RADAR PALU – Setelah sempat lama tak beroperasi, Bus Trans Palu kembali melaju di jalanan Kota Palu. Selasa (13/1/2026), layanan transportasi publik ini resmi beroperasi seiring kesiapan halte-halte yang disiapkan Pemerintah Kota Palu.
Wartawan Radar Palu berkesempatan mengikuti langsung rute peluncuran perdana layanan transportasi publik tersebut.
Kembalinya Trans Palu bukan sekadar soal bus yang berjalan dari satu halte ke halte lain. Ia membawa harapan akan hadirnya moda transportasi umum yang lebih tertib, aman, dan terjangkau di tengah dominasi kendaraan pribadi.
Sepanjang rute, Bus Trans Palu bergerak efisien. Saat tiba di halte, bus tak berlama-lama berhenti. Pintu dibuka, penumpang naik dan turun, lalu bus kembali melaju. Pola ini membuat perjalanan terasa lancar, meski di sisi lain penumpang harus bersabar menunggu kedatangan bus berikutnya.
Di beberapa halte, waktu tunggu tercatat mencapai sekitar 30 menit. Jeda ini menjadi catatan tersendiri, terutama bagi penumpang yang mengandalkan Trans Palu sebagai sarana mobilitas harian.
Dari dalam bus, kesan yang muncul justru sebaliknya: nyaman dan tertata. Kursi khusus berwarna merah disediakan bagi penyandang disabilitas dan ibu hamil, lengkap dengan sabuk pengaman. Pendingin ruangan bekerja optimal, kamera CCTV terpasang, dan larangan merokok diterapkan secara tegas.
Fasilitas keselamatan juga cukup lengkap. Tersedia kotak P3K, alat pemecah kaca darurat, hingga panduan tanggap darurat. Di dinding bus, terpasang pula panduan doa dari berbagai agama sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman penumpang.
Namun, di balik kenyamanan tersebut, tantangan aksesibilitas masih terlihat. Perbedaan ketinggian antara halte dan lantai bus menyulitkan pengguna kursi roda untuk naik dan turun secara mandiri. Kondisi ini menunjukkan bahwa aspek inklusivitas masih perlu menjadi perhatian serius ke depan.
Persoalan juga terlihat di sekitar halte. Kendaraan pribadi masih kerap parkir di area pemberhentian bus, mengganggu ruang gerak Trans Palu. Selain itu, beberapa halte belum memiliki atap, sehingga penumpang terpapar panas matahari saat menunggu.
Pada hari pertama operasional, Trans Palu melintasi sejumlah titik strategis, mulai dari Taman GOR Palu, Jalan Gatot Subroto, hingga Jalan Suprapto. Di salah satu halte, belasan siswa SD Inpres Bumi Sagu naik bus dengan tujuan Karanjalembah. Mereka menikmati layanan ini tanpa dipungut biaya.
Di dalam bus, suasana terasa hidup. Seragam Pramuka dan pakaian olahraga bercampur dengan tawa dan percakapan ringan para pelajar yang pulang sekolah. Satu per satu mereka turun di titik berbeda—Jalan Tombolotutu, Jalan Sigma, hingga akhirnya bus tiba di halte Karanjalembah.
Sopir Bus Trans Palu, Fandi, menyebut hari pertama operasional berjalan cukup baik. Ia menilai kehadiran Trans Palu sangat membantu masyarakat, terutama bagi mereka yang membutuhkan transportasi umum dengan biaya terjangkau.
“Ini pertama beroperasi. Alhamdulillah, bagus dan membantu masyarakat,” ujarnya.
Fandi menjelaskan, penumpang umum dikenakan tarif Rp5.000 sekali bayar. Tarif tersebut berlaku untuk satu perjalanan tanpa perlu membayar ulang meski penumpang sempat turun dan naik kembali. Sementara itu, pelajar dan mahasiswa digratiskan.
Bus Trans Palu beroperasi mulai pukul 05.30 WITA hingga sekitar pukul 20.00 WITA. Untuk rute tertentu, terutama yang melewati kawasan kampus, jam operasional berakhir lebih awal menyesuaikan aktivitas akademik.
Kehadiran kembali Trans Palu menjadi langkah penting dalam menghidupkan transportasi publik di Kota Palu. Meski masih membutuhkan pembenahan pada waktu tunggu, fasilitas halte, dan aksesibilitas, bus ini telah membuka kembali ruang harapan: bahwa mobilitas kota tak selalu harus bergantung pada kendaraan pribadi.***
Editor : Muhammad Awaludin