RADARPALU – Ribuan masyarakat memadati Masjid Raya Baitulkhairaat, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Rabu sore (15/4). Mereka hadir mengikuti tausiyah pendakwah nasional Hanan Attaki dalam kegiatan bertajuk “Gema Dakwah Berani Berkah”, yang merupakan rangkaian Hari Ulang Tahun ke-62 Provinsi Sulteng.
Dalam ceramahnya yang berlangsung sekitar satu jam, Hanan menekankan pentingnya menyampaikan kebenaran dengan cara yang bijak dan relevan dengan perkembangan zaman.
Ia menilai, pendekatan dakwah saat ini tidak lagi efektif jika dilakukan dengan cara keras, melainkan harus mengedepankan kelembutan dan kasih sayang agar lebih mudah diterima masyarakat.
Baca Juga: Sekkab Parimo Tegaskan Tak Ada Kebijakan Merumahkan PPPK, Bupati Pastikan Tetap Diperjuangkan
“Dakwah bukan sekadar soal kata-kata, tetapi bagaimana menyampaikan kebenaran dengan penuh kasih sayang. Berani, tetapi tetap membawa berkah, itu yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya di hadapan jemaah.
Selain itu, Hanan juga memperkenalkan konsep dakwah berbasis lingkungan melalui gerakan adopsi pohon yang digagas komunitas Wise Pesantren.
Ia menjelaskan, menjaga alam merupakan bagian dari rasa syukur kepada Tuhan, sekaligus upaya membangun kesadaran ekologis, khususnya di kalangan generasi muda.
Tak hanya itu, pendiri Raheela Project tersebut turut mengajak anak muda untuk menjadikan nilai-nilai agama sebagai pegangan dalam menghadapi tantangan kehidupan modern, termasuk tekanan mental dan perubahan sosial.
Dengan gaya penyampaian yang santai dan dekat dengan generasi milenial, pesan yang disampaikan pun disambut antusias oleh para jemaah.
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Hanan Attaki di Palu. Menurutnya, dakwah yang menyasar generasi muda sangat penting dalam memperkuat moral masyarakat di tengah pembangunan daerah.
“Kami berharap tausiyah ini menjadi penyemangat bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk ikut berkontribusi membangun Sulawesi Tengah yang lebih maju dan berakhlak,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Sulteng, Firmanza DP, menilai kegiatan tersebut memiliki nilai edukatif dalam pembentukan karakter pelajar. Ia menegaskan, pendidikan spiritual menjadi bagian penting yang melengkapi pendidikan formal.
“Melalui pendekatan yang dekat dengan dunia anak muda, kita ingin menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya kuat secara intelektual, tetapi juga rohani,” ujarnya.
Antusiasme masyarakat sudah terlihat sejak satu jam sebelum acara dimulai. Masjid utama dipenuhi jemaah hingga meluber ke area luar. Panitia pun menyiapkan layar tambahan agar seluruh peserta tetap dapat mengikuti jalannya kegiatan.
Kegiatan yang mengusung tema “Bersatu Dalam Nawa Cita Berani, Menuju Sulteng Nambaso” itu ditutup dengan doa bersama dan salat Magrib berjamaah.(mg2)
Editor : Mugni Supardi