Ia mengaku telah menjual Batu Akik sejak tahun 2014, tepat saat tren batu akik sedang booming.“Waktu itu ramai sekali, banyak yang ikut-ikutan beli. Sekarang tinggal pencinta batu saja yang datang,” kenang Iwan.
Menurunya penjualan Batu Akik di Palu saat ini memang menurun dibandingkan masa kejayaannya. “Sekarang sudah tidak kayak dulu. Yang datang cuma mereka yang betul-betul suka batu,” ujarnya.
Meski demikian, minat terhadap Batu Akik, terang Iwan belum sepenuhnya hilang. “Masih diminati, cuma ya sedikit menurun,” tambahnya.
Ia menyebut bahwa sejak 2017, tren Batu Akik mulai terasa menurun. Termasuk di Kota Palu. “Dari situ sudah mulai sepi,” ungkapnya.
Soal jenis batu yang banyak dicari, Iwan menyebut batu lokal di Sulawesi Tengah masih menjadi primadona. “Batu Sojol yang paling dicari. Ada juga batu Candau. Dua-duanya lokal,” jelasnya.
Sementara untuk batu impor, kata dia, hanya sedikit yang menjual karena peminatnya terbatas. Mengenai harga, Iwan mengatakan saat ini nilai jual Batu Akik di pasaran juga ikut menurun. “Menurun sih, tidak seperti dulu,” ujarnya singkat.
Pembeli yang datang pun kini didominasi oleh kolektor lama. “Banyakan orang lama, yang benar-benar pencinta Batu Akik,” katanya.
Agar bisnis tetap berjalan di tengah tren yang lesu, Iwan berupaya menjaga kualitas dan melakukan inovasi. “Sekarang kami buat juga gelang Batu Akik. Dulu kan belum ada,” tuturnya.
Selain itu, para penjual batu akik di Palu masih aktif dalam komunitas pecinta batu. “Ada komunitas namanya Gemslover. Masih jalan sampai sekarang,” kata Iwan.
Ia berharap bisnis batu akik di Palu bisa kembali bergairah seperti dulu. “Harapan saya bisa lebih baik, kalau bisa seperti awal-awal booming lagi,” ucapnya.
Namun, ia mengakui tantangan utama saat ini adalah ketersediaan bahan. “Sekarang bahan batu susah didapat. Dulu banyak, sekarang sudah tidak,” ujarnya.
Meski permintaan menurun, Iwan tetap memproduksi setiap hari. “Walaupun pembeli sepi, tetap produksi. Kadang ada juga yang datang dari Jakarta atau Jawa,” tutupnya dengan senyum optimis. (mg2)
Editor : Nur Soima Ulfa