Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Atas Aksi Tawuran Hingga Pengeroyokan, Warga Tondo Desak Untad Ambil Langkah Tegas ke Mahasiswa

Nur Soima Ulfa • Selasa, 2 Desember 2025 | 18:00 WIB

SAMPAIKAN ASPIRASI:  Perwakilan Aliansi Masyarakat Tondo menyampaikan aspirasi di depan gerbang Universitas Tadulako, meminta sanksi tegas bagi mahasiswa yang terlibat aksi kekerasan dan pengeroyokan.
SAMPAIKAN ASPIRASI: Perwakilan Aliansi Masyarakat Tondo menyampaikan aspirasi di depan gerbang Universitas Tadulako, meminta sanksi tegas bagi mahasiswa yang terlibat aksi kekerasan dan pengeroyokan.
RADAR PALU – Aliansi Masyarakat Kelurahan Tondo menggelar aksi damai di depan Universitas Tadulako (Untad) pada Senin (1/12). Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap serangkaian tawuran antar-mahasiswa yang kembali terjadi di lingkungan kampus dalam beberapa pekan terakhir. Warga menilai insiden tersebut tidak hanya menciptakan kekacauan, tetapi juga menimbulkan dampak serius terhadap keamanan masyarakat sekitar.

Koordinator lapangan aksi, Taufik Djamisi, menyampaikan bahwa tawuran yang terus berulang telah menyebabkan cedera fisik, trauma psikologis, hingga kerusakan fasilitas kampus. Bahkan, aksi pelemparan batu yang dilakukan secara membabi buta juga mengenai sejumlah pekerja di dalam kampus serta aparat kepolisian yang tengah berjaga. Beberapa warga Kelurahan Tondo turut menjadi korban dalam insiden itu.

Menurut Taufik, persoalan ini tidak terlepas dari lemahnya pengawasan serta pola pembinaan di lingkungan kampus. Ia menilai sebagian mahasiswa yang terlibat tawuran menunjukkan perilaku yang jauh dari nilai akademik dan justru cenderung bertindak seperti preman kampus. Selain itu, ia menyoroti adanya oknum birokrasi yang dianggap kurang tegas serta dinilai membiarkan konflik terjadi tanpa memberikan sanksi berat kepada pelaku.

Aliansi Masyarakat Kelurahan Tondo kemudian menyampaikan tiga tuntutan utama. Pertama, meminta Rektor Untad menjatuhkan sanksi pemecatan terhadap mahasiswa yang terlibat pengeroyokan terhadap pekerja kampus. Kedua, mendesak Kapolres Palu menindak tegas pelaku perusakan fasilitas kampus sesuai ketentuan hukum pidana. Ketiga, meminta pihak kampus memanggil orang tua mahasiswa yang telah lebih dari sekali terlibat tawuran agar diberikan pembinaan lanjutan.

Warga juga menyinggung kekhawatiran bahwa kondisi tersebut dapat menimbulkan citra buruk bagi lingkungan Tondo sebagai wilayah yang tidak aman bagi mahasiswa. Mereka menegaskan bahwa aksi ini bukan bentuk intervensi terhadap otonomi kampus, melainkan kontrol sosial agar konflik tidak semakin meluas dan mengganggu proses akademik.

“Ada pilihan apakah kampus kita tutup kembali tidak ada proses belajar sampai ini tuntas, bahkan oknum yang bersangkutan sendiri kalian paham betul teori-teori rimba tapi kami akan kasih mengerti bagaimana hukum rimba itu,” tegasnya.

Menurutnya kejadian tersebut tidak menunjukkan sikap formal mahasiswa, olehnya patut dicurigai ada pengusung-penyusup dalam kampu. “Kami berharap sekali lagi, birokrasi kampus supaya memberikan kepada semua siswa yang lari dari niat baik atau visi misi Universitas diambil tindakan tegas, yakni dikeluarkan,” kata Taufik.

Tokoh masyarakat Tondo yang juga anggota DPRD Palu, H. Nanang, turut menyampaikan keprihatinannya. Ia menyinggung adanya pekerja kampus yang diberhentikan secara sepihak, sehingga menambah keresahan di tengah warga. Menurutnya, persoalan keamanan kampus tidak boleh mengorbankan masyarakat sekitar, apalagi sampai menimbulkan anggapan bahwa Tondo adalah wilayah berbahaya.

“Ini juga jangan dijadikan kesewenang-wenangan pihak Birokrat, melakukan pemutusan pekerja sepihak tanpa, ini seharusnya tidak boleh terjadi,” tambahnya. 

Menanggapi aksi tersebut, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Sagaf Djalalembah, menegaskan bahwa kampus tidak akan ragu memberikan sanksi tegas. Ia memastikan mahasiswa yang terbukti melakukan penganiayaan atau pelemparan batu hingga melukai warga akan langsung dikeluarkan.

 Sagaf juga menyampaikan bahwa seluruh pihak yang terlibat tawuran, termasuk provokator, sedang dalam proses penindakan. “Berikan kami waktu untuk memprosesnya. Semua ketegasan yang diharapkan masyarakat akan kami penuhi,” ujarnya didepan massa aksi, dengan menutup orasi. (who)

Editor : Nur Soima Ulfa
#Aliansi Masyarakat Kelurahan Tondo #penganiyaan #untad #Tondo #Universitas Tadulako