Kegiatan ini berkolaborasi dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako (FKM Untad). Sebanyak 24 siswa kelas 4B tampak antusias mengikuti sesi edukasi yang dikemas interaktif. Para siswa mendapatkan penjelasan dasar tentang pola hidup sehat serta praktik langsung cuci tangan pakai sabun (CTPS).
Officer Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT CPM, Mohamad Rizky Sultan, menyampaikan bahwa sosialisasi PHBS akan digelar selama dua pekan dengan menyasar sekolah-sekolah di Kecamatan Mantikulore.
“Sosialisasi ini kami lakukan khusus untuk sekolah dasar di wilayah Mantikulore yang mencakup delapan kelurahan,” ujarnya.
Usai SDN Poboya, program akan berlanjut ke SDN Tanamodindi, SDN Tondo, SDN Kawatuna, SDN Lasoani, hingga SDN Talise. CPM menilai edukasi dini penting untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah lingkar tambang.
Rizky berharap kegiatan ini memberi dampak lebih luas, tidak hanya pada pendidikan, tetapi juga sektor ekonomi, kesehatan, dan sosial.
Sementara itu, Kepala SDN Poboya, Sesi Susanti, menyampaikan rasa terima kasihnya atas perhatian PT CPM yang secara rutin mengadakan kegiatan sosial di sekolahnya. Dia mengimbau siswa memanfaatkan momentum tersebut untuk memahami pentingnya menjaga kesehatan.
“Yang paling penting dalam hidup kita adalah sehat!” tegasnya.
Dia juga meminta para siswa membagikan ilmu yang didapat kepada teman-teman lain melalui kegiatan Kokurikuler setiap hari Kamis.
Pada sesi interaksi, Rizky mengajak siswa berdiskusi singkat mengenai CPM. Antusias siswa terlihat dari banyaknya acungan jari saat ditanya siapa yang ingin bekerja di CPM. “Orang CPM harus sehat, harus kuat!” serunya.
Rizky menekankan pentingnya membiasakan cuci tangan, memilih makanan yang lebih bergizi, dan menjaga kebersihan diri. Kemudian materi dilanjutkan oleh Dosen FKM Untad, Dila Srikandi, yang memberikan edukasi lengkap seputar PHBS.
“Kalau adik-adik mau kerja di CPM, adik-adik harus sehat dulu,” ucapnya.
Dila mengingatkan siswa untuk rutin CTPS sebelum makan dan tidur, tidak menggigiti kuku jari, menerapkan etika batuk dan bersin yang benar, serta mengurangi konsumsi mie instan.
Dalam sesi materi, Dila meminta salah satu siswa maju untuk memimpin menyanyikan lagu 6 langkah cuci tangan versi WHO, yang disambut sorakan semangat dari teman-temannya. Kegiatan dilanjutkan dengan cap tangan menggunakan cat air pada spanduk yang disediakan.
Momen itu menjadi bagian paling meriah, dengan siswa berebut menunjukkan hasil cap tangan mereka. Program pun ditutup dengan praktik cuci tangan, foto bersama, serta pembagian snack kepada seluruh peserta.(cr1/adv)
Editor : Nur Soima Ulfa