RADAR PALU – Menjelang Hari Raya Iduladha, kerajinan tradisional kamboti kembali mendapat perhatian masyarakat di Kelurahan Kayumalue Ngapa, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu. Anyaman berbahan daun silar itu kini mulai dilirik sebagai alternatif ramah lingkungan pengganti kantong plastik untuk pembagian daging kurban.
Meningkatnya imbauan pemerintah terkait pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dinilai menjadi momentum penting bagi pengrajin kamboti untuk menghidupkan kembali kerajinan tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun. Selain ramah lingkungan, kamboti juga dinilai lebih kuat dan dapat digunakan berulang kali.
Selama ini, kamboti dikenal masyarakat sebagai wadah penyimpanan berbagai kebutuhan rumah tangga seperti rempah-rempah, telur, ikan kering hingga hasil kebun. Bentuknya sederhana, namun cukup kokoh untuk menampung sekitar satu kilogram daging kurban.
Baca Juga: Eco-Qurban Palu Digencarkan, Warga Diajak Kurangi Plastik
Salah satu pengrajin kamboti, Irsyal Y Rajampangi, mengatakan bahan baku utama berupa daun silar diperoleh dari wilayah Kelurahan Baiya dan Kayumalue Ngapa. Seluruh proses pembuatan masih dilakukan secara tradisional dengan cara dianyam menggunakan tangan.
“Daun silar ini kami ambil di Baiya dan sebagian di Kayumalue Ngapa. Sampai sekarang masih dibuat secara tradisional bersama ibu-ibu di lingkungan sini,” katanya kepada wartawan, Selasa (19/5).
Irsyal menjelaskan, dalam sehari para pengrajin mampu menghasilkan sekitar 50 buah kamboti, tergantung ketersediaan bahan baku. Meski begitu, pemasaran masih menjadi kendala utama yang dihadapi para pengrajin.
Pada momentum Iduladha tahun lalu, mereka sempat menyiapkan sekitar seribu buah kamboti untuk kebutuhan pembagian daging kurban. Namun, hanya sekitar 300 buah yang berhasil terjual.
“Yang terambil cuma tiga ratus, sisanya sampai tujuh ratus akhirnya dibakar karena tidak dipakai,” ujarnya.
Baca Juga: Pengawasan Hewan Kurban Palu Diperketat Jelang Iduladha
Kondisi tersebut membuat para pengrajin kesulitan mempertahankan usaha anyaman tradisional yang selama ini menjadi bagian dari aktivitas masyarakat setempat.
Karena itu, mereka berharap pemerintah daerah, panitia kurban, hingga berbagai instansi mulai melirik penggunaan kamboti sebagai pengganti kantong plastik.
Menurut Irsyal, penggunaan kamboti sejalan dengan program Pemerintah Kota Palu yang mendorong pengurangan sampah plastik, terutama saat pembagian hewan kurban yang biasanya menghasilkan tumpukan sampah kantong sekali pakai.
Dengan harga sekitar Rp5 ribu per buah, kamboti dinilai cukup ekonomis. Selain digunakan sebagai wadah daging kurban, anyaman tersebut juga masih bisa dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan rumah tangga.
“Ibu-ibu bisa pakai lagi untuk simpan tomat, telur, ikan kering atau rempah-rempah. Jadi lebih praktis dan bisa menggantikan plastik,” jelasnya.
Dari sisi ketahanan, kamboti dapat digunakan dalam waktu cukup lama apabila disimpan dengan baik. Anyaman daun silar itu bahkan bisa bertahan hingga satu tahun.
Baca Juga: Lomba Inovasi Palu 2026 Fokus Kuliner dan TTG
Warga Kayumalue Ngapa berharap momentum Iduladha tahun ini menjadi peluang baru untuk memperkenalkan kembali kamboti kepada masyarakat luas.
Selain membantu mengurangi timbunan sampah plastik, penggunaan kamboti juga diharapkan mampu menggerakkan ekonomi warga dan menjaga keberlangsungan kerajinan tradisional lokal.
Editor : Wahono.