Pawai ogoh-ogoh menjadi bagian penting dari rangkaian upacara menjelang Nyepi, hari suci yang dimaknai sebagai momentum penyucian diri melalui keheningan. Sebelum arak-arakan dimulai, umat terlebih dahulu melaksanakan persembahyangan bersama di area pura sebagai simbol pembersihan lahir dan batin.
Dengan penuh kekhusyukan, doa-doa dipanjatkan sebagai wujud permohonan keselamatan dan keseimbangan hidup. Setelah itu, peserta mulai mengarak ogoh-ogoh mengelilingi kawasan sekitar pura.
Baca Juga: THR PPPK Palu Cair, Paruh Waktu Pakai Skema Khusus
Arak-arakan tersebut tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi sarat makna filosofis. Ogoh-ogoh melambangkan bhuta kala atau energi negatif yang diyakini dapat mengganggu keharmonisan kehidupan manusia. Melalui prosesi ini, umat Hindu diajak untuk mengendalikan diri serta membersihkan sifat-sifat buruk dalam diri.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Palu, I Made Lungayasa, menjelaskan bahwa ogoh-ogoh merupakan representasi sifat negatif manusia yang harus disucikan sebelum memasuki Hari Nyepi.
“Ogoh-ogoh melambangkan sifat negatif dalam diri manusia. Melalui prosesi ini, umat diingatkan untuk membersihkan diri sebelum menjalani Nyepi,” ujarnya.
Baca Juga: Kebersihan Kota Palu Lebaran Dijaga 24 Jam oleh DLHBaca Juga: THR PPPK Palu Cair, Paruh Waktu Pakai Skema Khusus
Ia menambahkan, rangkaian perayaan Nyepi diawali dengan upacara melasti, dilanjutkan pengerupukan yang ditandai dengan pawai ogoh-ogoh, hingga akhirnya memasuki Catur Brata Penyepian.
Pawai berlangsung meriah dengan iringan musik tradisional Bali serta berbagai bentuk ogoh-ogoh yang diusung para pemuda. Warga yang menyaksikan tampak antusias mengikuti jalannya arak-arakan dari awal hingga selesai.
Melalui peringatan ini, umat Hindu di Kota Palu berharap nilai-nilai spiritual Nyepi tidak hanya memperkuat kesadaran diri, tetapi juga mempererat kerukunan antarumat beragama di daerah tersebut. (Mg1)
Editor : Rony Sandhi