RADAR PALU — Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Palu menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kantor PWNU Sulawesi Tengah, Sabtu (12/9) malam.
Peringatan tersebut menjadi momentum bagi umat Islam untuk kembali menghidupkan keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk dalam menghadapi perbedaan pandangan.
Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Zainal Abidin, dalam tausiahnya mengajak umat untuk tidak menjadikan perbedaan pendapat sebagai alasan untuk saling bertikai.
Baca Juga: Dua Pemuda di Luwuk Diduga Jadi Pengedar Narkoba, 36 Paket Sabu Disita
Menurut dia, perbedaan merupakan bagian dari dinamika kehidupan masyarakat. Karena itu, perbedaan semestinya disikapi dengan kedewasaan, saling menghormati, dan tetap menjaga persatuan.
Ketua MUI Kota Palu itu mencontohkan para ulama terdahulu yang tetap mampu menjaga persatuan meski memiliki perbedaan pandangan dalam memahami berbagai persoalan, khususnya di bidang keagamaan.
“Perbedaan pendapat semestinya tidak menjadi alasan untuk saling bertikai,” kata Zainal dalam tausiahnya.
Baca Juga: Hadapi Karhutla di Pegunungan, BPBD Banggai Terkendala Peralatan
Ia juga menjelaskan bahwa penerapan ajaran Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan budaya yang berkembang.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut dapat diterapkan selama tetap berada dalam koridor syariat.
Zainal mengingatkan, konflik terbesar dalam kehidupan manusia tidak selalu terjadi antara satu agama dengan agama lainnya.
Baca Juga: Festival Bakulupi Menjadi Momentum Kebangkitan Budaya di Touna
Konflik justru dapat muncul ketika seseorang lebih mencintai tafsir dan identitas kelompoknya dibandingkan kebenaran serta nilai kemanusiaan.
“Konflik terbesar ternyata bukanlah antaragama yang satu dengan agama lain. Konflik terbesar ketika manusia lebih mencintai tafsirnya daripada kebenaran, lebih mencintai identitas kelompoknya daripada sesama manusia. Saat itulah agama berubah dari cahaya menjadi senjata,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak umat Islam menjadikan keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai landasan dalam membangun kehidupan yang damai, dengan mengedepankan sikap saling menghormati dan menerima perbedaan.
Menurut Zainal, kekuatan iman tidak ditunjukkan melalui kerasnya suara ataupun sikap yang mudah menyalahkan orang lain. Sebaliknya, iman tercermin melalui ketenangan, kemampuan menghargai perbedaan, dan kesanggupan untuk tidak mudah membenci sesama.
Baca Juga: Jejak Adat di Bumi Sivia Patuju, Gubernur Jalani Prosesi Sakral Baku Lupi
“Orang yang imannya kuat tidak selalu paling keras suaranya, justru yang paling tenang. Paling mampu menghormati perbedaan dan paling sulit membenci orang lain, karena ia percaya kebenaran tidak membutuhkan teriakan untuk tetap menjadi kebenaran,” katanya.
Pesan tersebut menjadi salah satu refleksi utama dalam peringatan Maulid Nabi yang digelar PCNU Kota Palu, sekaligus ajakan untuk menjadikan nilai persatuan, kedamaian, dan kemanusiaan sebagai bagian dari pengamalan ajaran Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari. ***
Editor : Mugni Supardi