Kampanye ini dilakukan dengan empat metode, yaitu pembagian pamflet disertai edukasi HIV/AIDS dari fasilitator, sosial eksperimen, ditutup tanda tangan disertai pesan dan kesan dari pengunjung. Uniknya, kampanye ini melibatkan sekitar 20 orang terdiri dari Orang dengan HIV (ODHIV) dan beberapa anggota yayasan.
Pada sosial eksperimen, dua Odhiv berdiri dengan kepala ditutupi kardus. Di lehernya dikalungkan tali serta potongan dus bertuliskan “Saya HIV Positif (Odhiv) : maukah kamu memeluk atau memegang erat tanganku?”
Sekretaris Yayasan Banuata Pura Support sekaligus Koordinator Lapangan (Korlap) Peringatan Hari AIDS Sedunia, Rehan mengungkapkan ekperimen sosial ini untuk mengukur sejauh mana pengetahuan masyarakat terhadap HIV. Apakah masih ada stigma atau tidak?
“Kita melihat di situ bagaimana respon masyarakat. Apakah memang mereka (warga) mau bersentuhan, berpelukan, atau tidak,” jelas Rehan.
Lanjut Rehan, di tahun sebelumnya mereka mengadakan talkshow. Namun, di tahun ini, mereka mencoba menyederhanakan aksi melalui pendekatan ke masyarakat demi mengukur tingkat pemahaman serta diskriminasi yang masih mengakar.
“Tujuan dari kegiatan tahun ini, kita buat sesederhana mungkin. Tapi, tolak ukurnya adalah kita mau mengetahui sejauh mana pemahaman amsyarakat terkait dengan HIV/AIDS dan apakah memang stigma diskriminasi masih sangat kuat atau tidak. Karena kan kita melihat bahwa diskriminasi di lingkungan masyarakat itu masih sangat tinggi. Apalagi akhir-akhir ini angka kasusnya (HIV/AIDS), kan, lumayan tinggi,” lanjutnya.
Rehan menyebut tantangan yang kerap dihadapi oleh Banuata Pura Support ialah mengajak penderita HIV/AIDS untuk memeriksakan diri.
“Teman-teman sudah mulai paham, nih (tetang kondisinya sendiri). Tapi, teman-teman yang melakukan perilaku berisiko ketakutan untuk periksa. Sehingga yang terjadi apa, mereka tidak mau melakukan pemeriksaan padahal mereka beresiko. Sehingga tidak diminta-minta nanti mereka drop baru tahu statusnya mereka sebagai HIV Positif,” ungkapnya.
Dia menyebut, saat ini penangan HIV/AIDS cukup menarik perhatian dari berbagai sektor sehingga edukasi berdatangan di media sosial baik dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), maupun organisasi mahasiswa.
Perlu diketahui, Yayasan Banuata Pura Support merupakan LSM yang menaungi 1.200 ODHIV. Pendampingan yang diberikan bukan sekadar pemberian obat-obatan melainkan juga edukasi seperti menjelaskan mengapa ODHIV harus meminum obat, melakukan pemeriksaan viral load, hingga menjelaskan mengapa imun ODHIV rentan terserang penyakit.
Selain itu, terdapat pula kegiatan Edu Camp di mana ODHIV kamping sekaligus belajar. Rehan menyebut, sebagian besar anggota Banuata Pura Support adalah ODHIV. Pendampingan ini bersifat gratis. Kata Rehan, pendampingan oleh Yayasan tidak hanya menyentuh area perkotaan melainkan berupaya menjangkau sampai ke daerah.
“Karena memang di Yayasan 70% teman-teman ODHIV. Dari anak sampai orang dewasa, sampai orang tua itu ada,” ungkapnya.
Dia menegaskan, mereka non diskriminasi. Mereka menerima ibu rumah tangga, waria, hingga pekerja seks komersil (PSK).
“Pembelajaran baiknya adalah mereka kita latih sebagai vokal point. Mereka yang akan merangkul teman-temannya. Karena kan orang dinas akan masuk (mengedukasi atau mengajak). Tapi, kalau komunitasnya sendiri, itu akan mudah masuk,” tambah Rehan.
Dia pun mengatakan Banuata Pura Support menganut sistem non diskriminasi termasuk pada minoritas gender. Rehan berharap semoga masyarakat yang belum paham mengenai HIV/AIDS tidak lantas menjauhi ODHIV melainkan merangkul.
“Kalau teman-teman merasa berisiko, sebaiknya memeriksakan. Karena kan sekarang pemeriksaan itu gratis di semua layanan Puskesmas maupun rumah sakit baik yang negeri maupun swasta,” pungkasnya.(cr1)
Editor : Nur Soima Ulfa