Menurutnya, setiap daerah punya ciri khas dan budayanya sendiri. Karena itu, Festival Tende diharapkan dapat menjadi wadah yang menyatukan keberagaman Sulteng.
“Sekaligus mengenalkan budaya kita ke tingkat nasional hingga mancanegara,” ujar Wakil Ketua MPR RI ini kepada Radar Palu saat ditemui usai Festival Tende 2025, Sabtu malam (22/11/2025).
Abcandra Muhammad Akbar Supratman atau yang akrab disapa “kaka baju hitam” ini menegaskan komitmennya untuk menjadikan Festival Tende sebagai agenda budaya berkelanjutan yang mampu menembus panggung nasional bahkan internasional.
Ia menilai, kemeriahan dan antusiasme masyarakat pada pergelaran tahun ini menjadi modal besar untuk mengembangkan festival tersebut.
“Tentu kita berharap ada inovasi-inovasi terbaru lagi di tahun 2026. Mudah-mudahan Festival Tende bisa menjadi program yang sustainable dan memberikan terobosan-terobosan baru,” ujar Abcandra.
Ia menekankan bahwa Festival Tende bukan hanya tentang dirinya sebagai penggagas, tetapi tentang diplomasi budaya Sulawesi Tengah.
“Ini bukan tentang Akhbar, tapi tentang diplomasi budaya kita ke nasional maupun mancanegara,” tegasnya.
Menurutnya, antusiasme masyarakat terlihat sangat tinggi. Ia mengaku turut terbawa suasana karena penampilan parodi Tende yang digelar secara kolosal untuk pertama kalinya.
Melihat besarnya potensi tersebut, Abcandra mengungkapkan rencana pengembangan festival ke tingkat daerah yang lebih luas. Ia menyebut bahwa pihaknya bersama panitia telah berdiskusi mengenai penyelenggaraan Festival Tende 2026 di luar Kota Palu.
“Kita coba keluar dari Kota Palu. Bisa di Parigi, Keltoli, Buol, atau Poso, karena masing-masing daerah punya karakteristik tersendiri,” jelasnya.
Abcandra menambahkan, Festival Tende bukan hanya soal budaya, tetapi juga ruang tumbuh bagi pelaku ekonomi kreatif, termasuk komika lokal.
“Kalau di Jawa kita kenal roasting, di Sulawesi Tengah kita kenal Tende. Kita ingin memperkenalkan budaya gotong royong kita, bahwa Sulteng saling mengangkat,” pungkasnya.(win)
Editor : Nur Soima Ulfa