Aldi bercerita bahwa keinginannya membuka usaha muncul perlahan, seiring pengalamannya bekerja sebagai penjaja kopi. Setiap hari ia belajar soal rasa, pelayanan, dan ritme menjual di lapangan. Di waktu yang sama, ia rajin menyisihkan sedikit demi sedikit penghasilannya untuk modal usaha.
Saat akhirnya memutuskan membuka brand sendiri, ia tahu perjalanan tidak akan mudah. Pendapatan yang tidak menentu menjadi tantangan pertama yang ia hadapi. “Kalau berjualan seperti ini, pendapatan tidak pasti. Jadi bagaimana caranya kita maksimalkan agar bisa capai target,” ujarnya.
Di tengah naik turunnya pendapatan itu, keluarga menjadi sumber tenaga terbesar baginya. Aldi mengakui bahwa dukungan mereka membuatnya kembali semangat setiap kali merasa goyah. “Keluarga selalu support saya ketika sedang down,” katanya.
Sebagai brand baru, Gen Z Coffee Palu mencoba memperkenalkan diri lewat media sosial. Aldi aktif mengunggah konten di TikTok @genZcoffeePlw dan Instagram @genzpalu, berharap bisa menjangkau anak muda yang menjadi sasaran utamanya. Ia tahu betul bahwa promosi di zaman sekarang tidak cukup dari lokasi jualan saja, tapi harus hadir juga di layar ponsel.
Menu yang ia tawarkan cukup lengkap untuk ukuran bisnis keliling. Ada kopi susu, kopi susu aren, butterscotch, hazelnut, karamel, hingga americano. Untuk non-kopi, pelanggan bisa memilih coklat, matcha, taro, thai tea, hingga lemon tea. Semua dibanderol dengan harga ramah dompet, mulai dari Rp8.000 hingga Rp12.000.
“Momen paling berkesan buat saya itu saat pertama kali bisa meracik kopi sendiri,” cerita Aldi sambil tersenyum.
Setiap hari, Aldi berpindah lokasi untuk menjangkau lebih banyak pelanggan. Siang hari ia berjualan di depan SMP 9, Jalan Zebra. Sore hingga malam, ia bergeser ke depan Rumah Sakit Budi Agung di Jalan Meluku, biasanya dari pukul enam hingga sebelas malam.
Rutinitas itu ia jalani seorang diri, tanpa karyawan. Meski begitu, ia tidak mengeluh. Justru dari situ ia merasa benar-benar mengerti proses yang ia pilih.
Saat ditanya tentang target dan keuntungan, Aldi menyebut bahwa meski baru sebulan berjalan, ia sudah mampu mencapai target penjualan dan bahkan berhasil kembali modal. Hal itu membuatnya semakin yakin untuk menambah unit usaha ke depannya. “Intinya konsisten saja. Mungkin ke depannya mau tambah satu atau dua unit lagi, biar perputaran keuangannya lebih cepat,” ujarnya optimistis.
Perjalanan Aldi memang masih sangat muda. Namun tekadnya, keberaniannya memulai dari nol, serta dukungan keluarga yang tidak pernah berhenti, menunjukkan bahwa usaha kecil pun memiliki peluang tumbuh besar jika dikerjakan dengan kemauan dan konsistensi.(mg2)
Editor : Nur Soima Ulfa