RADAR PALU - SIANG itu, Kamis (11/12/2025) awan mendung menemani Wayan Sumber mengkisahkan perjalanan terjalnya.
Tidak ada yang menyangka, pria sederhana dengan pakaian terbiasa menggunakan kaos dan tidak segan mencabut rumput pelataran penginapan itu adalah si Pengusaha pemilik 62 kamar dengan 20 titik lokasi tersebar di kota Palu.
Ya, siapa yang akan menyangka, dari seorang perantau menjadi pengusaha dari berbagai jenis usaha. Wayan mestinya merasa di atas awan dengan semua pencapaiannya.
Namun, pria asli kabupaten Buleleng, Bali itu justru bermurah hati menggratiskan penginapannya bagi pasien rawat jalan beserta keluarga.
Pengalaman pahit menjadi seorang “yatim-piatu” mengetuk hati Wayan mengambil keputusan mulia itu.
Di gazebo, tepat di depan salah satu penginapannya di jalan Rahmatullah, Kabonena, kecamatan Ulujadi, kota Palu, tepatnya di Penginapan Pondok Dharma, Wayan duduk dengan tatapan menerawang jauh di masa di mana dia merintis setiap langkahnya.
“Dari kelas 2 SD saya ditinggal orang tua, jadi selama saya SD itu, saya tinggal sama Nenek. Pas lulus SD mau lanjut sekolah kan nda ada biaya jadi saya putuskan untuk merantau.”
Di usia 13 tahun, Wayan menapak jejak dari Utara Bali ke Bali bagian Selatan tepatnya di Denpasar selama lima tahun.
Hingga 2008 tepat 19 tahun, bersama omnya yang berasal dari Donggala, dia berlayar dengan kapal menuju kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.
Di sana dia membantu keluarga omnya bertani selama tiga bulan, pekerja rumah tangga (PRT), hingga menjadi buruh bangunan.
Kerja kerasnya membuahkan hasil ketika Wayan membeli satu hektare tanah untuk ditanami cokelat.
Namun, Wayan merasa kurang cocok dengan usaha taninya yang menurutnya memakan waktu cukup lama serta kebiasaannya yang berangkat terlalu pagi dan menahan lapar membuatnya diserang maag.
Walhasil di akhir 2008 dia memilih merantau ke kota Palu. Siapa sangka, perjalanannya ke kota Palu ialah ekspedisi hebatnya menuju gerbang kesuksesan.
“Saya pikir, di Bali dengan di mana saja itu sama. Sudah gak ada orang tua, gak ada yang ngangenin begitu. Beda kalau udah punya orang tua kan. Oh, ada Mama saya atau ada yang rindukan saya,” ungkap Wayan.
Netra hitam pekatnya menatap kembali masa lalu. Saat usianya masih 8 tahun dan duduk di kelas 2 SD di mana sang ayah meninggalkannya dan sang ibu, tanpa kabar tanpa nafkah.
Selang sekitar 3 bulan, sang ibu menyusul membuka lembaraan hidup dengan keluarga barunya. Wayan teringat saat dia diminta tinggal bersama sang Nenek.
Dia merasa, dari tempaan didikan Nenek-lah, Wayan bisa mandiri seperti sekarang ini.
“Pokoknya kerjaan itu, saya sembarang. Karena saya pikir kan saya lulusan SD, kan. Jadi, mau kerja di mana?” tuturnya sembari tersenyum.
Wayan meminta pada sang Om mencarikan pekerjaan tanpa syarat. Seminggu berkeliling akhirnya Wayan diterima sebagai cleaning service di Swiss-Bellhotel.
“Itu modalnya saya kan modal pengalaman. Karena di Bali dulu kan udah sering kan kerja di toko, kerja di rumahnya orang. Pasti kerjanya pasti bantu-bantuin; nyapu, ngepel. Jadi, untuk bersih-bersih kan hobi saya.”
Betapa bangganya dia saat kali pertama mengenakan pakaian cleaning service. Baginya, bekerja di hotel adalah sebuah berkah hingga Wayan mendedikasikan 10 tahun waktunya.
Meski tanpa kendaraan, tanpa handphone, tanpa bekal makan siang, tinggal pun menumpang di rumah kakak ipar. Jarak dari rumah ke hotel yang hampir 2 kilo ditaklukkannya dengan gagah berjalan kaki. Selama 6 bulan rutinitas itu dia jalani dengan suka cita.
“Gaji pertama 400 ribu itu bisa saya simpan dalam satu bulan. Saya gak kore (ambil) dalam satu bulan,” buka Wayan, “Kenapa bisa? Dulu 2008, rumah masih numpang sama kakak sepupu, untuk makan kalau pagi saya gak pernah makan. Masuk jam 7, saya berangkatnya jam 6 sudah siap-siap jalan kaki.”
Rasa lapar hanya ditenangkannya dengan air mineral di hotel. Sementara, pada siang hari, Wayan mendapatkan jatah makan siang dari hotel. Dia bahkan mengaku sengaja pulang di jam 7 malam agar mendapatkan makan dari hotel.
“Saya sekarang ini, penyakit saya ini maag parah sekarang. Karena dulu memang saya demi mengumpulin dana ini memang menghemat sekali.
Makan pun saya pernah dengan orang (teman) di kontrakan, makan sambal bawang dengan isi rica, diisi dengan minyak, dengan nasi, dan garam,” ujarnya.
Semua gajinya dia simpan. Hal itu membuat beberapa teman kerap berutang padanya. Kondisi ini menyingkap peluang untuk Wayan membuka koperasi pinjaman uang pribadi dengan suku bunga sesuai kesepakatan bersama.
“Pas teman-teman ada kebutuhan mendadak, mereka kan gak punya uang, jadi minta tolonglah sama saya pinjam uang. Karena ditahu kan gak ke mana-mana uang saya. Akhirnya saya bantu.”
Sekali dua kali temannya meminjam pada Wayan. Namun, ketiga kalinya, sang kawan merasa segan.
Wayan pun ditawarkan pinjaman dengan kelebihan uang Rp50 ribu. Wayan tidak menyangka, dari penghasilan Rp50 ribu menjadi Rp10 juta dalam waktu tiga tahun.
“Awal-awal saya tidak pakai jaminan memang. Kalo masih gak melebihi gajinya dia minta. Gaji di hotel loh, tinggi, masa dia minjam Rp1 juta dia lari ninggalin gaji yang di hotel.
Mau kerja apa lagi? Itu pikiran saya. Akhirnya banyak yang tahu, akhirnya tiap bulan itu banyak teman yang mau minjam.” Wayan mengaku, usahanya dia buka dengan modal kepercayaan.
Tidak sampai di situ, Wayan makin putar otak. Dia juga membuka jasa jual pulsa dengan ponsel pertamanya Nokia. Tidak tanggung-tanggung kliennya mulai dari sesama cleaning service hingga manager hotel.
Merasa belum cukup, pada perpindahan shift malam sebelum pulang ke rumah, dia sempatkan mengumpulkan sampah bernilai jual seperti kaleng, botol plastik, dan sebagainya dari kamar ke kamar hingga nongkrong di pembuangan sampah hotel.
Satpam pun sampai hafal dengan kebiasaan unik Wayan. Dia juga menjual beras 5 kg ke sesama kawan pekerja yang masih indekos. Semua bisnisnya ini membuat Wayan menolak untuk naik jabatan karena merasa tidak akan leluasa menjalankan usahanya.
Wayan kian sumringah kala pertama kali membeli motor dari hasil kerja kerasnya. Motor Supra seharga empat juta yang dibelinya bekas.
Awalnya, niat Wayan menabung untuk membeli rumah agar keluarga yang bertandang bisa mampir di rumahnya atau sebagai modal menikah.
Namun, sang kakak ipar memberikan saran agar dia membeli tanah dan membangun kos-kosan. Wayan manut dengan membeli tanah 7x15 meter dan mendirikan kos tiga petak.
“Untungnya ada saya punya ipar yang kasih saya motivasi sampai saya sebesar ini. Dialah yang kasih saran. Saya kan sebenarnya orangnya gak tahu apa-apa, Bu. Saya kan orangnya pendengar juga, tinggal saya pilih, kalau memang saran itu positif ya, saya pakai,” ucapnya.
Salah satu petak kos dijadikan Wayan sebagai rumah bernaungnya bersama istri hingga memiliki empat anak. Warga sekitar yang mengetahui Wayan sebagai pemilik kos jadi banyak yang menawarkan tanahnya.
Kini, Wayan berhasil mengakuisisi lahan di depan kos 3 petaknya seluas setengah hektare (0,5 ha) atau setara dengan 5.000 meter.
Di lahan tersebut berdiri sekitar 50 kamar penginapan, kantor, gedung untuk usaha furnitur, kebun bunga untuk tanaman di penginapan, serta mess untuk para pekerjanya.
Bukan hanya penginapan, Wayan juga mengembangkan usahanya di berbagai sektor mulai dari jasa kebersihan; rumah, laundry pakaian, karpet, sofa, dan kasur, jasa sewa dan pelatihan keamanan; satpam, serta percetakan batako, percetakan digital, kemudian jasa desain dan kontraktor interior.
Wayan tidak menyangka, sebagian besar dari usahanya merupakan kolaborasi bersama kakak ipar. Pada mulanya beberapa usaha tesebut hanya dikelola keduanya.
Hingga kini, Wayan berhasil mempekerjakan sekitar 500 orang dengan 30 pekerjanya di penginapan.
Kebanyakan dari karyawannya merupakan orang muda yang putus sekolah. Setiap anak muda yang jadi pekerjanya juga dibina sebelum terjun bekerja.
Dia juga memfasilitasi kantor dengan dapur dan makanan yang bebas dikonsumsi kapan pun. Di mess, pekerja disediakan makanan pokok serta mesin cuci pakaian.
Merasa hidupnya telah berkecukupan, Wayan berinisiatif menggratiskan penginapannya kepada pasien rawat jalan beserta keluarga yang menjaga.
“Memang dari niat awal saya kan memang ingin membantu. Memang waktu pertama saya jaga, itu berapa pun orang minta, Pak saya lagi kemalaman, pak, uang saya lagi sekian. Oh, iya, Bu datang saja, Bu. Kan, dia mau istirahat, berapa pun dia minta, saya sudah iyakan,” cerita Wayan.
Keinginan ini juga didorong setelah dia menikah. Keluarga dari sang istri yang datang ke Palu terkadang menginap di penginapannya. “Kan, gratis itu. Kan, bukan saudara kandung juga, setelah menikah baru jadi keluarga.
Jadi, apa bedanya dengan orang-orang yang lain. Jadi, itu saya kepikiran, saya kasih gratis saja orang yang mau menginap.”
“Lagian, saya juga sudah dikasih lebih. Saya kan sudah merasa bangga sebenarnya, Bu. Dengan saya dulu kerja di hotel paling tinggi pencapaian saya RP3 juta sebulan. Sekarang sudah lebih, dikasih Rp5 juta pun saya bersyukur,” lanjutnya.
Persyaratan penginapan gratis untuk pasien rawat jalan pun cukup mudah, meliputi foto copy (FC) KTP pasien dan FC surat rujukan.
Apabila ada keluarga pasien yang mendampingi maka diwajibkan pasien ikut menginap dengan ketentuan fasilitas hanya untuk satu kamar.
Di samping semua jerih payahnya, Wayan tidak luput dari beribadah. Pura menjadi salah satu tempat yang wajib dia kunjungi. Hal ini juga membuatnya berprinsip tidak menerima sembarang tamu terkhusus tamu yang berbuat asusila di penginapannya.
“Buat anak muda di mana pun, selama ber-karier jangan hanya mengambil satu pekerjaan. Aktiflah, apa yang bisa menjadi peluang, ambil.
Jangan sepelekan hasil Rp1-2 ribu, karena dari situ kita bisa besar kalau kita bisa memanfaatkannya dengan baik,” pesan Wayan.(*)
Editor : Talib