RADAR PALU - Menjelang Ramadan, suasana di Pemakaman Islam Talise, Palu, mulai berubah. Peziarah berdatangan, dan di sudut area makam, Sri Tini Haris kembali sibuk merangkai bunga.
Sudah 30 tahun ia berjualan bunga nyekar di tempat yang sama. Dari harga kembang Rp2 ribu hingga kini Rp10 ribu per paket, Sri tetap bertahan.
Sri bukan pedagang musiman yang baru muncul saat ramai. Ia sudah melewati tiga dekade, menyaksikan Talise sebelum dan sesudah tsunami.
“Dari dulu di sini terus. Harga kembang masih dua ribu waktu itu,” katanya, Rabu (18/2/2026).
Momentum ziarah memang tak setiap hari. Biasanya ramai menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Di luar itu, pembeli tak menentu.
Pendapatannya pun bergantung pada jumlah peziarah. Dalam hari biasa ia bisa membawa pulang sekitar Rp300 ribu. Sehari jelang lebaran, hasilnya bisa menyentuh Rp400 ribu.
“Itu juga tergantung. Harga pandan mahal, bunga beli di Pasar Inpres,” ujarnya.
Sri menjual satu paket berisi dua kantong bunga dan satu botol air seharga Rp10 ribu. Harga itu, katanya, tak pernah ia naikkan berlebihan meski permintaan meningkat.
Pengalamannya membuat ia punya banyak pelanggan tetap. Tak hanya untuk nyekar, beberapa pemesan bahkan membawanya hingga ke luar daerah.
“Ada juga umat Hindu pesan untuk sesajen. Biasanya jumlahnya banyak,” tuturnya.
Dari lapak sederhana itu, Sri membiayai sekolah anak-anaknya. Ia menyebut pekerjaan ini mungkin terlihat kecil, tapi cukup untuk menopang hidup keluarganya.
Di balik itu, ada cerita lain yang jarang diketahui orang. Sri merupakan salah satu penyintas tsunami 2018 yang dulu tinggal di sekitar Pantai Talise.
Ia berharap ada perhatian lebih dari pemerintah bagi pedagang kecil yang juga menjadi korban bencana.
“Semoga pemerintah bisa melirik kami. Kami ini korban tsunami juga,” katanya.***
Editor : Muhammad Awaludin