RADAR PALU - Berakhirnya kontrak satu dokter spesialis onkologi di RSUD Undata sempat memunculkan tanda tanya.
Namun manajemen rumah sakit menyebut justru di titik itu sistem pelayanan dibenahi. Antrean yang dulu menumpuk kini diklaim lebih terurai.
Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUD Undata Baru, dr. Franklin Lessyama Sinanu, mengatakan selama ini ada anggapan pasien harus ditangani satu dokter tertentu.
Stigma itu membuat beban pelayanan bertumpu pada satu orang.
“Dulu pasien maunya ke beliau saja. Akhirnya satu dokter menangani pasien sangat banyak dan terjadi penumpukan,” ujar Franklin, Rabu (11/2/2026).
Kini, skema pelayanan diubah.
Penanganan pasien dibagi ke dokter lain yang memiliki kompetensi dan kewenangan klinis serupa, termasuk dokter obstetri dan ginekologi.
Saat ini, ada tiga dokter subspesialis yang aktif melayani. Manajemen menargetkan jumlahnya bertambah menjadi lima orang.
Menurut Franklin, perubahan itu membuat waktu tunggu lebih terkendali dan persepsi bahwa layanan hanya bergantung pada satu dokter perlahan hilang.
Terkait ketersediaan tenaga medis, ia mengakui kebutuhan spesialis masih cukup besar.
RSUD Undata saat ini diperkuat 56 dokter spesialis organik dan 16 dokter spesialis kontrak.
Pihak rumah sakit, kata dia, tetap membuka peluang penambahan tenaga. Formasi PNS maupun P3K sempat ditawarkan, namun belum seluruh kandidat menyepakati pola kepegawaian tersebut.
Sebagai alternatif, manajemen menyiapkan skema dokter terbang atau dokter panggilan dari sejumlah fakultas kedokteran di Indonesia, sekaligus mendorong pendidikan lanjutan bagi dokter yang ada.***
Editor : Muhammad Awaludin