RADAR PALU – Upaya membangun budaya sadar bencana sejak dini terus diperkuat di Sulawesi Tengah. Salah satunya melalui kegiatan Simulasi Mitigasi Bencana Ramah Anak Berkebutuhan Khusus yang diselenggarakan oleh Bidang Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah bekerja sama dengan sejumlah pihak terkait kebencanaan, Kamis (25/6/2026).
Kegiatan yang diikuti para siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan peserta didik, khususnya anak berkebutuhan khusus, dalam menghadapi berbagai potensi bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi di Sulawesi Tengah.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah, Firmanza DP, yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa simulasi mitigasi bencana tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan teknis tentang penyelamatan diri, tetapi juga membangun kesiapan mental dan psikologis peserta didik dalam menghadapi situasi darurat.
Baca Juga: OJK Terbitkan Aturan Financial Influencer, Perkuat Perlindungan Konsumen
“Karena ini mencoba untuk bagaimana caranya memitigasi, menyiapkan kondisi, menyiapkan psikologis, menyiapkan segala sesuatu untuk kita semua. Arahnya adalah bagaimana kita siap menghadapi bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi,” kata Firmanza.
Menurutnya, masyarakat Sulawesi Tengah harus memiliki pemahaman yang baik mengenai karakteristik wilayah tempat tinggalnya. Sebab, secara geologis, Pulau Sulawesi merupakan salah satu kawasan yang memiliki tingkat aktivitas tektonik tinggi karena terbentuk dari pertemuan tiga lempeng besar dunia.
“Kita ketahui bersama bahwa pulau kita ini sangat spesial karena terbentuk dari tiga lempeng besar dunia yang kemudian menyatu membentuk Pulau Sulawesi. Di bawah wilayah kita terdapat sesar yang sangat aktif, yaitu Sesar Palu-Koro, yang dikenal sebagai salah satu sesar paling aktif di dunia,” ujarnya.
Baca Juga: Palu Perkuat Status Kota Aman Disabilitas, Pemkot Dorong Pembangunan Inklusif
Firmanza menjelaskan, pascagempa besar yang pernah melanda Sulawesi Tengah, sejumlah penelitian menunjukkan munculnya aktivitas sesar-sesar lain yang juga perlu mendapat perhatian. Di antaranya Sesar Palolo, Sesar Sausu, serta beberapa segmen yang saling berhubungan dengan sistem Sesar Palu-Koro.
“Kita berada di wilayah yang sangat dekat dengan aktivitas sesar tersebut. Karena itu penting bagi kita untuk memahami risiko dan menyiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi,” katanya.
Ia mencontohkan gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu. Gempa tersebut tidak hanya menimbulkan kerusakan di sejumlah wilayah, tetapi juga diikuti oleh ribuan gempa susulan yang menunjukkan tingginya aktivitas kegempaan di daerah ini.
Baca Juga: Sulawesi Tengah Terpilih Jadi Tuan Rumah Pesparawi Nasional XV Tahun 2029
“Kita mencatat bahwa setelah gempa tersebut terjadi ratusan bahkan ribuan gempa susulan. Ini bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, tetapi menjadi pengingat bahwa kita harus selalu siap dan waspada,” jelasnya.
Oleh karena itu, Firmanza menilai kegiatan simulasi seperti yang dilaksanakan Bidang PKPLK Disdik Sulteng perlu dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Menurutnya, pendidikan kebencanaan tidak boleh hanya dilakukan setelah terjadi bencana, melainkan harus menjadi bagian dari proses pembelajaran yang berlangsung terus-menerus.
“Harusnya kegiatan seperti ini dilakukan secara periodik. Jangan hanya ketika terjadi bencana baru kita ramai melakukan simulasi. Justru kesiapsiagaan itu harus dibangun sebelum bencana terjadi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Firmanza mengungkapkan bahwa Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah sedang mengkaji kemungkinan memasukkan materi mitigasi bencana ke dalam kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi.
Menurutnya, keberadaan kurikulum mitigasi bencana sangat penting mengingat Sulawesi Tengah merupakan salah satu daerah dengan tingkat risiko bencana yang cukup tinggi, baik gempa bumi, tsunami, tanah longsor, maupun banjir.
“Salah satu yang sedang kami rencanakan ke depan adalah bagaimana mitigasi bencana dapat menjadi bagian dari kurikulum pembelajaran. Karena kita hidup di wilayah yang memang sangat rawan terhadap bencana,” ujarnya.
Ia mengatakan, pengalaman sejumlah negara maju seperti Jepang dapat menjadi referensi. Di negara tersebut, pendidikan kebencanaan diberikan secara rutin kepada anak-anak sejak usia dini sehingga mereka memahami langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi darurat.
“Saya pernah melihat bagaimana di Jepang anak-anak diajarkan secara berkala mengenai cara menghadapi gempa bumi. Mereka dilatih terus-menerus sehingga ketika terjadi bencana, mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan. Model seperti ini perlu kita kaji dan terapkan di Sulawesi Tengah,” katanya.
Firmanza menambahkan, ke depan setiap sekolah diharapkan memiliki agenda rutin berupa simulasi evakuasi maupun edukasi kebencanaan. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis dalam menyelamatkan diri.
“Kita ingin anak-anak mengetahui jalur evakuasi, memahami cara melindungi diri saat gempa, mengetahui titik kumpul yang aman, dan memahami langkah-langkah penyelamatan lainnya,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Firmanza juga memberikan apresiasi kepada Bidang PKPLK Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah yang telah menginisiasi kegiatan mitigasi bencana bagi anak berkebutuhan khusus. Menurutnya, kelompok ini membutuhkan perhatian lebih karena memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi saat terjadi bencana.
“Kegiatan hari ini memang difokuskan kepada anak-anak berkebutuhan khusus. Berdasarkan berbagai kajian, risiko yang mereka hadapi saat terjadi bencana bisa tiga kali lebih besar dibandingkan anak-anak lainnya. Karena itu mereka harus mendapatkan perhatian khusus dalam pendidikan kebencanaan,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa anak berkebutuhan khusus merupakan aset bangsa yang harus mendapatkan perlindungan maksimal. Salah satu bentuk perlindungan tersebut adalah memastikan mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk menyelamatkan diri ketika menghadapi situasi darurat.
“Mereka adalah anak-anak kita yang harus kita lindungi. Kita ingin mereka mengenal lingkungan sekitar, memahami risiko yang ada, dan mengetahui bagaimana cara menyelamatkan diri apabila terjadi bencana yang tidak kita inginkan,” katanya.
Firmanza berharap kegiatan simulasi mitigasi bencana ramah anak berkebutuhan khusus dapat menjadi program berkelanjutan yang menjangkau lebih banyak sekolah di Sulawesi Tengah. Dengan demikian, budaya sadar bencana dapat tumbuh sejak dini dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
“Saya kira kegiatan ini sangat bermanfaat. Melalui kegiatan seperti ini kita membangun kesiapsiagaan, kewaspadaan, dan kemampuan anak-anak dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi di wilayah kita,” pungkasnya.
Pada simulasi tersebut, para siswa mendapatkan berbagai materi dan praktik langsung terkait langkah penyelamatan diri saat gempa bumi, prosedur evakuasi, pengenalan titik kumpul aman, serta cara merespons kondisi darurat sesuai kebutuhan masing-masing peserta. Kegiatan berlangsung interaktif dengan melibatkan guru, pendamping, serta tim kebencanaan guna memastikan seluruh peserta dapat mengikuti simulasi dengan aman dan efektif. (*)
Editor : Agung Sumandjaya