RADAR PALU - Momen santai Wali Kota Palu Hadianto Rasyid bersama seorang emak-emak pemulung mencuri perhatian publik. Percakapan ringan itu terjadi saat Hadianto meninjau kawasan bantaran Sungai Palu di Kelurahan Maesa, Senin (19/5/2026).
Di tengah aktivitas kerja lapangan, Hadianto tampak melontarkan candaan kepada perempuan yang akrab disapa “Ina” tersebut. Suasana percakapan berlangsung santai dan penuh keakraban.
Dalam unggahan Instagram pribadinya, Hadianto menuliskan pesan hangat tentang sosok Ina yang ditemuinya di kawasan bantaran sungai.
Baca Juga: Menenun Fajar di Tepi Teluk Palu, Kisah Pembangunan Hadianto Rasyid
“Ba cerita dengan ina di ujung Jin Sulawesi, tidak jauh dari bantaran Sungai Palu. Ina kita ini berhasil sekolahkan banyak anaknya dengan profesinya sebagai pemulung. Semoga Allah Subhanuhu Wa Ta'ala selalu berikan keberkahan dalam kehidupan ina,” tulis Hadianto dalam caption unggahan tersebut.
Percakapan ringan itu bukan hanya soal candaan. Hadianto juga sempat menanyakan kabar Ina dan melontarkan pertanyaan santai tentang keluarga sang emak-emak.
Cerita tentang Ina kemudian mendapat banyak respons dari warga di media sosial. Banyak komentar yang menyoroti perjuangan seorang ibu yang tetap bekerja demi pendidikan anak-anaknya.
Baca Juga: Hadianto Rasyid Soroti Kepala Sekolah Otoriter, Tegaskan Sekolah Harus Aman untuk Guru
Salah satu komentar warga menyebut suasana dalam unggahan tersebut terasa hangat dan penuh kepedulian.
“Pagi pagi adem sekali liat foto inii yang penuh kasih sayang. Dan tanpa ada skat dengan siapapun sehat selalu pak wali,” tulis salah satu akun di kolom komentar.
Respons tersebut muncul karena interaksi antara kepala daerah dan warga berlangsung sederhana tanpa sekat formal. Momen itu juga memperlihatkan aktivitas lapangan yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Kisah Pemulung di Bantaran Sungai Palu
Kelurahan Maesa menjadi salah satu lokasi yang ditinjau Pemerintah Kota Palu dalam kegiatan lapangan. Di kawasan bantaran Sungai Palu, sebagian warga masih menggantungkan penghasilan dari pekerjaan informal.
Sosok Ina menjadi perhatian karena tetap bekerja sebagai pemulung sambil membiayai pendidikan anak-anaknya. Kisah itu dinilai mewakili perjuangan banyak keluarga kecil di tengah kondisi ekonomi yang tidak mudah.
Interaksi santai bersama Hadianto Rasyid kemudian menyebar luas di media sosial dan mendapat perhatian warga Palu. Tidak sedikit yang menilai momen tersebut menghadirkan sisi humanis dalam aktivitas pemerintahan.
Di balik candaan ringan itu, terselip cerita tentang perjuangan hidup dan harapan seorang ibu untuk masa depan anak-anaknya.***
Editor : Muhammad Awaludin