RADAR PALU – Gangguan kesehatan mental tak selalu tampak di permukaan. Ia hadir diam-diam, memengaruhi cara orang bekerja, belajar, dan berinteraksi. Di Kota Palu, beban tersembunyi itu mulai terbaca dari meningkatnya kunjungan warga ke layanan psikologi klinis di puskesmas.
Setelah menjalani masa uji coba selama tiga bulan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palu resmi memperpanjang kerja sama dengan Bincang Psikologi untuk penempatan psikolog klinis di sejumlah puskesmas selama satu tahun penuh. Perpanjangan Memorandum of Understanding (MoU) tersebut ditandatangani pada Kamis (15/1/2026).
Psikolog Klinis sekaligus pemilik Bincang Psikologi, Reza Malik Akbar, mengatakan keputusan itu diambil setelah evaluasi program periode Oktober–Desember 2025 menunjukkan tingginya kebutuhan layanan kesehatan mental di tingkat dasar.
“Evaluasi sudah kami jalankan, dan akhirnya Dinas Kesehatan Kota Palu meng-ACC perpanjangan MoU selama satu tahun. Ini berangkat dari perubahan yang terlihat selama tiga bulan program berjalan,” ujar Reza saat dikonfirmasi via telepon, Kamis (22/1/2026).
Saat ini, layanan psikologi klinis gratis baru tersedia di empat puskesmas, yakni Birobuli, Singgani, Tawaeli, dan Lere. Meski terbatas, data kunjungan menunjukkan kebutuhan masyarakat jauh lebih besar.
Sebanyak 350 pasien klinis tercatat datang langsung untuk menjalani konseling. Selain itu, lebih dari 500 warga lainnya terjangkau melalui program edukasi jemput bola di posyandu hingga sekolah-sekolah.
“Alhamdulillah—walaupun ini juga menjadi catatan serius—karena orang yang mengarah ke gangguan mental itu cukup banyak. Yang terdata ada 350 pasien klinik dan lebih dari 500 warga yang berhasil dijangkau,” kata Reza.
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan tekanan hidup, beban ekonomi, persoalan keluarga, hingga lingkungan sosial. Ketika layanan dibuka di puskesmas, warga yang sebelumnya memilih diam mulai berani datang.
Perpanjangan layanan psikolog klinis ini dinilai menjadi langkah penting agar masalah kesehatan mental tidak berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih luas. Dengan akses yang mudah dan gratis, warga bisa mendapatkan bantuan sejak dini sebelum berdampak pada produktivitas dan kualitas hidup.
Reza berharap layanan Psikologi Klinis Gratis ini terus berjalan dan menjangkau lebih banyak wilayah. Ia juga mendorong agar model layanan serupa dapat diterapkan di kabupaten dan kota lain di Sulawesi Tengah.
“Semoga ke depan, layanan ini bisa dirasakan lebih luas, karena kesehatan mental berpengaruh langsung pada kehidupan masyarakat,” ujarnya.***
Editor : Muhammad Awaludin