RADAR PALU - Riuh tawa terdengar dari berbagai sudut Lapangan Vatulemo pada Jumat malam, (22/5/2026). Di tengah kebiasaan masyarakat yang lekat dengan telepon genggam, puluhan warga justru sibuk berlari, bermain benteng, hingga lompat karet bersama dalam kegiatan komunitas Ayo Bermain Palu.
Suasana malam itu terasa berbeda. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa larut memainkan permainan tradisional yang dulu akrab di lingkungan perumahan dan halaman sekolah.
Sebagian warga awalnya hanya menonton. Namun suasana hangat dan penuh canda membuat banyak orang akhirnya ikut bermain bersama.
Baca Juga: UMKM Palu Serbu Vatulemo, Merek dan Karya Seni Ramai Didaftarkan
Komunitas Ayo Bermain Palu menghadirkan kegiatan tersebut dengan slogan “Simpan Hpmu, kamaimomore”. Kegiatan itu berangkat dari keresahan melihat anak-anak dan remaja yang kini lebih sering menghabiskan waktu dengan gadget.
Anggota tim Ayo Bermain Palu, Uchup, mengatakan permainan tradisional ingin kembali diperkenalkan agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
“Kalau untuk kita sendiri, gara-gara kita lihat teman-teman, adik-adik, semua Hp (Handphone). Jadi kenapa tidak kita bikin game-game tradisional untuk tetap hidup di zaman sekarang,” katanya.
Baca Juga: Ramai hingga Dini Hari, Lapangan Vatulemo Jadi Magnet Rekreasi di Kota Palu
Awalnya panitia hanya menyiapkan tiga permainan, yakni kelahar, kedende, dan lompat karet. Namun semakin banyak warga yang datang, permainan lain ikut muncul secara spontan.
Ada yang memainkan benteng, jengkal, hingga congklak bersama teman-temannya. Lapangan yang biasanya dipenuhi orang dengan ponsel di tangan berubah menjadi ruang berkumpul dan bercengkerama.
Kenangan Masa Kecil yang Kembali Terasa
Bagi sebagian warga, permainan tradisional malam itu bukan sekadar hiburan. Kegiatan tersebut juga menghadirkan kembali suasana masa kecil yang mulai jarang dirasakan.
Farha (29), warga Sigi, mengaku permainan tradisional menjadi hal yang paling ia rindukan.
“Sebenarnya ini permainan yang paling dirindukan,” ujarnya.
Menurut Farha, kegiatan seperti itu penting agar generasi sekarang tetap mengenal permainan yang dulu akrab dimainkan sebelum era gadget berkembang seperti sekarang.
“Lebih bagus kalau diadakan setiap bulan supaya kita tidak gadget-gadget terus. Jadi anak-anak sekarang tahu, oh iya permainan ini ada dan ternyata memang seseru ini,” katanya.
Ia juga merasakan suasana kebersamaan yang muncul selama permainan berlangsung. Warga yang sebelumnya tidak saling mengenal terlihat mudah bercanda dan saling membantu.
“Karena sekarang kan apa-apa gadget. Kalau di sini ada yang sakit atau kesusahan pasti ada yang bantu. Kebersamaannya terasa,” tutupnya.
Di tengah aktivitas masyarakat yang semakin dekat dengan layar ponsel, permainan tradisional ternyata masih mampu menghadirkan rasa hangat yang sederhana. Bukan hanya tentang permainan, tetapi juga tentang kenangan masa kecil dan kebersamaan yang kembali terasa.***
Editor : Muhammad Awaludin