Dokter di Puskesmas Singgani, Palu, mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri, terutama jika sedang mengalami infeksi yang membutuhkan asupan cairan dan nutrisi cukup.
dr. Fenny Seliestyawaty menjelaskan, pada prinsipnya dokter akan menyesuaikan jadwal dan jenis obat agar tetap bisa diminum di luar jam puasa.
“Kalau misalnya yang tiga kali sehari, kita usahakan pilih yang bisa dikonsumsi saat sahur dan buka puasa. Jadi lebih memilih yang dua kali sehari,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).
Penyesuaian itu dilakukan agar terapi tetap berjalan tanpa mengganggu ibadah. Namun, tidak semua kondisi memungkinkan.
Menurutnya, pasien dengan infeksi akut—baik karena bakteri maupun virus—umumnya disarankan menunda puasa. Kondisi tersebut membutuhkan istirahat cukup serta asupan cairan dan nutrisi yang memadai.
“Biasanya kalau infeksi radang atau yang butuh antibiotik intensif, kita anjurkan istirahat dulu,” jelasnya.
Sementara untuk keluhan ringan seperti radang tenggorokan, puasa masih memungkinkan selama obat tetap diminum saat sahur dan berbuka, serta kondisi tubuh dipantau.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga kebersihan dan memakai masker saat beraktivitas di luar rumah. Meski pandemi telah berlalu, kasus batuk dan flu musiman masih cukup banyak terjadi.
“Ke mana-mana sebaiknya tetap pakai masker supaya terhindar dari infeksi virus atau bakteri. Apalagi sekarang lagi musim batuk flu,” katanya.
Konsultasi ke tenaga kesehatan, menurutnya, menjadi langkah paling aman sebelum memutuskan tetap berpuasa dalam kondisi sakit.***
Editor : Muhammad Awaludin