RADAR PALU – Kasus campak di wilayah Kelurahan Duyu dan sejumlah kelurahan di sekitarnya di Kota Palu, Sulawesi Tengah, mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir. Data Puskesmas Sangurara menunjukkan puluhan kasus campak telah ditemukan sejak awal tahun 2026.
Sejak Januari hingga awal April 2026, puluhan kasus campak tercatat di wilayah kerja Puskesmas Sangurara. Penyebaran campak tersebut terjadi di lima kelurahan, dengan Duyu menjadi salah satu wilayah yang cukup terdampak.
Lonjakan campak ini terjadi di tengah meningkatnya kasus campak secara lebih luas di Sulawesi Tengah. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, jumlah kasus campak di tingkat provinsi telah menembus lebih dari 500 kasus, sedangkan kasus campak di Kota Palu sendiri sudah melampaui 100 kasus sepanjang tahun ini.
Baca Juga: Penyakit Campak Masih Mengancam, Ini Gejala dan Pencegahannya
Kepala Puskesmas Sangurara, Suardi, mengatakan peningkatan kasus campak sudah terlihat secara bertahap sejak awal tahun. “Total kasus yang terdata di wilayah kerja kami mencapai 62 kasus, terhitung dari minggu pertama Januari sampai sekarang,” ujarnya saat ditemui oleh tim Radar Palu di Puskesmas Sangurara, Jalan Pomandu, Rabu (1/04/2026).
Ia menjelaskan, kasus campak tersebut tersebar di lima kelurahan yang berada dalam wilayah kerja Puskesmas Sangurara, yakni Duyu, Nunu, Bayoge, Balaroa, dan Donggala Kodi, sehingga penanganan campak perlu dilakukan secara merata di seluruh wilayah tersebut.
Suardi menerangkan, campak merupakan penyakit menular yang biasanya ditandai dengan demam dan munculnya ruam merah pada kulit. Penyakit campak ini mudah menyebar melalui percikan dari penderita, terutama jika kondisi sanitasi lingkungan kurang baik dan perilaku hidup bersih masyarakat masih rendah.
Selain itu, sebagian besar penderita campak merupakan anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi sehingga lebih rentan terinfeksi campak. “Biasanya kasus banyak ditemukan pada anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi, sehingga lebih rentan tertular,” jelasnya.
Dalam upaya penanganan campak, pihak puskesmas melakukan sejumlah langkah seperti edukasi kepada masyarakat tentang pencegahan campak, penyelidikan epidemiologi untuk menelusuri kontak erat pasien campak, hingga pemberian obat pencegahan bagi orang yang berisiko tertular.
“Setiap ada kasus, kami lakukan pelacakan kontak agar tidak muncul penularan berikutnya. Kami juga melakukan penyemprotan di lingkungan sekitar pasien,” kata Suardi terkait upaya pengendalian penularan campak di wilayah tersebut.
Baca Juga: Kasus Campak Tembus 10.301, KLB Meluas di 13 Provinsi
Ia menambahkan, imunisasi rutin untuk mencegah campak tetap dijalankan melalui kegiatan posyandu. Selain itu, program Outbreak Response Immunization (ORI) juga dilaksanakan dengan sasaran anak usia 9 hingga 59 bulan untuk menekan penyebaran campak.
“Kami juga melaksanakan ORI dengan target ribuan anak agar kekebalan tubuh mereka terbentuk dan penularan bisa ditekan,” tambahnya terkait langkah pencegahan campak di wilayah kerja Puskesmas Sangurara.
Puskesmas Sangurara juga mengimbau masyarakat agar waspada terhadap gejala campak serta selalu menjaga kebersihan lingkungan. Masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala campak seperti demam dan ruam merah.
“Kami harap masyarakat aktif menjaga kebersihan dan segera berobat agar penyakit tidak menular ke orang lain,” tutup Suardi terkait upaya bersama dalam mencegah penyebaran campak.(mg1)
Editor : Nur Soima Ulfa