Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Melihat Lebih Dekat Likungan SDN 26 Palu: Lantai Kelas Berdebu Harus Sering Disiram AIr, Pihak Sekolah Khawatir Kesehatan Siswa

Nur Soima Ulfa • Senin, 13 Oktober 2025 | 19:29 WIB

BERBAGI HALAMAN: Siswa SDN 26 Palu melakukan senam pagi di halaman sekolah. Mereka berbagi halaman dengan SD Inpres 2 Besusu, yang melakukan apel pagi.
BERBAGI HALAMAN: Siswa SDN 26 Palu melakukan senam pagi di halaman sekolah. Mereka berbagi halaman dengan SD Inpres 2 Besusu, yang melakukan apel pagi.

Ternyata tidak semua sekolah negeri di Kota Palu punya sarana prasarana yang mencukupi. Ada juga sekolah yang masih berjuang membenahi lingkungannya, meski terbatas dana. Sekolah itu adalah SDN 26 Palu.

LAPORAN: Nur Soima Ulfa, Radar Palu

TERLETAK di Lorong Bakso, sebuah kawasan pemukiman padat penduduk di Keluarahan Besusu Barat, Kecamatan Palu Timur, berdiri bangunan SDN 26. Sekolah ini bisa diakses melalui Jalan Dr Wahidin dan Jalan Kimaja.  Dari luar sekolah ini tampak bergaya old school.  

Ya, sekolah satu lantai ini mengingatkan pada bangunan SD di era 90-an: mulai dari pintu masuk depan ke area sekolah hingga jejeran lapak kayu penjual makanan di depan sekolah. Seperti bukan di wilayah kota jaman sekarang. 

Dari luar, sekolah terlihat tertutup dengan tembok beton dengan satu pintu masuk. Pintu ini terbilang kecil dan sempit, hanya sekitar lebar satu setengah badan orang dewasa. Membuat kesan bila di balik tembok itu areanya tidak luas-luas amat.

Benar saja, saat masuk ke dalam area sekolah, SDN 26 tidak memiliki halaman yang luas. Di sebelah utara ada gedung sekolah dua tingkat yang ternyata adalah gedung SD Inpres 2 Besusu. Dua sekolah ini berbagi lahan.

Dari luar, kedua sekolah ini terlihat tidak sama. Dari segi gedung, SD Inpres 2 Besusu lebih terasa sekolah di wilayah kota. Dua tingkat, halaman berpavin block, hingga berhias pohon palem. Struktur bangunan sekolah ini juga terlihat cocok dengan area sekolah yang minim lahan.

Sebaliknya, gedung SDN 26 Palu masih berlantai satu dan berformasi huruf L. Membentang dari selatan dan timur. Bangunan di arah timur adalah gedung lama dan tua, hanya catnya saja yang baru. Sementara bangunan di arah selatan terlihat baru dengan desain gedung sekolah yang lebih baru. 

Bila dilihat dari dekat, gedung-gedung SDN 26 hanya terdiri dari dua fungsi: ruangan kelas dan ruangan guru merangkap ruang kepala sekolah.

“Gedung baru itu dibangun Agustus 2024, Desember selesai. Pakai dana DAU dengan anggaran Rp608,6 juta,” ungkap Kepala SDN 26, Maryam saat ditemui Kamis pagi (9/10/2025). 

Dari luar gedung baru ini tampak lebih baik. Pondasinya pun lebih tinggi. Namun bila melihat secara detil, utamanya bagian dalam sekolah, maka tidak jauh lebih baik dari gedung sekolah yang lama.

Ada tiga rombongan kelas di gedung baru ini. Lantainya terbuat dari coran semen, yang kini sudah berlubang. Lubang-lubang itu menjadi masalah akibat menjadi sumber debu.

Mayam mengungkapkan acapkali siswanya harus menyiram air sebelum menyapu ruangan kelas. Itu dilakukan agar debu tidak bertebrangan kala di sapu. Tapi air siraman tidak akan bertahan lama. Ketika kering, debu akan kembali muncul. 

“Anak-anak suka menyapu, tapi saya minta harus disiram dulu. Kalau tidak abunya naik berterbangan. Saya khawatir kalau terus menerus begini kasihan kesehatan anak-anak,” ungkap Maryam.

Mantan guru di SDN 22 Palu ini lantas berharap ada bantuan perbaikan lantai kelas diganti dengan lantai keramik. Itu hal yang paling prioritas menurutnya saat ini, meski pun ada beberapa sarana prasarana yang juga dibutuhkan oleh SDN 26.

Dia mengungkapkan dulunya gedung baru SDN 26 itu adalah sekolah SD Inpres 3. Sekolah itu dimerger ke SDN 26 Palu sebelum diubah bangunannya menjadi gedung baru saat ini. Salah satu buktinya adalah bekas lantai satu ruangan yang terletak di antara gedung baru dan gedung lama SDN 26 Palu.

Maryam mengungkapkan awalnya pihaknya berharap gedung baru SDN 26 dibangun 4 ruangan dengan pondasi gedung yang dibuat cakar ayam. Sebab pihaknya membutuhkan ruang perpustakaan. Adapun pondasi cakar ayam, agar di masa depan gedung baru tersebut bisa dibangun bertingkat.

Namun pihak sekolah mendapatkan jawaban bahwa anggaran terbatas. Jadilah mereka mendapatkan 3 ruangan kelas dengan lantai semen dan tanpa pondasi cakar ayam.

“Selain perpustakaan sekolah, kami sebenarnya juga butuh ruang guru dan UKS. Kalau bisa satu ruangan yang jadi musalah. Selama ini buku-buku tersebar dilemari-lemari kelas dan siswa salat di ruangan pakai karpet,” jelas Maryam.

Kebutuhan-kebutuhan itu ungkap Maryam tidak bisa diwujudkan dengan menggunakan dana BOS. Dia memaparkan besaran dana BOS yang berdasarkan jumlah siswa itu sudah tepakai untuk kebutuhan proses belajar-mengajar setiap hari. Tidak bersisa untuk pembangunan sarana prasarana kebutuhan yang dimaksud.

“Dana BOS itu disesuaikan dengan jumlah murid, jadi sudah dimaksimalkan semaksimal mungkin untuk penggunaan kebutuhan sekolah. Tahun ini kami mengelola Rp123 juta, sementara untuk tahun 2024 itu Rp118 juta,” ungkapnya.

CAT BARU: Gedung lama SDN 26 Palu terlihat baru karena baru berbagi cat. Pihak sekolah harus pintar-pintar merawat agar lingkungan sekolah tetap nyaman.
CAT BARU: Gedung lama SDN 26 Palu terlihat baru karena baru berbagi cat. Pihak sekolah harus pintar-pintar merawat agar lingkungan sekolah tetap nyaman.

Maryam mengatakan selama ini pihaknya tidak selalu meminta bantuan pemerintah untuk perbaikan sarana dan prasarana (Sarpras) SDN 26. Dia selaku Kepsek sudah melakukan perbaikan lingkungan sekolah dengan dana swadaya, pelibatan wali siswa (orang tua murid), dan terkadang menyisihkan dana pemiliharaan BOS untuk biaya perbaikan lingkungan sekolah.

Misalnya, menyemen jalan masuk sekolah yang sebelumnya selalu becek. Ada juga membangun satu WC saat dirinya pertama kali menjabat sebagai Kepala SDN 6 Palu.  “Dulunya sama sekali tidak ada WC. Tapi sekarang Alhamdullilah sudah dibangunkan 3 WC, biayanya itu Rp130,9 juta dari Disdikbud,” paparnya.

Selain itu, pada 2 September lalu pihak sekolah dan orang tua murid bahu membahu membongkar Huntara kelas di halaman sekolah. Huntara kelas itu dulunya dipakai sebagai kelas 3 dan kelas 4. Sebelum adanya gedung baru.

Maryam mengungkapkan ada beberapa orang tua murid yang berprofesi sebagai tukang menyumbangkan tenaganya. Dia menyediakan makan, minum, dan uang rokok dari kantong pribadinya. 

Tasso dan seng serta beberapa bahan bangunan bekas Huntara itu digunakan jelas Maryam, akan digunakannya untuk rencana pembangunan lahan parkir motor guru dan juga membuat atap untuk perpustakaan terbuka sekolah. Perpustakaan ini bersifat sementara karena pihak sekolah ingin bisa mengikuti lomba perpustakaan.

Ada satu hal lagi yang menjadi beban pikirannya. Yakni akses pintu masuk kompleks sekolah yang begitu kecil. Seingatnya lebar pintu masuk hanya sekitar 1,2 meter dan berbahaya bila terjadi gempa atau hal lainnya, yang membuat siswa harus evakuasi ke luar sekolah. Di mana ada 123 siswa SDN 26 dan SD Inpres 2 Besusu memiliki 145 siswa.

Menurut Maryam, proposal pembuatan jalan akses sekolah yang layak sudah dimasukan ke pihak Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Palu. Namun belum ada tindak lanjut. Pembangunan Sarpras seperti ini hanya bisa dilakukan bila ada bantuan anggaran dari Pemkot Palu.

“Kalau untuk swadaya orang tua murid saya tidak terlalu berharap, karena sesuai data yang kami punya, kemampua finansial menegah ke bawah. Rata-rata orang tua murid di sini (SDN 26, red) ada yang pemulung, ada yang jual kue keliling, ada lebih banyak tukang harian,” ungkap Maryam.

 Dia pun berharap adanya perhatian dari Wali Kota Palu dan juga jajaran dinas Pemkot terkait. Bila perlu, Maryam mengajak pejabat agar bisa datang berkunjung dan melihat langsung situasi sekolah. Dengan begitu, mungkin saja hati mereka tergerakk untuk membantu siswa.

 “Pak wali cobalah ke sini satu kali,” harapnya.(*)

Editor : Nur Soima Ulfa
#Gedung sekolah #SDN 26 Palu #SDN 26 #sekolah