RADAR PALU — Koko Erick dan Cici Eugine terpilih sebagai Koko dan Cici Sulawesi Tengah 2026 dalam Grand Final Koko Cici Sulawesi Tengah yang digelar di Milenium Waterpark, Jumat (21/8/2026).
Ajang tersebut tidak sekadar menjadi kompetisi bagi generasi muda, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat promosi kebudayaan, pariwisata, kebinekaan, dan toleransi di Sulawesi Tengah.
Enam pasang finalis mengikuti sejumlah rangkaian penilaian hingga menyisakan tiga pasangan terbaik. Ketiga pasangan kemudian menjalani sesi tanya jawab dengan dewan juri untuk menentukan Koko dan Cici Sulawesi Tengah 2026.
Baca Juga: Koko Cici Sulteng Ikuti Ajang Pemilihan Koko Cici Indonesia 2024
Dewan juri terdiri atas Linda Tindige, Wijaya Chandra, Marcelo Badillo, Suci Kamnis, dan Vidi.
Ketua Ikatan Koko Cici Sulawesi Tengah, Marcelo Badillo, mengingatkan para finalis agar tidak menjadikan hasil grand final sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
“Jangan mengukur keberhasilan dengan hasil malam ini. Semua usaha kalian sudah menjadikan kalian pemenang. Walaupun belum menang, perjalanan kalian belum berakhir. Kalau kalian menang, perjalanan kalian baru dimulai,” ujarnya.
Baca Juga: Gratis Tiket Masuk, Sulteng Open Body Contest 2025 Akan Digelar Oktober di Milenium Waterpark
Marcelo mengatakan pemilihan Koko Cici Sulawesi Tengah telah dimulai sejak 2015. Penyelenggaraan tahun ini menjadi edisi kelima.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh sponsor dan pihak yang telah mendukung pelaksanaan ajang tersebut.
Sementara itu, Pembina Koko Cici Sulawesi Tengah, Wijaya Chandra, mengatakan seluruh finalis merupakan putra-putri terbaik yang telah melewati proses seleksi dan pembinaan.
Baca Juga: Dari Palu untuk NTT, PSMTI-APINDO Sulteng Bantu Korban Bencana NTT
Menurutnya, para finalis tidak hanya dibekali kemampuan dalam bidang kebudayaan, tetapi juga penguatan mental agar mampu menjadi bagian dari promosi pariwisata Sulawesi Tengah dan Kota Palu.
“Mereka adalah putra-putri terbaik yang telah mengalami proses seleksi, penggemblengan mental, kebudayaan, dan lain-lain, sehingga dapat men-support pariwisata Sulteng dan Kota Palu,” kata Wijaya.
Ia berharap pasangan yang terpilih mampu membawa nama Sulawesi Tengah pada pemilihan tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 2027.
Wijaya menegaskan, keberadaan Koko Cici tidak hanya berkaitan dengan promosi budaya Tionghoa. Lebih jauh, ajang tersebut menjadi bagian dari upaya merawat kebinekaan dan keberagaman di Sulawesi Tengah.
Ia mengungkapkan, Koko Cici Sulawesi Tengah telah ada sebelum terbentuknya PSMTI Sulawesi Tengah. Gagasan penyelenggaraan pertama kali lahir dari semangat yang ditularkan almarhum Mahatir Muhammad.
Awalnya, pemilihan tersebut ditujukan bagi generasi muda etnis Tionghoa. Namun, dalam perkembangannya, ajang ini semakin inklusif dan melibatkan generasi muda dari beragam latar belakang etnis.
Baca Juga: Milenium Gym akan Gratiskan Fasilitas Fitnes untuk Peraih Medali di PON XXI
“Palu memiliki toleransi yang luar biasa. Kita bisa masuk apa saja, bisa diterima di mana saja. Orang Tionghoa bisa ikut pemilihan Randa Kabilasa,” ujarnya.
Wijaya juga mengajak generasi muda menjaga toleransi, kebersamaan, dan persatuan di Kota Palu. Ia mendorong anak muda mempelajari bahasa Mandarin yang dinilai semakin penting dalam interaksi internasional.
Selain Erick dan Eugine sebagai Koko dan Cici Sulawesi Tengah 2026, posisi Wakil 1 diraih Koko Braxton dan Cici Alisa. Sementara Wakil 2 diraih Koko Vincent dan Cici Priskilla.
Baca Juga: Gubernur Hadiri Imlek di Waterfall Milenium
Sejumlah gelar lainnya turut diberikan. Koko dan Cici Favorit diraih Koko Braxton dan Cici Eugine. Gelar Koko dan Cici Berbakat diraih Koko Raffi dan Cici Vanetta.
Kemudian, gelar Koko dan Cici Persahabatan diraih Koko Dimas dan Cici Ristifani. Sedangkan Koko dan Cici Sosial Media diraih Koko Rizal dan Cici Monica.
Melalui ajang tersebut, para finalis diharapkan tidak hanya menjadi duta budaya, tetapi juga representasi generasi muda yang menjunjung keberagaman serta aktif mempromosikan pariwisata dan kebudayaan Sulawesi Tengah.(*)
Editor : Rony Sandhi