Bolak-balik Tolitoli-Palu Tiap Pekan, Pasien Keluhkan Obat Hanya Diberi 7 Hari

MOH FATHAHILA • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 18:22 WIB
Ilustrasi AI
Ilustrasi AI

RADAR PALU— Pasien rawat jalan asal Kabupaten Tolitoli, Pusri, mengeluhkan pemberian obat di rumah sakit di Kota Palu yang menurutnya hanya diberikan untuk kebutuhan satu pekan.

Padahal, selama empat bulan sebelumnya, Pusri mengaku selalu mendapatkan obat untuk kebutuhan 30 hari. Kondisi tersebut membuatnya harus kembali ke Palu setiap pekan untuk mengambil obat.

Pusri mengatakan, pembatasan pemberian obat itu baru dialaminya pada bulan kelima masa pengobatan. Ia mengaku telah mempertanyakan kebijakan tersebut kepada petugas farmasi rumah sakit.

Baca Juga: Banggar DPRD dan Pemprov Sulteng Dorong Perluasan Bandara Mutiara Sis Al-Jufri

"Saya dari Tolitoli, berobat sudah empat bulan dan ini bulan kelima. Empat bulan berturut-turut setiap satu bulan saya dikasih obat cukup untuk 30 hari. Tapi bulan kelima ini dikasihnya hanya untuk satu minggu," kata Pusri, Jumat (21/8/2026).

Menurut Pusri, petugas farmasi menyebut pemberian obat untuk satu pekan tersebut merupakan kebijakan BPJS Kesehatan. Ia kemudian menghubungi pihak BPJS untuk memastikan informasi tersebut.

Namun, Pusri mengaku mendapat penjelasan berbeda dari BPJS. Menurutnya, BPJS menyatakan pembatasan pemberian obat selama satu pekan bukan merupakan kebijakan BPJS, melainkan kebijakan dari rumah sakit.

Baca Juga: Puluhan Siswa SD Diduga Keracunan Usai Santap MBG di Banggai Kepulauan

"Saya bertanyakan kepada BPJS, ternyata membantah. Dia bilang tidak, ini bukan kebijakannya BPJS, tapi rumah sakit itu sendiri," ujarnya.

Pusri menilai kondisi tersebut sangat memberatkan pasien yang berasal dari luar Kota Palu. Selain membutuhkan biaya perjalanan, ia mengaku kondisi fisiknya juga kurang memungkinkan untuk melakukan perjalanan Tolitoli-Palu setiap pekan.

Ia menyebut persoalan serupa sebenarnya sudah dialaminya sekitar tiga pekan lalu. Saat itu, ia juga hanya memperoleh obat untuk satu pekan dan telah menyampaikan keberatan karena harus kembali ke Tolitoli.

Baca Juga: Curi Tenda di Kos, Dua Pria Diamuk Massa di Duyu

Menurut Pusri, biaya perjalanan pulang-pergi setiap pekan justru dapat lebih besar dibandingkan harga obat yang harus diambil. Ia berharap persoalan tersebut dapat mendapat perhatian agar pasien dari daerah tidak terbebani dengan kewajiban mengambil obat setiap pekan.

"Saya sulit kalau seperti itu. Setiap satu minggu mau datang ke Palu, biaya terkuras, fisik juga kurang sehat. Bolak-balik juga mabuk kalau setiap minggu datang ke sini," tuturnya.

Pusri juga mengaku memiliki kontak pihak BPJS yang dapat dihubungi untuk mengonfirmasi persoalan tersebut.

Baca Juga: Kemenkum Sulteng Pastikan Kanal Pengaduan Tak Sekadar Formalitas

Sementara itu dikonfirmasi terpisah Komunikasi dan Kesekretariatan BPJS Cabang Palu Nur Hasmawati menjelaskan bahwa obatnya bukan merupakan obat kronis yang dapat diberikan untuk 30 hari.

"Penggunaan obat tersebut harus melalui pemantauan dokter urologi dan hanya ada di undata," ujarnya.***

Editor : MOH FATHAHILA
Pelayanan rumah sakit bpjs kesehatan Undata palu Tolitoli