Humas BMKG Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, Muh. Soeharto Dwi Putra Rahman, mengatakan konsentrasi partikulat pada 11 Oktober tercatat sebesar 162 mikrogram per meter kubik. Sehari sebelumnya, kualitas udara Palu juga telah berada dalam kategori tidak sehat.
“Kalau kita lihat dari hasil pengamatan, pada 11 dan 12 Oktober itu konsentrasi partikulatnya meningkat,” kata Soeharto saat diwawancarai, Selasa (13/10/2026).
Baca Juga: Pemkab Poso dan BPJS Ketenagakerjaan Teken Kerja Sama Lindungi Petani Kakao dan Rohaniawan
Menurut dia, asap karhutla yang memengaruhi kualitas udara Palu berasal dari sejumlah wilayah, di antaranya Morowali, Morowali Utara, Tojo Una-Una, Poso, dan Banggai. Asap juga berpotensi terbawa dari wilayah lain, seperti Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
Soeharto menjelaskan, kondisi kualitas udara tidak sehat sebenarnya telah terpantau sejak Juni 2026, meskipun hanya berlangsung selama beberapa hari. Peningkatan yang lebih signifikan kemudian terjadi pada Agustus hingga Oktober 2026.
Berdasarkan pemantauan pada 13 Oktober, konsentrasi partikulat diperkirakan masih bertahan pada kondisi serupa atau berpotensi meningkat. Namun, kepastian kondisi kualitas udara pada hari tersebut masih menunggu hasil pengamatan terbaru.
Baca Juga: DPRD Desak PLN Hentikan Pemadaman Listrik Bergilir yang Merugikan Masyarakat dan Pelaku Usaha
“Belum ada faktor signifikan yang bisa menurunkan konsentrasi partikulat dalam waktu dekat,” ujarnya.
Dia menyebutkan, hujan dan penanganan titik-titik kebakaran diharapkan dapat membantu mengurangi konsentrasi polutan di udara. Sementara itu, informasi yang diterima BMKG juga menunjukkan adanya gangguan jarak pandang di sejumlah wilayah, termasuk Tojo Una-Una dan Banggai.
Di Tojo Una-Una, gangguan jarak pandang dilaporkan berdampak pada nelayan yang hendak kembali dari melaut menuju daratan. Meski demikian, dampak paparan partikulat terhadap masyarakat dapat berbeda-beda, bergantung pada kondisi di masing-masing lokasi.
Baca Juga: Percepat Penanganan TBC, Pemda Touna Dapat Bantuan Ronsen Mobile Dari Kemenkes RI
Soeharto mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, dan masyarakat yang rentan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
“Kalau memang harus beraktivitas di luar ruangan, sebaiknya menggunakan masker sesuai standar,” kata Soeharto.
Masyarakat juga diimbau menjaga kecukupan cairan tubuh serta tidak membakar sampah atau melakukan aktivitas lain yang dapat memicu kebakaran dan menambah sumber asap.***
Editor : MOH FATHAHILA