Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Beasiswa Berani Cerdas Dinilai Kurang Ramah untuk Disabilitas

Nur Soima Ulfa • Selasa, 14 Oktober 2025 | 21:00 WIB

ANTRE SAMBIL BERDIRI: Situasi antrean calon pendaftar beasiswa Berani Cerdas di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah Jalan Setia Budi pada Senin (13/10/2025). Para pendaftar antre berdiri.
ANTRE SAMBIL BERDIRI: Situasi antrean calon pendaftar beasiswa Berani Cerdas di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah Jalan Setia Budi pada Senin (13/10/2025). Para pendaftar antre berdiri.
RADAR PALU – Sejak diresmikan program beasiswa Berani Cerdas oleh Gubernur Sulawesi Tengah pada (13/4/2025) hingga kini pendaftar membludak mencapai angka 20.854. Program tersebut bertujuan untuk membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi tingkat pendidikan SMA/SMK/SMALB hingga perguruan tinggi negeri dan swasta.

Meski beasiswa ini terbagi dari dua jalur, yakni jalur afirmasi untuk kategori kurang mampu dan jalur prestasi. Sayangnya, syarat dan ketentuan beasiswa Berani Cerdas dinilai belum ramah untuk disabilitas.

Subsidi biaya pendidikan inisiatif dari Gunernur Sulteng Anwar Hafid ini, belum mampu menjangkau disabilitas. Pasalnya, batasan usia untuk mahasiswa S1 hanya 25 tahun. Sementara tidak sedikit disabilitas memiliki usia di atas persyaratan, meski di satu sisi mereka membutuhkan bantuan pendidikan ini.

Hal ini dialami oleh sejumlah difabel di antaranya Khairunnisa (tunanetra, red), mahasiswa Universitas Alkhairaat (UNISA) Palu yang pernah cuti selama dua semester dikarenakan terkendala biaya. Dia kuliah di usia 22 tahun. Sementara, saat program Beasiswa Berani Cerdas diluncurkan, Khairunnisa tidak memenuhi syarat sebab telah berusia 27 tahun.

Adapun Sarmini (30) difabel tunanetra juga bernasib sama. “Saya ada niat untuk kuliah sudah lama, cuma semakin bersemangat lagi setelah mendengar ada beasiswa dari pemerintah. Nah, kendalanya di saya tadi, sudah tidak bisa lagi diakses karena faktor usia,” ungka[ Sarmini.

Walau di kampus negeri terdapat jalur afirmasi, tetapi harapan Sarmini harus pupus oleh ketentuan batas usia dan jarak kelulusan untuk pendaftaran mahasiswa baru. Sementara, kuliah di kampus swasta membutuhkan biaya yang lebih besar. Meski begitu, dia masih berharap suatu saat mendapatkan beasiswa penuh dari pemerintah agar bisa berkuliah di kampus swasta.

Di samping itu, difabel netra Elis Mulia Sari (29) asal kelurahan Wani, kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, merasa cita-citanya untuk kuliah sudah terlambat.

“Saya tidak bisa mengakses program dari beasiswa berani cerdas itu karena usia. Untuk beasiswa selain Bernai Cerdas, saya minim informasi tentang itu. Jujur kalau untuk kuliah, ada keinginan kuliah di negeri, tapi sayang, dengan usia sekarang itu tidak memungkinkan lagi untuk saya kuliah di negeri,” lanjut Elis.

Elis tidak melanjutkan mimpinya ke kampus swasta sebab berbagai kendala seperti jarak, transportasi, maupun biaya.

Sementara itu Ketua Komunitas Inklusif Eka Mandiri Palu, Elias Ketapi mengungkapkan dukungan dan ucapan terima kasih atas program Beasiswa Berani Cerdast. Namun, dia berharap beasiswa dari pemerintah mampu turut memprioritaskan disabilitas.

“Kadang kala teman-teman dari SLB itu sudah kadang (usia, red) 20 berapa, ya, baru dia tamat karena hambatan. Sehingga ada yang tidak sesuai standar umur harus 17 tamat SMA, ada yang 20 sampai 22 ada,” ungkap Elis saat ditemui pada Sabtu (11/10/2025).

Mereka berharap pemerintah lebih memperhatikan disabilitas. Baik yang baru lulus sekolah, berkompeten, serta memenuhi standar usia dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Serta ada dispensasi batasan usia untuk beasiswa disabilitas.

Merespon kekecewaan tersebut, Pejabat Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran Ahli Muda sekaligus Koordinator Berani Cerdas Sintia Dewi Mateka Momor buka suara.  Saat ditemui di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah (Disdik Sulteng) pada Senin (13/10/2025), mengatakan program Beasiswa Berani Cerdas tidak diskriminasi terhadap disabilitas. Namun di satu sisi, ada persyaratan yang harus dipenuhi. Termasuk batas usia.   

“Sebenarnya program ini tidak membeda-bedakan untuk yang anak-anak disabilitas maupun anak-anak yang non disabilitas. Namun, memang beasiswa berani cerdas ini tidak terlepas dari peraturan,” sebut Sintia.

Dia menerangkan terdapat Petunjuk Teknis (Juknis) yang harus dipatuhi oleh Disdik Sulteng. Di antaranya mengenai usia dan maksimal semester delapan. Batas usia bagi mahasiswa baru ialah 25 tahun. Sementara, mahasiswa aktif berusia 29 tahun 11 bulan atau belum genap 30 tahun.(cr1)

Editor : Nur Soima Ulfa
#Komunitas Inklusif Eka Mandiri Palu #Beasiswa Berani Cerdas #Disabilitas