RADAR PALU - Kelurahan Birobuli Utara mencatat penurunan signifikan kasus stunting dalam dua tahun terakhir. Dari 35 anak pada tahun 2024, dari jumlah tersebut kini tersisa hanya 14, bahkan tujuh diantaranya tengah menjadi fokus utama intervensi di Kelurahan Birobuli Utara.
Lurah Birobuli Utara, Rini Suwarni, S.H., M.H., menjelaskan bahwa penanganan stunting menjadi prioritas karena menyangkut masa depan generasi bangsa.
“Dasarnya sederhana, anak-anak kita harus sehat. Mereka adalah generasi penerus bangsa yang kelak akan menjadi pemimpin yang lebih baik lagi dari kita,” ujarnya.
Menurut Rini, penurunan angka stunting tidak terlepas dari kerja sama antara pemerintah kelurahan, Puskesmas, kader posyandu, serta PKK.
“Alhamdulillah, dari 35 kasus, turun menjadi 20, dan tahun ini tinggal 14. Saat ini fokus kita pada 7 anak berusia di bawah dua tahun agar tidak berlanjut menjadi stunting,” jelasnya.
Sejumlah program sudah dijalankan untuk menekan angka stunting. Salah satunya adalah pemberian makanan tambahan (PMT) setiap hari kepada anak-anak berisiko.
“Setiap pagi, makanan bergizi diantar langsung ke rumah anak-anak yang rentan. Saya pun sering turun langsung untuk memastikan makanan itu benar-benar dikonsumsi oleh anak-anak atau hanya di konsumsi orang tua bahkan keluarga yang berada di rumah,” kata Rini.
Selain itu, Posyandu rutin mengawasi pertumbuhan anak melalui pengukuran berat dan tinggi badan tiap bulan. Pemerintah kelurahan juga menggandeng PKK dan Puskesmas untuk menyalurkan vitamin, susu gratis, serta pelatihan gizi melalui program Dapur Stunting. Dalam program ini, ibu-ibu diajari cara mengolah bahan makanan sederhana menjadi hidangan sehat untuk anak dan ibu hamil.
Upaya kelurahan juga mendapat dukungan pemerintah kota berupa anggaran tambahan, serta kontribusi CSR dari perusahaan seperti United Tractors. Mereka menyalurkan bahan pangan bergizi, diantaranya telur, untuk anak-anak berisiko stunting melalui posyandu.
“Peran kader Posyandu dan PKK sangat besar. Ada delapan Posyandu di Birobuli Utara, semuanya aktif mendeteksi dini anak-anak yang berisiko dan segera melakukan intervensi,” jelas Rini.
Meski angka stunting terus menurun, tantangan tetap ada. Rini mengungkapkan masih banyak orang tua yang kurang memahami bahaya stunting.
“Sering kali bantuan makanan untuk anak justru dikonsumsi oleh keluarga, bukan anak yang seharusnya mendapatkan gizi tambahan. Karena itu kami turun langsung agar tepat sasaran,” tegasnya.
Rini berharap program penanganan stunting tidak berhenti di tengah jalan. “Harapan saya, program ini tetap jadi prioritas utama setiap tahun dan jangan sampai ada lagi anak-anak yang masuk di kategori stunting. Kalau bisa, dari tujuh yang tersisa sekarang, semuanya bisa keluar dari risiko,” tutupnya.(***)
Editor : Mugni Supardi