Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Rumah Adat Kaili di Nunu Terbengkalai, Lembaga Adat Minta Perhatian Pemkot Palu 

Annisa Tri Yusnida • Selasa, 7 Juli 2026 | 22:36 WIB
Suasana Rumah Adat Kaili di Kelurahan Nunu, Kota Palu, yang mulai terbengkalai akibat minimnya perawatan. Lembaga Adat berharap kawasan tersebut kembali dihidupkan sebagai pusat kegiatan budaya dan destinasi wisata. Foto: Annisa Tri Yusnida/ Radar Palu
Suasana Rumah Adat Kaili di Kelurahan Nunu, Kota Palu, yang mulai terbengkalai akibat minimnya perawatan. Lembaga Adat berharap kawasan tersebut kembali dihidupkan sebagai pusat kegiatan budaya dan destinasi wisata. Foto: Annisa Tri Yusnida/ Radar Palu

 

RADAR PALU – Rumah Adat Kaili di Kelurahan Nunu, Kota Palu, yang selama ini menjadi simbol pelestarian budaya, kini berada dalam kondisi memprihatinkan. Bangunan yang telah menjadi aset Pemerintah Kota Palu itu mulai kehilangan fungsinya akibat minimnya pemeliharaan, padahal dinilai memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

Ketua Lembaga Adat Kelurahan Nunu, Ajunan M. Sawala, mengatakan rumah adat tersebut dibangun pada masa kepemimpinan Rusdy Mastura saat menjabat Wali Kota Palu. Kala itu, pemerintah hanya mengalokasikan anggaran untuk pembangunan fisik bangunan, sedangkan lahan merupakan hibah dari masyarakat.

"Dulu waktu masa Rusdy Mastura sebagai Wali Kota itu pernah diberikan dana untuk pembangunan rumah adat se-Kota Palu, hanya untuk bangunan fisiknya saja. Tanahnya itu merupakan hibah dari masyarakat," ujar Ajunan kepada Radar Palu, Selasa (7/7/2026). 

Baca Juga: Eks Pj Bupati Morowali Rahmansyah Tak Lagi Ditahan di Rutan Palu, Kini Berstatus Tahanan Kota

Menurutnya, setelah pembangunan selesai, rumah adat itu ditetapkan sebagai aset Pemerintah Kota Palu dan selama bertahun-tahun dimanfaatkan sebagai ruang kegiatan masyarakat.

Berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, sanggar seni hingga peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN), pernah menggunakan kawasan tersebut untuk diskusi, pelatihan, hingga kegiatan pelestarian budaya secara gratis.

"Sejak dulu kami memang membuka tempat itu untuk masyarakat. Mahasiswa, organisasi, sanggar seni, bahkan peserta KKN bisa menggunakan rumah adat tanpa dipungut biaya karena kami ingin tempat itu menjadi ruang belajar generasi muda," katanya. 

Baca Juga: Haka Auto Genjot Ekspansi Dealer untuk Percepat Ekosistem Kendaraan Listrik

Namun, kondisi itu kini berubah. Area sekitar rumah adat dipenuhi sampah dedaunan yang gugur dari pepohonan, sementara aktivitas masyarakat semakin berkurang.

Ajunan mengungkapkan, sejumlah instalasi listrik dan kabel penerangan di kawasan rumah adat juga hilang akibat pencurian. Dampaknya, kawasan tersebut gelap pada malam hari sehingga masyarakat enggan beraktivitas.

"Mulai tahun ini sudah kurang kegiatan yang dilakukan, kecuali siang hari ada ibu-ibu PKK. Kondisi juga memprihatinkan, kabel-kabel lampu dipotong semua. Kami sudah berusaha mengumpulkan dana sendiri untuk memperbaiki, tetapi kembali rusak karena dicuri. Sekarang kalau malam sudah gelap," jelasnya.

Ia menilai rumah adat tersebut memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi pusat kegiatan budaya Kota Palu. Selain memiliki halaman yang luas, kawasan itu juga dilengkapi kolam pemancingan yang dapat dimanfaatkan untuk festival budaya, pertunjukan seni, hingga sentra kuliner yang melibatkan pelaku UMKM setempat.

Selama ini, kebersihan kawasan hanya mengandalkan kolaborasi melalui program padat karya. Namun, menurut Ajunan, upaya tersebut belum mampu menjaga kawasan secara optimal karena tidak tersedia petugas khusus yang melakukan perawatan rutin.

Karena itu, Lembaga Adat Kelurahan Nunu berharap Pemerintah Kota Palu memberikan perhatian lebih terhadap keberadaan rumah adat tersebut. Dengan penataan yang baik dan dukungan program budaya secara berkelanjutan, rumah adat diyakini dapat kembali menjadi destinasi wisata budaya sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat sekitar.

"Harapan kami rumah adat ini bisa dikembangkan menjadi tempat wisata budaya. Kalau ramai kegiatan, masyarakat sekitar juga bisa ikut berjualan dan memperoleh manfaat ekonomi. Rumah adat akan kembali hidup, budaya tetap terjaga, dan masyarakat ikut sejahtera," pungkas Ajunan.***

Editor : Muhammad Awaludin
#Rumah Adat Kaili #Wisata Budaya Palu #Lembaga Adat #Kelurahan Nunu #Pemerintah Kota Palu