RADAR PALU - Tradisi Nompaova, nyanyian pengantar tidur masyarakat Kaili, dinilai berada di titik yang mengkhawatirkan karena semakin jarang dipraktikkan. Namun, para peneliti meyakini tradisi lisan tersebut tidak akan mudah punah karena tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat dan akan muncul kembali pada momen-momen tertentu.
Nur Amri Firmansyah, Mahasiswa Antropologi sekaligus Peneliti, dalam Sarasehan Nompaova: Menuju Warisan Budaya Tak Benda di Kota Palu, mengaku awalnya tidak menganggap Nompaova sebagai sesuatu yang perlu mendapat perhatian khusus.
"Saya pertama kali mendengar lagi Nompaova pada 2020. Saat itu saya menganggapnya tidak begitu penting, hanya sebuah nyanyian biasa," kata Amri, Minggu (26/7/2026).
Baca Juga: Polisi Ungkap Korban Sempat Ambil Motor di Rumah Terduga Pelaku Sebelum Insiden Pembunuhan di Duyu
Pandangan itu, katanya, perlahan berubah setelah ia terlibat dalam proses riset dan membaca hasil wawancara sejumlah peneliti mengenai Nompaova. Bersama tim, ia kemudian menelusuri keberadaan tradisi tersebut menggunakan metode snowball, yakni mencari narasumber secara berantai dari satu informan ke informan lainnya.
Menurutnya, proses tersebut ternyata tidak mudah. Meski semula diperkirakan banyak masyarakat masih menguasai Nompaova, kenyataannya informan yang benar-benar masih mengingat dan mampu melantunkannya cukup sulit ditemukan. Tim bahkan memanfaatkan media sosial untuk mengajak masyarakat mengirimkan rekaman Nompaova yang masih mereka miliki.
"Kami mengira ini akan gampang, tapi ternyata cukup sulit juga, karena tidak banyak yang punya akses dan juga jauh" terangnya
Baca Juga: BPK Wilayah XVIII Dorong Anak Muda Palu Aktif Lestarikan Budaya
Meski mengakui posisi Nompaova saat ini semakin rentan, ia mengutip pandangan dalam sebuah buku Antropologi Sastra Lisan yang menyebut nyanyian tradisi tidak akan mudah hilang.
Menurutnya, tradisi lisan berada pada dua posisi sekaligus. Pertama, berada "di antara mulut dan telinga" karena terus diwariskan melalui tuturan. Kedua, berada di ruang ingatan masyarakat sehingga akan muncul kembali ketika ada momen yang memanggilnya, misalnya saat kelahiran seorang anak.
"Dalam riset kami, nyanyian itu biasanya kembali akan dinyanyikan ketika ada bayi yang lahir. Karena itu, tradisi ini sulit untuk benar-benar hilang," katanya.
Baca Juga: Bus Trans Palu Setop 6 Hari, Ada Maintenance dan Evaluasi Layanan
Penelusuran yang dilakukan mencakup wilayah Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Donggala. Hasilnya menunjukkan setiap daerah memiliki versi Nompaova yang berbeda, baik dari sisi lirik maupun penyampaiannya.
"Ketika penelusuran melebar ke Sigi dan Donggala, kami tidak menemukan versi yang sama persis. Setiap daerah memiliki kekhasannya masing-masing," ujarnya
Ia menambahkan, berbagai penelitian etnografi menunjukkan nyanyian tradisi umumnya lahir secara spontan. Melodinya mengikuti nada yang akrab didengar masyarakat, sedangkan liriknya berisi doa, harapan, nasihat, hingga kisah kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Kemenkum Sulteng Perkuat Pelayanan Berkualitas dan Penghormatan HAM
"Dari lirik-lirik yang kami dokumentasikan, sebagian besar berisi doa, cita-cita, harapan, hingga cerita tentang kehidupan keluarga," tandasnya. ***
Editor : Annisa Tri Yusnida