RADAR PALU – Masjid Nurul Iman yang berlokasi di Jalan Lagarutu, Kelurahan Tanamodindi, Kota Palu, menjadi salah satu masjid yang menyimpan sejarah panjang perkembangan kehidupan keagamaan masyarakat setempat.
Masjid ini telah ada sejak masa ketika wilayah tersebut masih didominasi hutan dan permukiman penduduk belum berkembang seperti sekarang.
Tokoh masyarakat sekaligus mantan Ketua Pengurus Masjid Nurul Iman, Hj. Aruji El Kaderito, menjelaskan bahwa cikal bakal masjid tersebut bermula sekitar tahun 1937.
Saat itu masyarakat setempat bersama kepala desa berinisiatif membangun tempat ibadah sederhana agar warga tidak perlu menempuh jarak jauh untuk melaksanakan salat, terutama pada bulan Ramadan.
“Waktu itu daerah ini masih hutan dan masjid di Kota Palu juga masih sangat sedikit. Karena jauh kalau mau salat tarawih, masyarakat bersama kepala desa berinisiatif membangun musala sederhana di sini,” ujar Aruji saat ditemui oleh Jawa Pos Group media Radar Palu pada Selasa (3/3/2026).
Bangunan awal masjid dibuat dengan material sederhana yang mudah ditemukan di sekitar wilayah tersebut. Tiang dan rangka bangunan menggunakan kayu Tamalanja, sementara atapnya terbuat dari rumbia atau daun sagu. Dindingnya pun hanya berupa anyaman kulit gaba-gaba.
Dalam proses pembangunannya, masjid tersebut turut didukung oleh sejumlah tokoh masyarakat setempat yang berperan besar dalam pembangunan awal.
Mereka secara swadaya menyumbangkan bahan dan tenaga, termasuk menyediakan tiang-tiang utama bangunan yang menjadi penopang masjid pada masa itu.
Aruji menuturkan bahwa pada awalnya masjid tersebut bernama Masjid Al-Makdis. Seiring perkembangan waktu dan kesepakatan masyarakat, nama tersebut kemudian diubah menjadi Masjid Nurul Iman yang berarti cahaya keimanan.
Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan kebutuhan ruang ibadah yang lebih layak, masjid tersebut kemudian mengalami pembangunan kembali.
Beberapa tahun kemudian, pembangunan kembali masjid dilakukan secara lebih menyeluruh atas inisiatif Hj. Aruji El Kaderito yang saat itu menjabat sebagai Kepala Desa, bersama masyarakat setempat.
Renovasi besar tersebut akhirnya diresmikan pada 2015 oleh Wali Kota Palu saat itu, M. Hidayat Lamakarate.
Menurut Aruji, pembangunan masjid dilakukan secara bertahap melalui swadaya masyarakat. Berbagai kebutuhan material seperti batu, pasir hingga bahan bangunan lainnya dikumpulkan melalui partisipasi warga.
“Awalnya kita kumpulkan masyarakat untuk musyawarah. Dari situ dibuat daftar kebutuhan material, mulai dari batu, pasir sampai bahan pondasi. Semua dibantu oleh masyarakat,” jelasnya.
Kini, Masjid Nurul Iman tidak hanya menjadi tempat ibadah bagi warga sekitar, tetapi juga menjadi simbol sejarah dan kebersamaan masyarakat Tanamodindi dalam membangun sarana keagamaan secara gotong royong dari generasi ke generasi.(mg2)
Editor : Mugni Supardi