RADAR PALU - Penebangan dua pohon di kawasan Taman GOR Kota Palu dalam proyek revitalisasi tahap dua menuai sorotan dari pegiat sejarah Kota Palu. Mereka menilai pohon-pohon yang telah tumbuh puluhan tahun di kawasan tersebut bukan sekadar vegetasi peneduh, melainkan bagian dari jejak sejarah dan memori kolektif perjalanan Kota Palu.
Koordinator Komunitaa Historia Sulawesi Tengah, Mohamad Herianto menilai, peremajaan taman seharusnya tidak dilakukan dengan mengorbankan pohon-pohon tua yang memiliki nilai historis. Menurutnya, Taman GOR merupakan salah satu ruang publik yang menyimpan perjalanan panjang perkembangan Kota Palu sejak masa awal kemerdekaan.
"Pohon-pohon yang tumbuh menjulang di Taman GOR itu bukan sekadar penangkap karbon dan pengurang efek rumah kaca semata, tapi monumen yang tumbuh atas ingatan tentang Kota Palu" tulis Herianto kepada Radar Palu, Jumat (7/8/2026).
Baca Juga: CV Mandiri Sejahtera Diduga Duplikasi Penggunaan Alat Berat pada Tiga Paket Jalan di Kota Palu
Ia menjelaskan, pada 1945 kawasan tersebut difungsikan sebagai arena pacuan kuda. Memasuki era 1950 hingga 1970-an, lapangan itu berkembang menjadi pusat aktivitas masyarakat, mulai dari tempat berkumpulnya massa, lokasi upacara bendera, hingga pelaksanaan Salat Idulfitri.
Salah satu peristiwa penting yang terjadi di lokasi tersebut adalah kunjungan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, pada 2 Oktober 1957. Saat itu, Soekarno menyampaikan pidato di hadapan masyarakat Palu. Untuk mengenang momentum bersejarah tersebut, kini berdiri Patung Soekarno di kawasan Taman GOR.
"Lapangan tersebut mulai difungsikan sebagai taman sejak tahun 1977, kemudian ditanami bunga dan pepohonan lalu diresmikan sebagai taman dengan julukan taman mini pada tahun 1978" katanya
Baca Juga: DPRD Sulteng Sahkan Aturan Tambang Rakyat, IPR Resmi Dilegalkan untuk Dongkrak PAD
Menurutnya, ada vegetasi lokal seperti lengaru dan nunu atau beringin. Kemudian ditambah pohon talise (ketapang), leda (eucalyptus), ebony atau kayu hitam. Saat revitalisasi tahun 2017 juga ditanam ketapang kencana dan trembesi," ujarnya.
Karena itu, ia menilai keberadaan pepohonan di kawasan tersebut memiliki makna yang jauh melampaui fungsi ekologis.
Herianto menilai, revitalisasi Taman GOR harusnya tetap mengedepankan prinsip pelestarian vegetasi yang telah ada. Menurutnya, desain penataan kawasan semestinya menyesuaikan keberadaan pohon-pohon eksisting, bukan justru menghilangkannya demi alasan estetika.
Baca Juga: DPRD Sulteng Sahkan Aturan Tambang Rakyat, IPR Resmi Dilegalkan untuk Dongkrak PAD
Kalaupun peremajaan dianggap perlu, pemerintah diminta lebih dahulu menanam pohon pengganti di lokasi yang sama sebelum melakukan penebangan terhadap pohon lama.
"Peremajaan pohon semestinya tidak disertai kegiatan penebangan serta pemangkasan yang berlebihan apalagi mengatasnamakan estetika" tekannya
Selain itu, ia mendorong agar Taman GOR dikembangkan sebagai taman edukasi atau taman literasi yang tidak hanya menjadi ruang terbuka hijau, tetapi juga sarana mengenalkan sejarah Kota Palu dan kekayaan vegetasi lokal kepada masyarakat.
Baca Juga: Impresif, Reaksi Peserta Test Drive Suzuki Fronx SGX Hybrid Kuro
Sebagai langkah awal, pihaknya telah mengusulkan inventarisasi seluruh pohon yang berada di kawasan Taman GOR. Hasil pendataan itu diharapkan dilengkapi dengan papan informasi yang memuat nama pohon, nama latin, serta nama lokal sehingga dapat menjadi media pembelajaran bagi pengunjung.
"Kami berharap kegiatan inventarisasi pohon dan pemasangan identitas setiap pohon dapat direalisasikan Pemerintah Kota Palu tahun ini, sehingga Taman GOR tidak hanya menjadi ruang rekreasi, tetapi juga ruang belajar tentang sejarah kota dan keanekaragaman hayati," tutupnya. ***
Editor : Annisa Tri Yusnida