RADAR PALU – Pemerintah Kecamatan Tawaeli terus mendorong pengembangan potensi wilayah melalui konsep kelurahan tematik. Selain menggali potensi unggulan di masing-masing kelurahan, kecamatan juga menghadirkan inovasi komunikasi bertajuk program BADENGAR sebagai wadah menyerap langsung aspirasi masyarakat.
Camat Tawaeli, Hendra Okto Utama, menjelaskan setiap kelurahan diarahkan untuk mengembangkan potensi khas yang dimiliki. Konsep kelurahan tematik ini diharapkan mampu memperkuat identitas wilayah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal.
“Setiap kelurahan punya ciri khas dan potensi sendiri. Tugas kami adalah mendorong agar potensi itu dikembangkan secara terarah sehingga bisa memberi nilai tambah bagi masyarakat,” ujarnya, Kamis (26/02/2026).
Beberapa kelurahan di Tawaeli telah memetakan potensi unggulannya masing-masing.
Di Kelurahan Lambara, Dusun Anja dikenal sebagai “Kampung Ose” atau kampung beras karena sebagian besar wilayahnya merupakan lahan persawahan produktif. Sementara Kelurahan Panau dikembangkan sebagai pusat kuliner dengan beragam jajanan khas yang menjadi daya tarik masyarakat.
Kelurahan Baiya mengusung konsep wisata dan ekowisata, memanfaatkan potensi pesisir, peternakan susu kambing, serta budidaya melon hidroponik. Sedangkan Kelurahan Pantoloan fokus pada pengelolaan sampah organik yang telah dipasarkan hingga ke luar wilayah.
Adapun Pantoloan Boya menonjolkan sektor tanaman pangan dan hortikultura, termasuk pengembangan alpukat dalam skala luas sebagai komoditas unggulan.
Menurut Hendra, pengembangan tersebut tidak hanya berbicara soal identitas, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga setempat.
Selain penguatan potensi wilayah, Kecamatan Tawaeli juga menghadirkan inovasi komunikasi melalui program BADENGAR.
“BADENGAR ini konsepnya kami turun langsung, duduk bersama warga secara santai untuk mendengar persoalan mereka. Jadi bukan pertemuan formal yang kaku,” jelasnya.
Melalui pendekatan dialog terbuka tersebut, warga diberikan ruang menyampaikan keluhan, kritik, maupun usulan tanpa rasa canggung. Pemerintah kecamatan kemudian menindaklanjuti setiap laporan secara cepat dan terukur.
Salah satu hasil konkret program BADENGAR adalah penyelesaian persoalan listrik tidak stabil di Dusun Anja yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Setelah menerima laporan warga, pihak kecamatan berkoordinasi dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Hasilnya, dilakukan penggantian kabel yang tidak sesuai standar, pemasangan tiang baru di 27 titik, serta perbaikan gardu listrik. Dalam waktu sekitar dua bulan, pasokan listrik di wilayah tersebut kembali stabil.
“Kami ingin masyarakat merasa nyaman menyampaikan aspirasi. Kantor camat ini milik masyarakat, dan setiap persoalan akan kami upayakan tindak lanjuti secepat mungkin,” tegasnya.
Ke depan, Hendra berharap konsep kelurahan tematik dan pendekatan dialog langsung melalui BADENGAR dapat memperkuat pembangunan berbasis kebutuhan riil masyarakat serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan di Tawaeli.***
Editor : Muhammad Awaludin