RADAR PALU – Sejumlah sekolah di Kota Palu dan Kabupaten Sigi mengalihkan kegiatan belajar mengajar ke sistem daring pada Rabu (17/6/2026), sehari setelah gempa bumi berkekuatan 7,6 magnitudo mengguncang wilayah Sulawesi Tengah.
Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi sekaligus mempertimbangkan kondisi psikologis siswa yang masih trauma dengan bencana gempa dan tsunami Palu tahun 2018.
Meski siswa diminta belajar dari rumah, aktivitas di sekolah tidak sepenuhnya berhenti. Para guru dan tenaga kependidikan tetap hadir untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan administrasi menjelang pembagian rapor dan rapat kenaikan kelas.
Baca Juga: Gempa Berpusat di Sigi, Relawan PKS Langsung Terjun Asessment dan Salurkan Bantuan
"Kami tidak meliburkan sekolah. Murid belajar dari rumah secara daring, tetapi aktivitas sekolah tetap berjalan," kata Kepala SDN Inpres 2 Palu, Suryana M. Makawaru, saat dihubungi, Rabu.
Menurutnya, guru tetap datang ke sekolah untuk melakukan pengolahan nilai karena jadwal pembagian rapor sudah semakin dekat.
"Guru datang untuk menyelesaikan pengolahan nilai karena penyerahan rapor dijadwalkan pada 22 Juni 2026. Namun tidak ada kewajiban bagi guru untuk hadir karena kondisi saat ini masih kurang kondusif," ujarnya.
Baca Juga: Gempa 6,7 SR Guncang Torue, Sejumlah Rumah Alami Kerusakan, Polisi Pastikan Tidak Ada Korban Jiwa
Kekhawatiran terhadap trauma pascagempa menjadi alasan utama sekolah memilih pembelajaran dari rumah. Banyak orang tua masih merasa cemas mengizinkan anak mereka kembali ke sekolah.
Kepala SDN 2 Palu, Salbia, mengatakan kebijakan tersebut mengikuti arahan Dinas Pendidikan sekaligus merespons kekhawatiran wali murid.
"Anak-anak belajar dari rumah karena banyak yang masih trauma mengingat kejadian tahun 2018. Namun guru tetap standby di sekolah seperti biasa," katanya.
Selain faktor psikologis, kondisi sejumlah bangunan sekolah bertingkat juga menjadi pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan.
Kepala SDN 15 Palu, Yusuf, mengatakan pihaknya memilih tidak menghadirkan siswa ke sekolah karena kondisi belum sepenuhnya aman.
"Masih ada kekhawatiran karena beberapa sekolah memiliki bangunan dua lantai. Untuk hari ini anak-anak belajar dari rumah," ujarnya.
Kebijakan serupa diterapkan di tingkat SMP. Kepala SMPN 2 Palu, Erik Ruben, mengatakan keputusan belajar daring diambil setelah mempertimbangkan kondisi psikologis siswa dan orang tua.
Baca Juga: Cerita dari Tenda Pengungsian di Kamarora A, Sigi, Menanti Air Bersih di Tengah Ketakutan Pascagempa
"Banyak orang tua masih trauma sehingga sekolah memutuskan siswa belajar dari rumah. Guru tetap masuk karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan terkait kenaikan kelas," katanya.
Kepala SMPN 14 Palu, Bahrija, menjelaskan sebagian besar siswa telah menyelesaikan ujian semester sehingga pembelajaran daring tidak terlalu mengganggu proses akademik.
"Anak-anak tinggal menunggu pembagian rapor. Jika masih ada tugas yang perlu diselesaikan bisa dikumpulkan secara daring. Sementara guru menyelesaikan pengolahan nilai dan administrasi sekolah," ujarnya.
Baca Juga: Polres Sigi Gerak Cepat Tangani Korban Gempa
Di tingkat SMA dan SMK, kebijakan yang sama juga diterapkan.
Kepala SMKN 6 Palu, Asri Djagorante, mengatakan guru dan tenaga tata usaha tetap hadir karena ada agenda rapat kenaikan kelas dan pengumuman hasil seleksi peserta didik baru.
"Untuk siswa kami liburkan sesuai arahan dinas. Namun guru dan tenaga tata usaha tetap hadir berdasarkan kesepakatan bersama," katanya.
Sementara Kepala SMA Al-Azhar Mandiri Palu, Arafat, menyebut guru tetap masuk sekolah untuk menyelesaikan pengolahan nilai dan persiapan rapat kenaikan kelas.
Kepala SDN 26 Palu, Maryam, mengatakan keputusan belajar dari rumah juga mempertimbangkan kondisi akses evakuasi sekolah yang dinilai kurang ideal jika terjadi situasi darurat.
"Jalan evakuasi di sekolah kami cukup sempit sehingga kami bersama guru dan orang tua sepakat pembelajaran dilakukan dari rumah untuk sementara waktu," ujarnya.
Maryam menegaskan para guru tetap hadir karena tidak ada instruksi libur bagi ASN.
Baca Juga: SATRIA Sulteng Dirikan Posko Bencana di Nokilalaki, Salurkan Ratusan Dus Bantuan untuk Korban Gempa
"Kami tetap datang ke sekolah dengan tetap waspada karena tidak ada arahan libur dari pemerintah daerah," katanya.
Meski pembelajaran dilakukan dari rumah pada hari ini, sejumlah sekolah berharap aktivitas belajar tatap muka dapat kembali normal dalam waktu dekat apabila kondisi dinilai aman.
Kepala SDN Model Terpadu Madani Palu, Hasan Mahmud Halidi, menyatakan pihaknya hanya menerapkan pembelajaran dari rumah selama satu hari.
Baca Juga: BPBD Sulteng Kerahkan Tim Darurat dan Alat Berat ke Wilayah Gempa
"Pembelajaran dilaksanakan dari rumah pada Rabu. Untuk Kamis dan Jumat direncanakan kembali normal sambil tetap memperhatikan perkembangan situasi," ujarnya.
Selain pembelajaran, sejumlah sekolah juga melaporkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk sementara tidak didistribusikan pada Rabu.
Pihak sekolah berharap aktivitas gempa susulan segera mereda sehingga kegiatan belajar mengajar dapat kembali berlangsung normal dan siswa dapat bersekolah dengan aman.***
Editor : Muhammad Awaludin