Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Psikolog Klinis Puskesmas Singgani Tangani 142 Kunjungan Pasien Paling Banyak Cemas dan Depresi

Muhammad Awaludin • Sabtu, 27 Desember 2025 | 16:45 WIB
Psikolog Klinis Puskesmas Singgani, Ade Sintya
Psikolog Klinis Puskesmas Singgani, Ade Sintya

RADAR PALU – Dalam tiga bulan terakhir, layanan psikolog klinis di Puskesmas Singgani, kota Palu, menjadi tempat bergantung ratusan warga yang bergulat dengan tekanan mental. Tercatat, sebanyak 142 kunjungan pasien menjalani konsultasi psikolog sejak 1 Oktober hingga bulan Desember 2025.

Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan puskesmas lain yang juga mendapat penempatan psikolog klinis dari program Dinas Kesehatan Kota Palu bekerja sama dengan Bincang Psikologi.

Psikolog Klinis Puskesmas Singgani, Ade Sintya Indrayani, mengungkapkan bahwa mayoritas pasien berada pada rentang usia 18 hingga 55 tahun. Keluhan yang paling sering muncul adalah kecemasan berlebih, hipokondriasis, dan depresi.

“Kalau dihitung dari Oktober sampai akhir Desember, total pasien yang kami tangani ada 142 orang,” kata Sintya, Sabtu (27/12/2025). 

Meski didominasi usia dewasa, Sintya menyebut kalangan remaja dan pelajar juga mulai terlihat datang berkonsultasi. Namun secara umum, usia produktif masih mendominasi kunjungan layanan kesehatan mental di puskesmas tersebut. 

Menurut Sintya, layanan psikolog klinis di puskesmas berfungsi sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama yang fokus pada deteksi dan penanganan awal gangguan mental. Tahapan layanan dimulai dari skrining kesehatan mental, konseling, hingga psikoterapi sederhana.

“Kami lakukan skrining dulu, apakah ada gejala stres, depresi, atau kecemasan. Setelah itu konseling dan psikoterapi sederhana, terutama terapi perilaku dan kognitif,” jelasnya.

Ia menegaskan, pemulihan kesehatan mental bukan proses instan. Sebagian besar pasien membutuhkan sesi lanjutan dan target pemulihan yang bertahap, bukan hanya satu atau dua kali pertemuan.

“Kalau memang ingin pulih, kami susun target terapinya. Jadi tidak bisa sekali datang langsung selesai,” ujarnya.

Diagnosis gangguan mental, lanjut Sintya, umumnya baru dapat ditegakkan setelah sesi kedua atau lanjutan. Bahkan dalam perjalanan terapi, diagnosis bisa saja berubah sesuai perkembangan kondisi pasien.

Dalam kondisi tertentu, pasien akan dirujuk ke psikiater, terutama bila gangguan sudah menghambat fungsi kehidupan sehari-hari. 

“Misalnya sudah mengganggu aktivitas, muncul halusinasi atau delusi, tidak bisa berfungsi sosial, atau mengurung diri sampai berbulan-bulan, itu harus dirujuk,” jelasnya. 

Sintya berharap keberadaan psikolog klinis di puskesmas mampu membuka kesadaran masyarakat bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Ia juga ingin mematahkan stigma bahwa konsultasi psikolog selalu mahal dan hanya untuk gangguan jiwa berat. 

“Banyak yang datang sudah dalam kondisi berat. Padahal seharusnya saat merasa ada yang berbeda, ada yang tidak beres, langsung datang saja,” katanya.

Ia menekankan, langkah awal sebelum pengobatan dengan obat-obatan adalah pemeriksaan kondisi mental oleh psikolog, agar penanganan bisa dilakukan lebih dini dan terukur, termasuk bagi pelajar.

Namun demikian, layanan psikolog klinis gratis ini baru tersedia hingga Desember 2025. Keberlanjutan program tersebut masih menunggu evaluasi dan keputusan dari Dinas Kesehatan Kota Palu.***

Editor : Muhammad Awaludin
#Depresi dan kecemasan #palu #Puskesmas Singgani #kesehatan mental #layanan psikologi