RADAR PALU – Program pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) yang digelar Pemerintah Kota Palu mendapat sambutan positif dari komunitas Tuli. Kelas Bahasa Isyarat tersebut dinilai menjadi langkah penting membuka akses komunikasi dan informasi yang lebih inklusif bagi penyandang tuli di Kota Palu.
Program orientasi pengenalan budaya tuli, etika berinteraksi, dan aturan dalam pelatihan Bisindo itu mulai dilaksanakan di Kantor Wali Kota Palu, Rabu (20/5/2026). Kehadiran program tersebut disebut telah lama dinantikan sejak tahun 2021.
Salah seorang juru bahasa isyarat (JBI) Kota Palu, Kania, mengaku bersyukur karena pemerintah daerah akhirnya mendukung pelaksanaan kelas Bahasa Isyarat bagi masyarakat.
Baca Juga: Pelayanan Inklusif di Palu Diperkuat Lewat Budaya Tuli
“Antusias teman-teman sebelum mulai kelas Bahasa Isyarat itu luar biasa banget, karena akhirnya Kota Palu mendukung adanya kelas Bahasa Isyarat yang sudah diidam-idamkan sejak tahun 2021,” tutur Kania saat ditemui di kantor wali kota, Rabu (20/5/2026).
SDM Juru Bahasa Isyarat di Palu Masih Terbatas
Kania mengatakan program tersebut tidak hanya menjadi ruang belajar komunikasi, tetapi juga mendukung akses informasi bagi penyandang tuli di Kota Palu. Menurutnya, keterbatasan jumlah juru bahasa isyarat masih menjadi kendala dalam pelayanan informasi kepada komunitas Tuli.
Baca Juga: Gerkatin Sulteng Jajaki Kerja Sama dengan Pemkot Palu soal Aksesibilitas Tuli
Ia menyebut jumlah SDM juru bahasa isyarat di Kota Palu saat ini masih sangat sedikit. Total penerjemah bahasa isyarat hanya empat orang, termasuk dirinya.
“Untuk SDM juru bahasa isyarat sendiri hanya ada tiga orang, belum termasuk saya, jadi cuma empat,” jelasnya.
Kondisi tersebut dinilai belum sebanding dengan kebutuhan masyarakat Tuli yang semakin aktif mengikuti kegiatan sosial maupun diskusi publik di Kota Palu.
Akses Informasi untuk Komunitas Tuli Diperkuat
Dengan jumlah penerima manfaat yang mencapai puluhan orang, keterbatasan penerjemah bahasa isyarat membuat akses informasi bagi penyandang tuli masih minim. Karena itu, komunitas Tuli berharap pelatihan Bisindo dapat melahirkan lebih banyak tenaga penerjemah bahasa isyarat.
Kania berharap dukungan Pemerintah Kota Palu melalui kelas Bahasa Isyarat dapat memperluas keterlibatan penyandang tuli dalam berbagai forum publik dan kegiatan masyarakat.
“Harapan ke depan dengan adanya kelas ini bisa menambah SDM juru bahasa isyarat, dan makin banyak teman-teman Tuli yang bisa terlibat di dalam setiap diskusi, karena adanya akses informasi,” pungkasnya.
Program pelatihan Bisindo tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Palu memperkuat pelayanan publik yang inklusif bagi seluruh masyarakat tanpa hambatan komunikasi.***
Editor : Muhammad Awaludin