Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Asa Penjual dan Pengrajin di Balik Redupnya Tren Batu Akik: Tetap Bertahan, Andalkan Kualitas dan Hubungan Baik dengan Pelanggan

Nur Soima Ulfa • Jumat, 31 Oktober 2025 | 20:30 WIB

TETAP SETIA: Penjual dan pengrajin Batu Akik, Hardi saat ditemui di lapak jualannya di Kawasan Nangka Bening pada  Jumat (17/10/2025). Dia menjadi salah satu penjual & pengrajin Batu Akik yang setia.
TETAP SETIA: Penjual dan pengrajin Batu Akik, Hardi saat ditemui di lapak jualannya di Kawasan Nangka Bening pada Jumat (17/10/2025). Dia menjadi salah satu penjual & pengrajin Batu Akik yang setia.
RADAR PALU-Batu Akik “tidak bersinar” seperti dulu lagi. Bukan soal batunya, tapi soal trennya. Redupnya tren Batu Akik memang terlihat beberapa tahun belakangan. Berbeda dengan periode 2014-2015 silam. Di mana demam Batu Akik menular di seluruh wilayah Indonesia. Termasuk di Kota Palu.

Di ibukota Provinsi Sulawesi Tengah, pusat Batu Akik kala itu berada di Jalan Nangka. Sepanjang jalan di kawasan Kelurahan Kamonji Kecamatan Palu Barat itu, dipenuhi lapak penjual. Di kiri kanan jalan, dengan modal meja kayu, para penjual ini berjejer memadati sempadan.

Mereka tidak hanya menjual, tapi ada juga yang memproduksi cicin dan perhiasan lainnya. Para pengrajin Batu Akik ini bermodal alat potong dan juga alat untuk mengasah batu akik yakni mesin gerinda.

Waktu berlalu, bagaikan penyakit demam yang lambat laun mendingin, tren juga ikut mendingin. Sinaran tren Batu Akik tak sekuat dulu. Meredup.

Namun tidak sedikit penjual dan pengrajin Batu Akik tetap bertahan dan berjualan di Jalan Nangka. Pedagang musiman menutup lapaknya, tetapi bagi pedagang sejati tetap ada. Olehnya, pada 18 Maret 2023, Wali Kota Palu Hadianto Rasyid meresmikan kawasan Pusat Batu Akik Nangka Bening di jalan itu.

Kawasan ini mengakomodir para pedagang dan pengrajin Batu Akik yang tersisa dan tetap eksis. Lapak-lapak kayu sebelumnya disulap menjadi toko-toko berdinding semi permanen dan dicat warna-warni. Terlihat terbih seragam dan tertata.

ANDI ALIFIA SYAFITRI  KOLEKSI SOJOL GRAIN: Kumpulan batu Sojol Grain yang sudah dipoles dan dibentuk. Siap dibuat menjadi cincin atau jenis perhiasan lainnya.
ANDI ALIFIA SYAFITRI KOLEKSI SOJOL GRAIN: Kumpulan batu Sojol Grain yang sudah dipoles dan dibentuk. Siap dibuat menjadi cincin atau jenis perhiasan lainnya.

Seorang pedagang dan pengrajin Batu Akik di Kawasan Nangka Bening, Hardi, berbagi cerita. Kepada Radar Palu dia mengungkapkan sejak tren batu akik meredup banyak pedagang memilih beralih profesi. Namun, bagi dirinya yang sudah berjualan sejak 2018 di Kota Palu, usaha ini tetap menjadi sumber penghidupan utamanya, meski pendapatannya tak lagi sebesar dulu.

“Saya mulai jualan di sini setelah bencana alam tahun 2018, Sebelumnya saya juga di Papua, waktu itu tren batu akik lagi ramai-ramainya.”ujar Hardi sambil menata dagangannya

Hardi mengakui bahwa pendapatannya kini jauh berbeda dibandingkan saat batu akik pertama kali booming. “Kalau dulu bisa dibilang setiap hari ada pembeli, sekarang paling kadang-kadang saja,” katanya.

Meski begitu, ia tetap bersyukur karena masih ada pelanggan setia yang datang mencari batu tertentu dan untuk modal, Hardi mengungkapkan bahwa kini ia tak perlu mengeluarkan dana besar seperti dulu. “Kalau dulu modal bisa jutaan untuk stok batu, sekarang cukup ratusan ribu saja. Saya ambil seperlunya, sesuai permintaan,” jelasnya.

Namun, menurutnya, harga jual batu akik saat ini sering kali tidak sebanding dengan biaya operasional. “Kadang hasil jual cuma cukup buat ganti modal. Untungnya tipis, tapi masih bisa bertahan,” katanya.

Hardi menjelaskan bahwa harga jual batu akik telah mengalami penurunan signifikan dibanding masa kejayaannya. “Kalau dulu batu jenis tertentu bisa laku sampai ratusan ribu, sekarang paling sepuluh ribu juga orang sudah mikir-mikir,” ujarnya sambil tersenyum pahit.

Meski keuntungan berkurang, ia tetap menjalankan usahanya dengan penuh semangat. “Ya, namanya usaha, tetap dijalani saja. Walaupun hasilnya sekarang tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan, tapi daripada nganggur,” tambahnya.

INOVASI: Koleksi gelang dari Batu Akik menjadi salah satu solusi penarik minat pembeli. Penjual dan pengrajin Batu Akik harus terus berinovasi agar tetap mendapatkan perhatian di tengah redupnya tren
INOVASI: Koleksi gelang dari Batu Akik menjadi salah satu solusi penarik minat pembeli. Penjual dan pengrajin Batu Akik harus terus berinovasi agar tetap mendapatkan perhatian di tengah redupnya tren

Terkait tempat berjualan, Hardi mengatakan bahwa lokasi tempatnya berdagang merupakan tempat sewa. “Iya, ini tempat sewa. Sekarang biaya sewanya malah turun dibanding beberapa tahun lalu,” ujarnya. Ia menilai penurunan harga sewa sedikit membantu karena bisa mengurangi beban biaya tetap setiap bulan. “Kalau sewanya masih mahal seperti dulu, mungkin saya sudah berhenti jualan,” katanya.

Meski demikian, penurunan biaya sewa tidak serta merta meningkatkan pendapatannya secara signifikan. “Pendapatan tetap tergantung pembeli. Kalau ramai, lumayan. Tapi kalau sepi, ya seadanya saja,” ucapnya.

Menurut Hardi, faktor utama yang membuat pendapatan pedagang batu akik menurun adalah tren pasar yang sudah berubah. “Sekarang orang lebih tertarik ke hal-hal digital, gadget, atau aksesoris modern. Batu akik sudah jarang dilirik,” katanya.

Untuk bertahan, ia kini mengandalkan strategi sederhana: menjaga kualitas batu dan membangun hubungan baik dengan pelanggan. “Saya tetap jaga kepercayaan pembeli. Kadang ada yang pesan batu khusus, saya carikan. Itu yang bikin pelanggan masih datang,” tutur Hardi menutup pembicaraan. (mg2)

Editor : Nur Soima Ulfa
#Hardi #Kelurahan Kamonji #Nangka Bening #Sojol Grain #batu akik #akik