RADAR PALU– Kekerasan kerap meninggalkan luka yang tak kasat mata. Bukan hanya memar di tubuh, tetapi juga trauma yang lama bersarang di pikiran. Di Kota Palu, upaya memulihkan luka-luka itu dilakukan secara perlahan, senyap, dan dari rumah ke rumah.
Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Palu memilih hadir langsung di tengah perempuan korban kekerasan. Pendampingan, pemulihan psikologis, dan penguatan mental menjadi fokus utama agar para korban tak berhenti pada fase bertahan, tetapi mampu bangkit kembali.
Bidang Perlindungan Perempuan DP3A Kota Palu, Surtin, mengatakan sebagian besar perempuan binaan yang didampingi berada dalam kondisi psikis yang rapuh. Karena itu, pendekatan personal menjadi kunci.
Pendampingan dilakukan dengan melibatkan psikolog. Para perempuan diberi ruang aman untuk bercerita, menangis, bahkan diam, hingga mereka siap menata kembali kepercayaan diri yang sempat runtuh.
Upaya ini tidak berdiri sendiri. DP3A Kota Palu juga menggandeng DAP dalam kegiatan sosialisasi penjagaan kesejahteraan perempuan. Sebelumnya, dukungan internasional melalui UNFPA turut memperkuat program ini dengan pendanaan kegiatan di tingkat kelurahan.
Program tersebut telah dijalankan di Kelurahan Duyu dan Balaroa sebagai proyek percontohan. Meski skalanya masih terbatas, dampaknya mulai dirasakan: perempuan lebih berani berbicara, mencari bantuan, dan memahami bahwa mereka tidak sendirian.
DP3A berharap model pendampingan ini bisa diperluas ke wilayah lain, mulai dari Perumahan Layana, Birobuli Utara, Baiya, Pantoloan Boya, hingga Talise, seiring dengan ketersediaan dukungan pendanaan.
Di balik program ini, tersimpan satu harapan besar: memutus siklus kekerasan dalam rumah tangga. Bukan hanya dengan penindakan, tetapi dengan pemulihan dan pencegahan yang menyentuh akar persoalan.
DP3A Kota Palu menegaskan kesiapannya hadir setiap kali ada laporan kekerasan. Mulai dari pendampingan psikologis, asesmen, rujukan ke Unit PPA Polres Palu, hingga layanan medis di rumah sakit.
Bagi para perempuan yang pernah berada di titik terendah, kehadiran negara dalam bentuk pendampingan ini menjadi penanda bahwa hidup tak harus berhenti pada luka. Selalu ada jalan untuk pulih, perlahan, dan kembali berdaya.***
Editor : Muhammad Awaludin