Kepala UPT Museum dan Taman Budaya Sulawesi Tengah, Drs Rim MHum, menyebutkan bahwa galeri ini langsung dibuka di hari pertama masjid tersebut diresmikan. “Baru hari pertama ini kita buka dalam rangka dibukanya Masjid Raya Baitul Khairaat ini,” ucap Rim saat itu.
Di dalam galeri, pengunjung bisa menelusuri arsip perjalanan masuknya Islam ke Indonesia hingga ke pelosok Sulawesi Tengah. Sejumlah miniatur masjid tua yang kini masuk cagar budaya seperti Masjid Tua Wani, Jami, Bungku, hingga Una-Una ikut dipamerkan. Ada pula benda peninggalan tokoh ulama besar Guru Tua, mulai dari gambus, sajadah, hingga peralatan makan.
Tidak berhenti di situ. Galeri juga memamerkan ayat-ayat talqin yang menjadi rujukan tata cara penguburan dalam Islam, serta ekspresi budaya Islam lokal di antaranya tari jepeng, rebana, dan kaligrafi. Pengunjung bahkan dapat menyaksikan film tentang sejarah masuknya Islam di wilayah Banggai.
Rim menegaskan pameran ini baru tahap awal. Museum akan terus dilengkapi, tetapi rencana itu perlu dukungan anggaran pemerintah.
“Karena kita itu ada yang dari Minangkabau yang masuk Datokarama itu, ada yang dari Yaman. Ada juga Dato dari Makassar, mungkin ada pengaruhnya juga,” jelasnya, merujuk pada berbagai tokoh pembawa Islam di Sulteng.
Tim UPT Museum dan Taman Budaya Sulawesi Tengah bekerja ekstra menyiapkan galeri ini. Hanya empat hari yang dibutuhkan untuk merapikan seluruh arsip sebelum dibuka untuk umum. Galeri mulai menerima kunjungan sejak pukul 08.00 WITA, dengan pembagian shift siang dan malam.
“Kemungkinan jadi primadona kunjungan itu di sore dan malam,” kata Rim. Namun jam malam masih perlu dibahas dengan pihak pengurus masjid, mengingat masjid ditutup pada malam hari.
Meski sudah beroperasi, galeri ini sebenarnya belum memiliki payung administrasi yang jelas. Rim mengatakan, jika galeri ditetapkan sebagai museum permanen, diperlukan kajian teknis, penyusunan alur cerita, hingga desain interior yang terstandar sebagaimana museum provinsi.
“Memang itu butuh biaya yang cukup besar kalau memang mau dibuat secara permanen,” ujarnya. Ia menambahkan, koleksi pameran masih bisa ditambah jika status galeri nantinya ditetapkan resmi.
Baca Juga: Menag RI Sebut Arsitektur Masjid Raya Baitul Khairaat Sesuai dengan Cuaca Palu
Bagi Rim, adanya galeri ini bukan hanya soal arsip. Ada tiga fungsi museum yang menurutnya harus dihadirkan yakni sebagai ruang belajar, ruang penelitian, dan ruang rekreasi.
“Dan di sini rekreasi religi karena sambil melihat-lihat informasi tentang sejarah perkembangan Islam,” tutupnya.(cr1)
Editor : Nur Soima Ulfa