RADAR PALU - Dari sebuah ide sederhana seorang mahasiswa, sebuah brand kopi keliling kini makin dikenal di sudut-sudut Kota Palu. Salman Alfarisi, mahasiswa Universitas Tadulako, tidak pernah membayangkan bahwa keisengannya mencari nama brand lewat polling teman-teman justru menjadi langkah awal lahirnya Xavera Coffee, salah satu kopi keliling yang kian ramai dibicarakan anak muda.
Salman bercerita bahwa idenya muncul saat ia menyadari belum ada brand kopi keliling yang benar-benar menonjol di Palu. Keinginan untuk mengisi ruang kosong itu membuatnya mencoba membangun brand sendiri.
Ia menyebarkan polling sederhana kepada teman-temannya, dan nama “Xavera” menjadi pilihan yang disepakati. Dari situ, ia mantap menjadikannya identitas usahanya.
Sebagai owner, Salman tidak sekadar mengatur usaha dari jauh. Ia turun langsung menjadi barista, kasir, hingga tenaga produksi. Apa pun yang dibutuhkan agar Xavera Coffee tetap berjalan.
Di sela kesibukannya sebagai mahasiswa, ia juga sering menjadi pemateri di kegiatan sosial dan event kampus, membawa kisah perjalanan usahanya sebagai motivasi untuk teman sebayanya.
Menu Xavera Coffee pun dibuat sederhana dan terjangkau, dengan harga mulai Rp7.000 hingga Rp15.000. Beberapa menu andalan seperti gula aren, matcha, dan butterscotch menjadi favorit pelanggan. Namun di balik kesan praktis sebuah gerobak kopi keliling, Salman menyadari tantangan terbesar justru ada pada cara mempertahankan pelanggan.
Menurutnya, menjaga rasa agar tetap konsisten dan membuat pelanggan merasa nyaman adalah kunci keberlangsungan usaha kecil seperti ini.
Kerja keras itu kini mulai terlihat hasilnya. Xavera Coffee telah memiliki tujuh titik penjualan di lokasi-lokasi strategis, mulai dari SMA Madani, Fakultas Teknik Untad, hingga Jalan Hasanuddin, Bundaran Lasoso, depan GBK, dan Jalan Suharso No. 41.
Di titik-titik itu, Salman dan timnya menghadirkan kopi yang mudah dijangkau siapa saja, dari pelajar hingga pekerja yang melintas.
Untuk menjangkau lebih banyak pelanggan, Salman mengandalkan media sosial. Lewat konten di Instagram dan TikTok @xavera_coffee, ia mencoba menghidupkan karakter brand, yakni ramah, sederhana, dan dekat dengan keseharian anak muda Palu.
Baginya, promosi terbaik tetap berasal dari mulut ke mulut, tapi media sosial membuat brandnya bisa terlihat oleh lebih banyak mata.
Meski begitu, Salman tidak pernah merasa berjalan sendirian. Ia menyebut dukungan keluarga dan sahabat sebagai bahan bakar utama yang membuatnya tetap teguh ketika usaha terasa berat. Mereka adalah orang-orang pertama yang percaya, bahkan saat Xavera Coffee masih sekadar polling nama di antara teman-temannya.
Salman tidak berhenti pada tujuh titik penjualan. Ia menyimpan mimpi besar yaitu memberangkatkan orang tuanya umroh, membuka lapangan kerja bagi pelajar dan mahasiswa, hingga mendirikan sebuah kafe besar yang terhubung dengan sekolah maupun kampus.
Mimpinya sederhana, tapi tujuannya jelas, yakni usahanya dapat menjadi berkah untuk orang banyak.
“Yang penting tetap konsisten, jaga rasa, dan niatkan usaha ini membawa kebaikan,” ujarnya menutup perbincangan dengan keyakinan yang sama hangatnya dengan kopi yang ia jual.(mg2)
Editor : Nur Soima Ulfa