RADAR PALU – Jalanan Kota Palu seketika berubah menjadi panggung budaya raksasa saat ribuan siswa tumpah ruah dalam Karnaval Budaya peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, Sabtu (9/5/2026). Ada yang menarik di tengah kemeriahan ini, sebuah kolaborasi epik dari 14 sekolah yang tergabung dalam Gugus V mencuri perhatian warga dengan konsep yang tak biasa.
Gemuruh suara gendang dan alunan suling memecah keramaian di pusat Kota Palu pagi tadi. Bukan sekadar pawai biasa, ini adalah perayaan besar insan pendidikan di Sulawesi Tengah.
Gugus V, yang mengoordinasi sekolah-sekolah di wilayah Tondo, Talise, dan Layana Indah, tampil beda. Elaborasi gugus ini terdiri dari SDN Tondo, SD Inpres 1 Tondo, SD Inpres 3 Tondo, SD Inpres 2 Tondo, SDN 1 Talise, SDN Inpres 2 Talise, SDN 2 Talise, SD Lik Layana, SDN MT Madani, SD Hidayatullah, SD Unggulan Putra Kaili Permata Bangsa, SD Islam Alfat, dan terakhir SD Al-Khairaat. Mereka tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan melebur dalam satu kesatuan barisan yang solid.
Baca Juga: Radar Palu dan Mahasiswa Magang Komunikasi Fisip Untad Dorong Lahirnya Jurnalis Muda Digital
Ketua Gugus V yang juga menjabat Kepala SDN Tondo, Leni Anggreini, mengungkapkan bahwa karnaval tahun ini membawa semangat kebersamaan yang lebih kuat.
Tahun ini, Gugus V mengusung tema yang sangat dalam: "Menghidupkan Tradisi di Era Modern". Pesannya jelas, anak muda Palu tidak boleh lupa akar budaya di tengah gempuran teknologi. Visualisasi tema ini digambarkan lewat sosok seorang putri daerah yang tampil anggun namun enerjik.
"Konsepnya adalah seorang putri yang bermain bersama teman-temannya menggunakan alat musik daerah berupa gendang, suling, sambil bernyanyi lagu daerah," jelas Leni dengan semangat.
Baca Juga: Pria 22 Tahun Ditemukan Meninggal di Belakang Hotel Swiss-Bel Palu
Untuk komposisi tim, mereka mengirimkan 6 siswa perwakilan terbaik dari sekolah-sekolah di Gugus V. Tak ketinggalan, 14 orang kepala sekolah ikut terjun langsung mengawal barisan.
Menurut Leni, ada perubahan signifikan yang dirasakan pada karnaval tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya. Jika dulu sekolah saling "adu gengsi" secara mandiri, sekarang mereka justru harus kompak.
"Perbedaan dari karnaval sebelumnya pada tahun ini peserta karnaval untuk sekolah dasar berdasarkan gugus jadi, beberapa sekolah berkolaborasi untuk menampilkan kreasi dari gugusnya," ungkap Leni.
Menurutnya, pada tahun lalu peserta dikirim berdasarkan masing-masing sekolah dengan kuota terbatas satu peserta per sekolah. Pola baru ini dinilai lebih efektif membangun silaturahmi antar-guru dan murid.
Meski berlangsung meriah, Leni menyisipkan satu harapan besar bagi panitia untuk penyelenggaraan tahun-tahun mendatang. Ia berharap apresiasi bagi kreativitas siswa bisa lebih meluas.
"Harapannya ditahun berikutnya agar jumlah pemenangnya dari jenjang TK, SD, dan SMP dapat diperbanyak lagi sampai juara 3, karena tahun ini pemenangnya hanya 1 saja untuk tiap jenjang," pungkasnya.
Pantauan di lapangan, ribuan warga memadati trotoar untuk menyaksikan pawai ini. Karnaval Budaya Hardiknas 2026 pun sukses menjadi hiburan sekaligus edukasi bagi masyarakat Palu.***
Editor : Muhammad Awaludin