Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Trauma Gempa 2018 Kembali Menghantui, Siswa Sekolah Rakyat Palu Pilih Mengungsi di Tenda

Ade Safitri • Rabu, 17 Juni 2026 | 14:55 WIB
Sejumlah siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 20 Palu berkumpul di sekitar tenda darurat bantuan Dinas Sosial Kota Palu, Rabu (17/6/2026), setelah memilih tidak kembali ke asrama akibat trauma gempa. (Ade Safitri/Radar Palu)
Sejumlah siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 20 Palu berkumpul di sekitar tenda darurat bantuan Dinas Sosial Kota Palu, Rabu (17/6/2026), setelah memilih tidak kembali ke asrama akibat trauma gempa. (Ade Safitri/Radar Palu)

RADAR PALU – Gempa yang kembali mengguncang Sulawesi Tengah tak hanya memicu kepanikan sesaat. Bagi sebagian anak-anak di Kota Palu, getaran itu membangunkan kembali ingatan traumatis tentang bencana gempa, tsunami, dan likuefaksi yang melanda daerah ini pada 2018 silam.

Suasana tersebut terlihat di Sekolah Rakyat Terintegrasi 20 Palu. Sejak gempa terjadi pada Selasa (16/6/2026), para siswa yang tinggal di asrama memilih tidak lagi bermalam di dalam gedung. Mereka lebih merasa aman berada di tenda darurat yang didirikan di halaman sekolah.

Dua unit tenda bantuan Dinas Sosial Kota Palu dan Taruna Siaga Bencana (Tagana) dipasang sebagai tempat berlindung sementara. Sejak Rabu (17/6/2026), sebagian besar aktivitas siswa dipusatkan di ruang terbuka, mulai dari makan bersama hingga kegiatan pembinaan. 

Baca Juga: Plafon Runtuh dan Dinding Retak, Siswa MAN 2 Palu Belajar Online Pasca-Gempa M 6,7

Wali Asuh Sekolah Rakyat Terintegrasi 20 Palu, Yacob, mengatakan ketakutan yang dialami anak-anak tidak bisa dilepaskan dari pengalaman bencana besar yang pernah mereka saksikan maupun dengar dari keluarga mereka.

"Memang ini dampak dari 2018 kemarin. Sehingga kami bersama teman-teman yang bertugas saat itu berusaha menenangkan anak-anak yang memang masih trauma dengan kejadian 2018," kata Yacob.

Ia mengisahkan suasana panik yang terjadi saat gempa mengguncang. Ketika itu sebagian besar siswa sedang beristirahat di kamar asrama lantai dua.

Suara gemuruh yang terdengar cukup keras membuat anak-anak spontan berlari meninggalkan kamar menuju area terbuka. 

Baca Juga: Pasca Gempa Palu, Siswa Belajar Daring dari Rumah, Guru Tetap Masuk Sekolah

"Posisinya saya di kamar. Rata-rata semua anak-anak juga sedang istirahat. Ketika kejadian, bunyi gemuruhnya memang luar biasa. Anak-anak langsung lari semua dan kami arahkan ke lapangan terbuka," ujarnya.

Meski berhasil dievakuasi ke tempat aman, kondisi psikologis sebagian siswa belum sepenuhnya pulih. Bahkan setelah tenda darurat berdiri pada malam harinya, sejumlah anak masih terlihat menangis dan sulit menenangkan diri.

Para wali asuh terus memberikan pendampingan agar kepanikan tidak berkembang menjadi ketakutan yang lebih besar.

"Masih ada yang menangis. Kami coba tenangkan dan memberikan pemahaman agar tidak panik. Karena kepanikan justru bisa membahayakan. Makanya aktivitas anak-anak sementara kami pusatkan di area terbuka," tutur Yacob.

Trauma yang sama dirasakan Clara Juwita, siswi kelas VII yang tinggal di asrama lantai dua. Saat gempa terjadi, Clara sedang tertidur sendirian di kamar.

Ia terbangun dalam kondisi gelap sebelum mendengar teriakan teman-temannya yang berlarian keluar menyelamatkan diri.

"Sempat bangun. Pas bangun kaget karena kamar gelap semua. Saya dengar teman-teman teriak dari luar, baru sadar kalau ada gempa. Saya langsung lari keluar. Sempat terbentur juga kepala saya di kasur," cerita Clara. 

Baca Juga: Gempa Sigi: 550 KK Terdampak, Air Bersih dan Tenda Jadi Kebutuhan Mendesak Warga Nokilalaki

Meski gempa utama telah berlalu, rasa takut masih membekas di benaknya. Saat ditanya apakah sudah siap kembali tidur di asrama, Clara mengaku belum berani.

"Takut. Masih gelisah. Tadi malam juga tidurnya tidak nyenyak," katanya singkat.

Saat ini pihak sekolah berupaya membantu pemulihan psikologis para siswa dengan memperbanyak kegiatan di luar ruangan, seperti bina lingkungan dan salat berjamaah.

Langkah tersebut dilakukan agar perhatian anak-anak dapat teralihkan dari ketakutan yang mereka rasakan, sembari menunggu situasi gempa susulan benar-benar mereda dan rasa aman kembali tumbuh di lingkungan sekolah.***

Editor : Muhammad Awaludin
#Trauma Gempa Palu #Tenda Darurat Palu #Anak Sekolah Trauma #Pengungsi Gempa Palu #Dampak Psikologis Gempa