RADAR PALU – Yayasan Relief Islami Indonesia (Islamic Relief Indonesia) menggelar Workshop Interfaith Forum for Disaster Risk Reduction (DRR) di salah satu hotel di Kota Palu, Rabu (12/11/2025).
Kegiatan ini menjadi puncak dari rangkaian panjang program Deepening Role of Faith Leaders and Religious Places in Disaster Risk Management (DROFLERD–DRM) yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
CEO Islamic Relief Indonesia, Nanang Subana Dirga, dalam sambutan daringnya mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan tonggak penting sekaligus penanda akhir dari perjalanan panjang program penguatan peran tokoh agama dalam pengurangan risiko bencana di Indonesia.
“Program ini berawal dari inisiasi sejak 2016 melalui proyek Role of Religios Place in disaster risk reduction (RORP-DRR) yang pertama kali dilaksanakan di Padang Pariaman, Sumatera Barat, pascagempa tahun 2010. Sejak itu, program serupa berlanjut ke NTB, lalu ke Sigi dan Palu,” jelas Nanang.
Menurutnya, sejak 2019 Islamic Relief bersama mitra dan tokoh lintas agama di Sulawesi Tengah telah aktif mengimplementasikan pendekatan pengurangan risiko bencana berbasis nilai-nilai keagamaan. Program ini melibatkan berbagai elemen masyarakat dan lembaga pemerintah seperti BPBD, Dinas Sosial, serta Dinas Kesehatan.
Salah satu capaian penting dari kolaborasi ini adalah keberhasilan Kabupaten Sigi meraih penghargaan sebagai BPBD terbaik nasional dari BNPB tahun 2021, berkat inovasi dan kesiapsiagaan masyarakat melalui program Desa Tangguh Bencana serta pendirian Emergency Operation Center (EOC) yang menjadi pusat koordinasi penanggulangan bencana daerah.
Nanang menegaskan bahwa kolaborasi lintas agama merupakan kekuatan utama dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana.
“Semua agama di Indonesia mengajarkan nilai kemanusiaan dan perlindungan terhadap sesama. Karena itu, rumah ibadah harus menjadi pusat kesiapsiagaan dan mitigasi bencana,” ujarnya.
Dari kerja sama dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah yang diketuai Prof Zainal Abidin, telah lahir Panduan Penanggulangan Bencana di Rumah Ibadah yang rencananya akan disempurnakan dan diterbitkan tahun depan.
Selain menghasilkan panduan nasional, program DROFLERD–DRM juga melahirkan 30 master trainer lintas agama yang telah mendapatkan pelatihan langsung dari Pusdiklat BNPB. Para pelatih ini diharapkan menjadi penggerak utama dalam membangun budaya siaga bencana di rumah ibadah dan komunitas keagamaan masing-masing.
Di tempat yang sama, Ketua FKUB Sulawesi Tengah, Prof. Zainal Abidin, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi kepada Islamic Relief Indonesia atas kontribusi nyata dalam memperkuat peran tokoh agama dalam mitigasi bencana.
Ia mengingat kembali berbagai kegiatan yang telah digagas sejak 2021, seperti workshop pengurangan risiko bencana dan program Rumah Ibadah Tangguh yang berlangsung hingga 2025. Workshop kali ini, katanya, akan menjadi momentum lahirnya Forum Tokoh Lintas Agama untuk Pengurangan Risiko Bencana Provinsi Sulawesi Tengah.
“Forum ini akan menjadi wadah kerja sama lintas iman, agar tokoh-tokoh agama memiliki kepedulian dan tanggung jawab bersama dalam upaya mengurangi risiko bencana,” ujarnya.
Prof. Zainal juga menegaskan pentingnya menempatkan nilai kemanusiaan di atas identitas keagamaan. “Identitas tidak boleh menghalangi seseorang untuk saling menolong, menghargai, dan menghormati. Ketika kita menolong manusia, sesungguhnya kita sedang menolong ciptaan Tuhan,” ucapnya.
Ia mencontohkan pengalaman pascabencana gempa dan tsunami Palu 2018, di mana rumah-rumah ibadah lintas agama menjadi tempat berlindung bagi semua warga tanpa memandang keyakinan.
Prof. Zainal berharap forum lintas agama yang dibentuk dari workshop ini dapat bersinergi dengan BPBD dan berbagai lembaga kebencanaan lain untuk memperkuat sistem penanggulangan risiko bencana di Sulteng.
Kegiatan workshop tersebut turut dihadiri oleh Kepala Pelaksana BPBD Sulawesi Tengah Akris Fattah Yunus, Plh. Plt Kemenag Sulteng, serta Fahmi Rahmatna, Koordinator Area Islamic Relief Sulteng, yang menjadi salah satu pemateri dalam sesi diskusi.(*/ril)
Editor : Nur Soima Ulfa