Dialah Muh. Irfan. Ia memilih bergabung bersama ABU Sulteng sebagai anggota klub Detasemen Combat Airsoft (DCA), yakni komunitas yang punya struktur mirip militer namun bernuansa kekeluargaan.
“Awalnya cuma ingin coba. Lama-lama jadi keterusan,” ujar Irfan bersaksi.
Kini, setiap akhir pekan baginya bukan lagi waktu istirahat penuh, melainkan latihan CQB, skirmish, TSOC, hingga simulasi pertempuran bersama rekan-rekannya.
Irfan mengungkapkan salah satu alasan banyak orang mundur dari dunia airsoft adalah biaya. Irfan pun mengaku pernah merasakannya.
Dia mengungkapkan unit airsoft gun yang digunakan di komunitas ABU Sultan bukan mainan pasaran. Ada tiga kategori. Pertama, kategori Spring, yang digunakan untuk pemula dengan sistem kokang manual AEG (Automatic Electric Gun). Kedua, unit yang menggunakan baterai dan bisa tembakan beruntun HPA/Upgrade Tactical Unit.
Ketiga yakni, unit AEG level lanjutan dengan akurasi tinggi. Untuk harga unit AEG standar saja berada di kisaran Rp8 juta. Sementara helm, masker, rompi pelindung, sepatu, dan pelindung lutut adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar.
Namun bukan hanya soal harga. Irfan mengungkapkan unit airsoft gun juga tidak dijual bebas. Pembelian harus melalui rekomendasi Ketua ABU Sulteng dan didata sesuai identitas pemilik. Ini dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan dan menjaga nama komunitas.
Bukan Sekadar Menembak
Meski terlihat seperti olahraga keras dan penuh strategi, bagi Irfan airsoft gun memiliki makna yang lebih luas. Ia menyebutnya sebagai gabungan antara sport, mental, discipline, teamwork
Irfan meraih prestasi yang sama dengan Rismayati Mustamin anggota ABU Sulteng lainnya. Yakni Juara 1 Nasional kategori TSOC Riffle perorangan pada ajang bergengsi Fornas di Lombok.
“Dan alhamdulillah saya juga mendapatkan juara 1 untuk cowok di lomba yang saya ikut TSCO riffle per orang di Lombok,” cerita Irfan.
Walau latar belakangnya militer membuatnya sedikit lebih mudah beradaptasi, ia menegaskan bahwa airsoft bukan untuk menunjukkan siapa paling ahli, tetapi bagaimana seseorang menghargai aturan, rekan tim, dan sportivitas.
“Airsoft gun itu bukan soal menang atau kalah. Yang penting adalah bagaimana kita bermain taktis, menghormati lawan, dan tetap mengutamakan keamanan,” ujarnya.
Bersama ABU Sulteng, Irfan bukan hanya menemukan hobi baru, tapi ia juga menemukan lingkungan baru yang menguatkan rasa solidaritas dan kebersamaan.
Kini baginya airsoft gun bukan sekadar permainan akhir pekan, tetapi ruang untuk bertemu orang baru, belajar hal baru, dan memberi ruang bagi diri untuk terus berkembang.(mg1)
Editor : Nur Soima Ulfa